Tak ingin otak beku, maka kami jadikan pena sebagai microwave. Kami, sekumpulan manusia pencinta cerita.
Mau bercerita bersama? Mudah saja. Tinggalkan alamat email-mu, kami punya tema baru tiap minggu.
Mari menulis!
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

Nietzsche

"Manusia ingin berkomunikasi dengan sesama, namun terpenjara bahasa" (Nietzsche)

Jerman, 20 Desember 2010

Desember kali ini lebih dingin bila dibandingkan dengan tahun lalu. Dinginnya sampai menusuk ke tulang. Jalanan berwarna putih semua tertutup salju. Jalan raya tidak disarankan pemerintah untuk digunakan karena licin sekali, bisa membuat roda mobil selip, berbahaya. Itu sebabnya stasiun kini dipenuhi oleh orang-orang yang ingin merayakan natal di luar kota.

Para penumpang pergi berpasangan, entah dengan kekasihnya atau dengan anggota keluarganya tapi tidak dengan perempuan yang duduk sendiri di bangku dekat iklan minuman beralkohol itu. Ia sendirian tapi tidak terlihat kesepian. Wajahnya memerah, bisa disebabkan dingin bisa disebabkan pesan singkat yang baru saja ia baca di telepon genggamnya. Ia mengencangkan syal yang terlilit anggun dilehernya. Ia terlihat manis dengan penutup telinganya yang bergambar kelinci. Bermata sipit, pasti berasal dari benua Asia, sepertinya China.

Tunggu sebentar, sepertinya ada pengagum lain yang diam-diam mengamati tingkahnya. Ku coba membaca pikirannya. Oh, dia tertarik dengan perempuan itu. Ditelitinya dengan seksama lalu semakin ia terkesima dengan penemuannya, kecantikan oriental. Ia berjalan menghampirinya, duduk di bangku tepat di depannya. Sesekali ia mencuri pandang. Berharap menciptakan momentum untuk menyapanya.

Perempuan itu sama sekali tidak mengacuhkan keberadaannya. Ku coba menyusupi alam pikirannya. ”Filipo! Aku sudah tiba di tempat Ka Atu. Kangen kamu”, kata itu yang pertama terlintas di benaknya.

Sudah memiliki kekasih rupanya. Tak usah tahu sang pengagum dengan kenyataan itu. Aku ingin mengamati kembali dari jauh, agar lebih jelas melihatnya.

Sang pengagum ragu-ragu untuk menyapanya, dari lahir hingga sebesar ini hanya bahasa Jerman yang ia kuasai, bahasa Inggris pun tidak lancar kalau tidak mau dibilang tidak bisa. Ia beranggapan Mandarin adalah bahasa ibu perempuan itu. Bagaimana mungkin ia menyapanya. Sekedar menanyakan namanya saja, ia tak tahu cara mengungkapkannya.

Tegur tidak tegur tidak. Bimbang.

Teringat akan perkataan ibunda, “Cupid, hanya mengamati tidak berpartisipasi!”. Maka di sini, ku terdiam menunggu.

Sabtu, 27 November 2010

Pornografi

Alkisah, berkumpul mereka, sepuluh orangan. Di satu ruangan ber-AC, mewah dengan kursinya yang empuk. Bapak-bapak semua di situ, dengan selipan dua orang ibu-ibu. Mereka tengah berdebat, tentang penyusunan suatu undang-undang yang tengah akut: Soal pornografi. Mereka itu anggota DPR, komisi X. Saking tak rampungnya mereka membahas pornografi sejak setahun lalu, rakyat menjulukinya komisi XXX.

Ketua Komisi, Tuan Supardjo namanya, membuka sidang untuk keduapuluhlima kali: “Ya, hadirin, bapak-ibu yang terhormat. Kita akan memulai sidang ini kembali. Oke, yang terhormat Bapak Dadang, tolong bacakan rumusan terakhir undang-undang anti pornografi.”

Yang dipanggil Bapak Dadang beranjak dari duduknya. Berdiri dan membacakan apa yang diminta:
“Pasal satu. Pornografi adalah kegiatan yang menyertakan gambar dimana dalam gambar tersebut memuat bagian tubuh wanita, yang antara lain vagina dan payudara, serta manapun yang dapat membangkitkan hasrat pria. Atau, pornografi berarti menyertakan gambar dimana dalam gambar tersebut memuat adegan hubungan intim antara pria dan wanita, serta apapun yang membangkitkan hasrat pria.”

“Keberatan!” seorang wanita beranjak, Ibu Sugeng namanya, “Lah kok pornografi ini soal hasrat pria melulu. Wanita toh juga bisa terangsang. Kenapa gak dilengkapi dengan bagian tubuh pria, yang bisa membangkitkan hasrat wanita?”

Baiklah, kata Tuan Supardjo, tolong Bapak Dadang, tambahkan, dan kemudian bacakan. Nanti kita sama-sama ukur kadar kepatutan:

“Pasal satu. Pornografi adalah kegiatan yang menyertakan gambar dimana dalam gambar tersebut memuat bagian tubuh wanita dan pria, serta manapun yang dapat membangkitkan hasrat pria atau wanita…”

“Rancu! Rancu!” Pak Abdul sekarang bicara, wakil dari Partai Islam Nusantara. “Mosok gambar aja? Gimana kalau ada yang bugil di tengah jalan? Atau dangdut seronok? Mereka juga kena dong. Perusak moral bangsa. Bahaya kalau dibiarkan!”

Coba beri kami usul kata-kata, Pak Abdul. Kata Tuan Supardjo:

“Hmmm gimana ya, tambahkan: gambar dan aktivitas”

“Oke,” Bapak Dadang menambahkan dan kemudian membacakan, “Pasal satu. Pornografi adalah kegiatan yang menyertakan gambar dan kegiatan…”

Hahaha. Seorang tertawa di ujung sana. Ia bernama Pak Jusuf, seorang pakar bahasa. “Kata Kegiatan banyak amat. Gimana sih kalian? Coba dong, disederhanakan, bilang aja, pornografi adalah gambar dan kegiatan yang …”

“Oke,” Bapak Dadang mengiyakan, matanya kelelahan, tapi ia profesional. “Sebentar,” semua menengok, ke arah Pak Agung, seorang perwakilan dari Bali, “Di provinsi kami, kalian tahu. Bule-bule telanjang adalah daya tarik. Turis-turis kesini mana mau dilarang tonjolkan payudara!”

“Di saya juga,” Pak Toni sekarang angkat bicara, seorang Papua, “Masih banyak rakyat pakai koteka, mana mungkin mereka dibajuin!”

“Baik, baik,” Tuan Supardjo menengahi, “Bapak Dadang, kira-kira bagaimana sekarang bunyinya?”

“Saya bingung pak, jadi sekarang pornografi gak berlaku untuk semua provinsi?”

“Gimana, Pak Jusuf?”

Suasana jadi agak ricuh, apalagi ibu-ibu jadi angkat bicara, “Setelah dipikir-pikir, porno enggaknya kan gimana otak pria, betul ga?”

Tuan Supardjo sebagai Ketua Komisi berteriak lantang. Katanya, sidang kita tunda hingga bulan depan. Semua diam. Hening.

Pak Dadang bicara pelan, membelah kesunyian: “Pak, saya ngerti mana yang porno mana yang tidak. Tapi kok tambah ditulis tambah pusing ya?”

Tuan Supardjo tak menjawab. Ia masih ingat amanat rakyat. Agenda ini mesti selesai, karena sudah menghabiskan ratusan juta untuk konsumsinya saja.


Hari Baneharagiaka-Ku

Di sampingku mama, berkonde dan berkebaya. Tak henti tersenyum dan mengucap terima kasih sedari tadi. Raut bangga jelas tergurat. Syukurlah.

Hari ini, jariku tak kosong lagi, ada cincin emas melingkari. Cincin pertunangan dengan pria yang tentunya akan kunikahi. Menikah, sudah waktunya. Karena usia sudah tak lagi muda, aku setuju. Apalagi pria-pria tak sebanyak dulu, tak mengapa, pilihan terbatas tak boleh menghalangi kewajiban ini. Pilih saja dari mereka yang ada. Mama sudah menjatuhkan talak, harus menikah tahun depan katanya; tak ada sekolah lagi apalagi kerja di luar negeri. Masa usia segini masih cekakak cekikik, sudah bukan masanya lagi, kata mama. Hukum adalah mama, mama adalah hukum.

Tak henti dia membelai tanganku sedari tadi, sembunyi-sembunyi. Suami. Sekarang diriku sudah bersuami. Terlihat tampan dia dengan pakaian adat Jawa. Tak salah pilih sepertinya.

Itu dia, pria yang kupilih bukan karena terpaksa, tapi benar karena kusuka. Kukatakan sedari awal, aku ingin menikah; kalau setuju mari lanjut, kalau tidak bye bye good bye. Tidak cocok itu biasa, bukan? Pasti bukan diriku seorang yang tak benar-benar sreg dengan pasangan. Berselisih, cemburu apalagi, white lie juga bagian dari cerita cinta. Kadang memang terasa menyiksa, tapi bukan berarti harus disudahi. Mana ada dua orang bisa benar-benar bersinergi? Aku dan mama saja tak bisa dibilang benar-benar saling mengerti. Tak ada jalan ke belakang, cincin sudah terpasang.

Itu mereka, sahabat-sahabatku. Berseragam brokat, menawan hasil solek sedari pagi, berlenggok gaya mengabadikan hari ini di kamera. Hari bahagiaku.

Benar juga argumen mama; ini pernikahan terakhir, kamu anak paling kecil. Masa tidak ada pesta? Apa nanti kata saudara-saudara? Dan kuhabiskan sembilan bulan terakhir untuk mewujudkannya, tak ada lagi belanja, karaoke, sushi sahimi, lulur bersama teman-teman, apalagi liburan, tak perlu lagi. Prioritas hidupku terguling bergilir. Bersenang-senang tak akan ada habisnya, cerita bersama sahabat pun sudah terlalu banyak kurasa. Aku tak mau seperti mereka, go with the flow, seperti tak punya tujuan selanjutnya. Mau sampai kapan?

Bunga-bunga ungu tampak cantik membingkaiku, pelaminan nan indah, kebaya nan megah pun dengan bangga mebungkusku, tamu-tamu memukau di depan mata, alunan musik romantis syalala menggema, aku memang pantas mendapatkan ini semua. Mama terlihat bangga, suamiku bahagia luar biasa, saudara-saudara tersenyum tak ada hentinya, para sahabat pun turut berpesta, tentu saja. Ini hari pernikahanku, hari bahagiaku. Tapi, mengapa aku merasa seperti ada di neraka?


Nietzsche

"Manusia ingin berkomunikasi dengan sesama, namun terpenjara bahasa" (Nietzsche)

Jerman, 20 Desember 2010

Desember kali ini lebih dingin bila dibandingkan dengan tahun lalu. Dinginnya sampai menusuk ke tulang. Jalanan berwarna putih semua tertutup salju. Jalan raya tidak disarankan pemerintah untuk digunakan karena licin sekali, bisa membuat roda mobil selip, berbahaya. Itu sebabnya stasiun kini dipenuhi oleh orang-orang yang ingin merayakan natal di luar kota.

Para penumpang pergi berpasangan, entah dengan kekasihnya atau dengan anggota keluarganya tapi tidak dengan perempuan yang duduk sendiri di bangku dekat iklan minuman beralkohol itu. Ia sendirian tapi tidak terlihat kesepian. Wajahnya memerah, bisa disebabkan dingin bisa disebabkan pesan singkat yang baru saja ia baca di telepon genggamnya. Ia mengencangkan syal yang terlilit anggun dilehernya. Ia terlihat manis dengan penutup telinganya yang bergambar kelinci. Bermata sipit, pasti berasal dari benua Asia, sepertinya China.

Tunggu sebentar, sepertinya ada pengagum lain yang diam-diam mengamati tingkahnya. Ku coba membaca pikirannya. Oh, dia tertarik dengan perempuan itu. Ditelitinya dengan seksama lalu semakin ia terkesima dengan penemuannya, kecantikan oriental. Ia berjalan menghampirinya, duduk di bangku tepat di depannya. Sesekali ia mencuri pandang. Berharap menciptakan momentum untuk menyapanya.

Perempuan itu sama sekali tidak mengacuhkan keberadaannya. Ku coba menyusupi alam pikirannya. ”Filipo! Aku sudah tiba di tempat Ka Atu. Kangen kamu”, kata itu yang pertama terlintas di benaknya.
Sudah memiliki kekasih rupanya. Tak usah tahu sang pengagum dengan kenyataan itu. Aku ingin mengamati kembali dari jauh, agar lebih jelas melihatnya.

Sang pengagum ragu-ragu untuk menyapanya, dari lahir hingga sebesar ini hanya bahasa Jerman yang ia kuasai, bahasa Inggris pun tidak lancar kalau tidak mau dibilang tidak bisa. Ia beranggapan Mandarin adalah bahasa ibu perempuan itu. Bagaimana mungkin ia menyapanya. Sekedar menanyakan namanya saja, ia tak tahu cara mengungkapkannya.
Tegur tidak tegur tidak. Bimbang.

Teringat akan perkataan ibunda, “Cupid, hanya mengamati tidak berpartisipasi!”. Maka di sini, ku terdiam menunggu.