Tak ingin otak beku, maka kami jadikan pena sebagai microwave. Kami, sekumpulan manusia pencinta cerita.
Mau bercerita bersama? Mudah saja. Tinggalkan alamat email-mu, kami punya tema baru tiap minggu.
Mari menulis!

Rabu, 20 Juli 2011

AGNES

Aku tak mau kalau aku dimadu…

Pulangkan saja ku pada orang tuaku..

Kau lihat itu, banci gagah yang sedang bernyanyi, mengamen, di depan rumah Pak RT? Riang sekali yah dia? Padahal hari terik begini. Digoyangnya itu krecekan, alat musik yang bergemirincing jika kita goyang. Apa namanya? Betul krecekan kah? Entah. Tambah riang dia sambil tambah pamrih menanti Pak RT yang tak kunjung keluar. Oh, akhirnya terbuka juga pintu itu. Iya, itu Pak RT yang keluar mengenakan sarung ungu sambil memegang pipi kirinya.

Waaahhh.. lihat!lihat! Sendal terbang. Hahahaha… UFO!! Awas! Puuuff.. Untung lincah itu banci yah.. Nyaris saja sandal terbang Pak RT mendarat di kepalanya. “Dasar gila!” kau dengar itu si banci memaki Pak RT sambil lari terlunta-lunta. “Dasar banci ‘gak tahu diri! ‘Gak tahu apa orang lagi sakit gigi!!”, itu Pak RT ikut-ikutan memaki juga.

“Ih, sial amat sih hari ini. Bukannya dapet uang malah dapet sandal” Duduk si banci di bawah pohon beringin, di atas kursi kayu di samping tukang cendol yang tertawa melihatnya mendumal. “Cendol ‘gak?” tawar tukang cendol. “Gratis yah?” harap si banci. “Enak aja gratis” Ada-ada saja itu banci masa minta gratisan. Eh, dia malah melamun. Si tukang cendol tak tega mendapati temannya itu, disiapkan segelas cendol lebih banyak dari biasanya kemudian disodorkan ke depan wajahnya. “Eh, Gue ‘gak ada uang ah! Besok aja belinya”,si banci takut disuruh bayar rupanya. “Itu buat loe, gratis!”, jelas tukang cendol dengan nada sok ketus. “Aduh, baik banget sih loe. Makasih ya say..” langsung di santap segelas cendol persahabatan itu.

“Agnes, tumben udah pulang”, sapa seorang tetangga, Ibu Inah, yang sedang menjemur pakaian. Oh, Agnes namanya. “Iya Bu, capek ah mau istirahat aja” itu si Agnes jawab sambil masuk ke sebuah rumah kecil, kayu, beratap pendek. Eh, kenapa si Agnes senyum-senyum sendiri gitu? Kau lihat tidak? Sambil berganti pakaian dia bersiul lagunya Ungu, kalau tidak salah. Kurus yah ternyata badannya, tapi cukup berotot juga. Digantungnya pakaian dinas tadi, kini tubuh kurus berototnya dilapisi kaos ketat dan celana pendek. Berjalan ia menuju dapur nan mungil, diteguknya segelas air putih, segelas besar tepatnya. Itu gelas terbuat dari aluminium sepasang dengan tutupnya. Lanjut dia ke kamar mandi yang terhubung langsung dengan dapur, diambilnya papan bergelombang untuk mencuci dan kursi plastik pendek, mencucilah dia sambil bersenandung. Bukan lagu Ungu, lagu dangdut sepertinya. Kau tahu lagu itu?

Setelah bangun dari tidur sore dan mandi, Agnes berdandan rapi, tapi tidak menor seperti tadi ketika mengunjungi Pak RT, dandanannya terlihat lebih halus sore ini. Selesai dengan dirinya, dirapikan juga rumahnya. Eh, itu ada sms di hpnya. Dibacanya sambil tersenyum, bersenandung lagi ia sambil membuat teh manis di dua gelas besar. “Tinggal esnya deh!” itu si Agnes bicara sendiri, bukan sama kita. Bersenandung terus ia sambil keluar rumah, ke dua rumah di sebelah kiri rumahnya, “Bu Mince, Agnes mau es batu dong!” katanya dengan nada manja. “Berapa Nes?” itu pasti Ibu Mince yang bales yah. “Satu aja!” jawab Agnes sambil meletakkan koin lima ratus rupiah di atas meja di halaman rumah Ibu Mince. ”Trims ya Bu”, katanya sambil mengambil batu es ukuran besar berplastik transparan. Dihancurkannya batu es menjadi berkeping-keping, lalu dimasukkan ke dalam teh manis tadi, “jadi deh es teh manis!” katanya.

Itu pria yang sedang duduk di ruang tamu Agnes, Bang Tagor namanya. Bang Tagor sepertinya baru pulang bekerja karena terlihat lelah sekali dia. Masuk rumah langsung disambut senyum, kecupan dan es teh manis. Duduk mereka disana sedari tadi sambil berbicara dan bersenda gurau. Kau perhatikan tidak? Si Agnes terlihat berbahagia sekali, wajahnya cerah ceria begitu, tangannya tak lepas mengapit Bang Tagor mesra, matanya berbinar memandangi pria kekar berkulit gelap itu. ”Ayang, mau makan apa malam ini?” tanya Agnes pada Abangnya. ”Aku gak bisa makan sama kamu malam ini, Poltak ulang tahun minta makan di Mc.D” jelas si abang. Oh, kasihan Agnes wajahnya langsung kecewa. ”Tapi besok ayang makan disini sama Agnes kan?” tanyanya sambil berusaha menghibur diri. ”Aku, ada sesuatu yang mau kubicarakan sama kau Nes” ucap Bang Tagor sambil menggeser posisi duduknya hingga bisa menatap wajah Agnes. Agnes ikut-ikutan mengatur posisi duduknya hingga bisa menatap wajah bang Tagor. Perasaanku saja atau kita memang bisa mendengar degup jantungnya Agnes, teman? ”Begini, abang sudah habis merenung cukup lama. Mengenai hubungan kita ini, sepertinya tak bisa lagi kulanjutkan Nes. Tak teganya aku sama istri dan anak-anakku” Aduh, mulai tak tega aku melihat wajah si Agnes. ”Maksud Abang? Agnes diputusin gitu?”, tanya Agnes minta kejelasan. Eh, sekarang aku juga mulai tak tega lihat wajah si Abang, menunduk gitu dia. ”Anakku Nes, sudah besar kali dia. Tak teganya aku. Istrikupun baik kali, walau sering kali kusakiti dia, tapi tetap mengabdi padaku. Kau mengertilah Nes. Bukannya tak cinta lagi aku sama kau, tapi tak sanggup lagi aku menjalani hidup kayak gini”
Eh, itu air mata Agnes mulai menetes. Kalian lihat tidak? ”Tapi apa salah Agnes bang? Agnes mah gak masalah dimadu. Agnes seneng kok biar Abang cuma seminggu dua kali nengokin Agnes. Agnes tuh sayang banget sama Abang. Abang jangan pergi ya..” rajuknya sambil merangkul tangan si Abang. ”Maafkan aku Nes, kali ini harus benar-benar aku mengambil sikap. Kau juga pasti bisa dapat cowok lain yang lebih baik dari aku,” jelas si Abang. Yah, si Agnes kenapa menangis meraung-raung begitu? ”Agnes gak mau Bang, pokoknya Agnes mau tetep sama Abang. Agnes mendingan mati aja daripada ditinggalin Abang” rajuknya sambil mulai berteriak. ”Agnes sayang, kau harus percaya kalau Abang selalu sayang kau. Tak bolehlah kau mati, macam mana Abang bisa lanjut hidup kalau kau mati,” bujuk Bang Tagor sambil memeluk Agnes. Kalian tahu, biasanya aku jijik melihat adegan sesama jenis seperti ini, tapi mengapa aku ikut-ikutan ingin nangis ya? Apalagi lihat itu Bang Tagor menciup kening Agnes. Handphone siapa itu yang bunyi? Oh, Bang Tagor. Dari anaknya yang ulang tahun itu, sepertinya Bang Tagor bapak yang baik ya.. Kalian juga berpikir begitu? ”Agnes, aku harus pergi sekarang, si Poltak sudah menungguku di rumah. Tak usah lagi kau cari aku, lanjutkanlah hidupmu. Dan janganlah kau pikir tentang mati, hanya orang bodohnya itu. Aku pergi dulu sayang,” pamit bang Tagor sambil memeluk lalu mencium Agnes. Agnes sibuk menangis, tak kuasa mengucap kata. Dipeluk si Abang erat, dibalasnya ciuman si Abang, lembut, mesra hingga penuh nafsu dan amarah. Si Abang ikut ritme Agnes, melepas gairah mereka, seperti tak ada orang lain yang melihat, seperti tak ada kita. Eh, hp si Abang bunyi lagi, mengganggu saja. ”Aku pergi dulu sayang, I love you” sepertinya itu salam terakhir untuk Agnes. Agnes kenapa diam membeku begitu? Kenapa tak dikejar si Abang, dipeluk dan dibujuk agar tak pergi?

”Nes, tumben udah jalan pagi-pagi begini”, itu Ibu Inah yang lagi-lagi sedang menjemur pakaian. ”Iya Bu, lagi semangat neh Agnes. Jalan dulu ya!”, jawab Agnes riang. ”Hati-hati Nes!” pesan Bu Inah. Melenggang Agnes dengan ringan mencari uang. Walau lelah dan sering diejek teman-temannya karena caranya mencari uang, tapi Agnes tetap memilih bernyanyi daripada berdiri di etalase malam seperti yang lain. Agnes sudah mengecewakan Emak Bapak dengan menjadi Agnes, gak perlu lah Agnes tambah nyakitin Emak Bapak dengan kerja gak bener. Lagian Agnes bahagia kok, bisa nyanyi tiap hari kaya artis dapet duit pula, punya temen-temen yang perhatian sama Agnes, punya Bang Tagor yang melengkapi hidup Agnes, walau sekarang Bang Tagor lagi ninggalin Agnes, tapi Agnes yakin kalau suatu hari nanti Bang Tagor bakal balik lagi. Agnes memang lebih beruntung dari temen-temen Agnes yang lain, dari Bella, Thalia, Jelita, Dinda, Tiara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar