Tak ingin otak beku, maka kami jadikan pena sebagai microwave. Kami, sekumpulan manusia pencinta cerita.
Mau bercerita bersama? Mudah saja. Tinggalkan alamat email-mu, kami punya tema baru tiap minggu.
Mari menulis!
Tampilkan postingan dengan label Anast. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anast. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2011

T H E H A N G O V E R

“What happen in Vegas, stay in Vegas”

Ada peraturan tak tertulis yang hampir semua penikmat dunia gemerlap malam tahu: pastikan ada teman yang tidak ikutan teler untuk menjaga dan mengendalikan situasi. Apa yang akan terjadi jika dalam satu rombongan semuanya mabuk? The Hangover sedikit banyak menceritakan kerumitan yang terjadi setelahnya.

Merayakan malam-malam terakhir sebelum Doug menikah, dua sahabatnya Phil dan Stu mengatur liburan tak terlupakan ke Vegas. Tiga sahabat ini juga ditemani oleh Alan, calon kakak ipar Doug. Berempat mereka berkendara menuju Vegas, kota bergelimang dosa. Menginap di suite room dengan menggunakan credit card Stu yang nantinya akan dibagi rata setelah tagihan keluar. Mengenakan jas lengkap dan siap menikmati hiburan malam. Namun apa yang terjadi? Keesokan harinya mereka terbangun dalam kondisi hangover setelah mabuk berat. Tanpa teringat apa yang telah terjadi, mereka mendapati kamar yang sangat berantakan, gigi depan Stu hilang satu, macan di dalam kamar mandi. Dan yang terburuk, sang calon mempelai pria Doug menghilang entah kemana. Mereka hanya memiliki waktu terbatas untuk mencari tahu apa yang terjadi dan membawa Doug ke altar.

Saya melewatkan film ini di bioskop karena saya menyangka akan mendapati film konyol yang penuh adegan slapstick a la Hollywood yang tidak cocok dengan selera saya. Ternyata saya keliru, saya sangat menikmati setiap menit film ini. Persahabatan para pria yang dikemas manis. Phil yang blak-blakan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap calon istri Stu yang dinilai terlalu mengendalikan sahabatnya. Doug yang sangat berterimakasih atas rencana malam bujangnya walaupun akhirnya harus menderita karena kulitnya terbakar. Alan, pendatang baru di gank mereka membuat warna sendiri dengan kekonyolannya.

Jika saya tersenyum merona ketika menonton The Sisterhood of The Travelling Pants karena persahabatan perempuannya mengena sekali, maka saya terbahak-bahak ketika menonton film ini sembari berharap seandainya saya beruntung memiliki calon pasangan dengan paket persahabatan seperti di film. Siapa yang tidak mau memiliki suami seperti Phil yang walaupun terlihat bengal namun masih mau menggendong dan memeluk anaknya hingga tertidur di pangkuannya.

Satu lagi yang pasti, kali ini saya tidak akan melewatkan The Hangover II di bioskop kesayangan... bersama sahabat perempuan saya pastinya ^o^v

Kamis, 18 Agustus 2011

H A R M O N Y


One liter of tears? It’s definitely cry me a river!

Film Korea ini menceritakan segelintir kehidupan narapidana wanita di dalam penjara yang tergabung dalam kelompok paduan suara.

Salah satunya adalah Jeong Hye, ia melahirkan bayinya ketika ia dalam masa tahanan dan diberikan kesempatan untuk merawat anaknya sebelum si bayi diambil oleh negara untuk kemudian diadopsi. Ia harus menyerahkan hak terhadap bayinya setelah ia dihukum karena membunuh suami yang kerap menyiksanya. Ada lagi sosok Moon Ok, wanita setengah baya yang terkena hukuman mati namun tak kunjung dieksekusi setelah bertahun-tahun. Ia juga didakwa atas tindakan terencananya untuk membunuh suami beserta selingkuhannya. Sebagai pemimpin paduan suara yang berpengalaman sebagai guru musik, ia memilih para anggota dan melatih vokal mereka. Yu Mi merupakan anggota paduan suara yang paling terakhir bergabung. Perempuan muda ini dihukum setelah membunuh ayah tirinya yang telah berkali-kali melecehkan dirinya. Peristiwa itu membuatnya trauma dan menjadi orang yang tertutup dan tidak mudah membaur dengan lingkungan sekitarnya.

Seperti kado natal di bulan Juni, mereka diundang untuk mengisi acara di kompetisi paduan suara dengan iming-iming kesempatan untuk bertemu dengan anggota keluarga mereka. Jeong Hye berharap ia dapat melihat anaknya lagi setelah diadopsi. Moon Ok merindu kedua anaknya yang harus ia tinggalkan sejak mereka kecil karena harus menunaikan hukumannya. Hubungan ibu dan anak ini tidak berjalan harmonis. Sementara Yu Mi berkesempatan untuk bertemu dengan ibunya yang selalu ia tolak untuk bertemu sejak ia dipenjara.

Singkirkan jauh-jauh ekspektasi melihat ketampanan Lee Min Ho, kemisteriusan Won Bin apalagi senyum hangat Bae Yong Jun. Film ini hampir semuanya diisi dengan artis perempuan dengan wajah yang biasa saja tapi kemampuan akting yang luar biasa. Penikmat film Korea pasti sudah pernah menonton film ini lalu kemudian merekomendasikan kepada orang-orang di sekelilingnya. Bukan hanya karena film ini bagus, tapi juga karena tidak akan sanggup menahan kepiluan sesaat setelah menonton. Film ini dengan sukses membuat saya megap-megap kehabisan napas menyimak kehidupan para tokohnya. Bagaimana nelangsanya Jeong Hye ketika harus menyerahkan anaknya. Bagaimana getirnya Moon Ok ketika putusan eksekusi akhirnya menghampirinya dan kepanikan tanpa kata teman-teman satu selnya setelah mengetahui waktunya telah tiba. Bagaimana rasa malu menghampiri ketika rombongan paduan suara ini harus digeledah karena ada pengunjung yang kehilangan perhiasannya di toilet yang kebetulan sama-sama mereka pakai. Alur yang cepat membuat film ini tidak membosankan ketika disaksikan. Kita bagaikan menaiki wahana roller coaster di Dunia Fantasi, terasa seperti mau mati. Berlebihan? Mungkin saja. Tonton dulu baru rasakan sensasinya!

Picture

Jumat, 22 Juli 2011

Merindu

Pernah mendengar tentang bunker?

Betul, bangunan yang didesain sebagai tempat berlindung baik dari serangan bom ketika perang ataupun ketika terjadi bencana alam.

Saya ini sudah setahun lebih tinggal di dalam bunker. Bukan karena terpaksa, tapi murni pilihan sendiri. Bukan pula karena ada perang saudara atau bencana alam. Bukan, bukan itu.

Saya mengikuti tantangan lari dari kenyataan. Hidup di dalam bunker dengan sekitar tiga ratus orang lainnya dengan masa yang tidak dipastikan ketika tanda tangan kontrak.

Hidup kami terjamin, pasokan udara juga selalu ada. Bahan makanan jangan ditanya, berlimpah ruah.

Yang harus kami lakukan hanyalah melupakan kehidupan di atas sana.

Awalnya saya berpikir, bagus juga lah tak perlu bersusah payah kena kemacetan.

Apalagi di dalam kontrak, tidak ada larangan untuk menjalin kasih antar sesama penghuni bunker.

Alangkah indah hidup jadinya.

Sehari, seminggu, sebulan pun berlalu.

Masih terasa menyenangkan, pasokan listrik dan air bersih selalu tersedia.

Mengobrol ngalor-ngidul dengan teman baru tentang kehidupan mereka di atas sana.

Bulan berganti, rasa jenuh mulai menghantui.

Tembok seakan menghimpit tubuh ini. Terasa sesak. Susah bernapas, padahal tekanan udara masih normal sama seperti pertama kali kami tinggal di bunker ini.

Makanan serasa hambar di lidah, tidak menggugah selera.

Senyuman berganti dengan kernyitan.

Perbincangan berganti dengan kesunyian.

Seakan seluruh gairah hidup sudah terkuras habis.

Gairah untuk mencinta pun lenyap entah kemana.

Di kepala kami hanya terngiang-ngiang satu hal.

Menanti, menanti kapan kiranya pintu bunker terbuka kembali sehingga kami bisa merasakan silaunya matahari bukan hanya sekedar terangnya lampu neon seperti satu tahun belakangan ini.

Putri Semangka, Nona Nanas dan Dewi Melon

“Sammy, kau terlihat menawan sekali malam ini dengan tema merah menyala. Aw silau,” Nona Nanas yang memang bertabiat ceria menyemarakan suasana.

“dan tanpa bercak hitam. Luar biasa”.

“Ya dong Nancy. Mau pesta gitu loh. Biar gak kalah eksis sama kamu,” jawab Putri Semangka dengan menggamit tangan Nona Nanas agar lebih merapat ke dirinya.

“Ngapain nempel-nempel sih?” Nona Nanas merasa terganggu dengan kelakuan Putri Semangka.

“Kalau aku deket-deket yang standar, kayak kamu, aku kan jadi lebih terlihat menonjol,” jawab Putri Semangka polos dan senyum pun mengembang di wajahnya.

“Sialan lo. Biar standar begini, di tiap pesta pasti ngundang gw. Kalo gak ada gw, gk bakalan rame tuh pesta,” sanggah Nona Nanas tak mau kalah.

“Kita merapat ke tengah yuk!” ajak Putri Semangka.

Dan mereka berdua berjalan perlahan-lahan dengan mengangkat ujung gaun yang mereka pakai agar tidak terpeleset lantai kaca. Mengarah langsung ke tengah, siap untuk menjadi pusat perhatian. Tersenyum penuh percaya diri sambil melihat ke sekitar, menerka-nerka berapa harga sepatu yang dikenakan si ini, lipstik merek apa yang dipakai si anu, tas tangan manik-manik keluaran desainer siapa yang dipakai si itu.

Sampai juga akhirnya mereka ke tempat yang mereka inginkan. Disana ia berjumpa dengan Dewi Melon yang tak kalah jelita dengan kesegarannya.

”Melly! Sudah dari tadi datang? Kok baru keliatan?” Nona Nanas memulai perannya untuk mencairkan suasana.

“Saya sudah dari tadi. Seperti biasa, saya langsung menuju posisi tengah, tidak terbiasa di daerah pinggiran soalnya,” jawab Dewi Melon sombong. Sedari dulu ia memang selalu angkuh karena terlahir di California.

Putri Semangka dan Nona Nanas tersenyum masam mendengar jawaban itu, namun karena sudah kenal betul dengan watak teman mereka yang satu ini, ketiga sahabat itu larut dalam percakapan dari yang tidak penting samapai ke percakapan yang sama sekali tidak penting.

Sementara mereka sibuk berbincang, dari atas terdengar suara-suara merdu.

“Nasto, ambil pudingnya yang banyak ya! Semua warna! Gw doyan”.

“Oke oke. Lo ambil buahnya gak usah banyak-banyak. Gw udah kekenyangan. Abis kita makan ini, kita pamit ke Boiq ya bow. Udah malem ini”.

”Oki doki”.

Bandung, I’m in love

“Gw akan tinggal di Bandung setelah gw nikah,” itu pernyataan Dega, kawan saya.

Hah! Bagaimana bisa lo tinggalin semua yang di Jakarta dan pindah ke sana?

Itu yang ada di kepala saya ketika dia bilang begitu.

Kali lain dia bilang dengan ekspresi seakan lebih baik mati saja,

“Gw sudah tidak tahan tinggal di Jakarta”.

Terheran-heran lah saya, bagaimana bisa itu terjadi pada seorang Dega.?

Dia yang selalu yakin menapak di kedua kakinya sendiri, kini memohon untuk segera hengkang ke Bandung.

Pasti ini karena Syarif, si jejaka asal Bandung, kekasih Dega.

Dicuci otak dengan detergen merk apa sampai Dega menjadi seperti ini?

Liburan akhir pekan lalu di Bandung, saya mencoba mencari tahu apa istimewanya kota ini hingga membuat kawan saya jatuh hati.

Mengesampingkan berbagai prasangka, melihat dengan lebih seksama.

Pengamatan dimulai dari yang kasat mata: lalu lintas. Kalau di Jakarta dibuat pusing karena kemacetan, di Bandung dibuat pusing karena jalan satu arahnya. Hampir tidak mendengar klakson berbunyi, kalaupun ada ketika dilihat ternyata kendaraan ber-plat B. Kami juga bisa jalan dengan santai di trotoar, meski tanpa bergandengan tangan dengan kekasih. Hehehe

Berbelanja di pasar kaget yang dipenuhi orang pun tak perlu merasa was-was akan adanya copet. Bukannya tidak ada, tapi sepertinya pencopet pun akan permisi sebelum mengambil dompet kita atau malah memintanya dengan tersenyum ramah. Terdengar konyol? Tapi memang begitu yang terasa ketika menyusuri jalan di Bandung.

Makanan? Jangan ditanya. Semua enak, enak semua. Brownies, klapertart, risol, batagor, siomay, nasi goreng, keripik. Bertambah berat badan pun tak mengapa.

Hal lain yang mengusik saya, sepertinya orang Bandung tahu persis apa yang mereka lakukan, bukan sekedar ikut-ikutan, bukan seperti berenang-renang di tepian, melainkan mereka menyelam ke dasar lautan. Kenapa banyak musisi Indonesia dari Bandung? Karena Bandung menghargai karya seni, tak seperti Jakarta yang hanya menjadikannya industri. Anak alay pun berani berekspresi, lihat saja itu Shinta dan Jojo yang kini dijadikan produk industri. Video syur pertama yang menghebohkan pun asalnya ya dari Bandung, baru kemudian daerah lain sibuk membuat video tandingannya, maklum mereka tidak kreatif jadi hanya bisa meniru.

Soal gaya hidup? Tante, biasa kami panggil Ibunda Syarif, memilih memanggil pelatih yoga ke rumah untuk olahraga yoga. Kalau di Jakarta, para ibu berbondong ke fitnes center dengan tak lupa memakai pakaian senam model terbaru. Peduli amat beneran ikutan olahraga atau hanya sekedar cuci mata. Peduli amat beneran ikutan olahraga atau hanya sekedar cuci mata.

Alih-alih menyewa tempat di mal, rumah pun disulap menjadi tempat nongkrong. Suasananya lebih menyenangkan dan tidak bising dengan musik yang bersahut-sahutan. Semoga Walikota Bandung terketuk hatinya untuk berhenti membangun gedung-gedung tinggi. Tak perlu seperti Jakarta. Cukup seperti itu saja, Bandung orisinil bukan Bandung KW super.

Wahdega,

jika memang kehidupan seperti itu yang sanggup ditawarkan Bandung padamu,

saya juga rela...

Kamis, 21 Juli 2011

Di Balik Merapi

“Saya mau semua penduduk yang tinggal di sekitar Merapi segera di evakuasi. Sekarang juga!”, terdengar suara RI-1 yang sedang melakukan lawatan ke luar negeri.

”Siap Pak, sudah dilakukan. Tapi ada beberapa orang yang masih bersikeras tinggal di rumah mereka karena Mbah Maridjan belum bersedia mengungsi”, jelas Menteri Dalam Negeri.

”Dipaksa dong! Saya tidak ambil pusing kalau segelintir orang memutuskan menjadi martir, tidak mungkin tidak ada korban dari sebuah bencana bukan? Tapi saya tidak mau citra saya tercoreng lagi karena musibah ini. Mengerti?! Saya masih menjadi sorotan karena pertanyaan judul lagu yang saya ciptakan. Memang salah saya ada soal seperti itu?!”

”Pokoknya saya tidak mau tahu. Seluruh penduduk harus mengungsi. Bagaimana caranya, kamu atur lah!”, ujar RI-1 mengakhiri percakapan telepon yang sudah dipastikan bebas dari penyadap.

***

”Aduh, ada apa lagi? Kamu tidak tahu saya sedang dalam rapat penting?”, keluh RI-1 menjawab telepon yang menurut ajudannya perkara penting menyangkut tanah air.

”Begini Pak, Mbah Maridjan tidak mau mengungsi. Ia memutuskan tetap tinggal di rumahnya, menyebabkan beberapa pengikutnya juga ikut tinggal menemani beliau. Mereka berjumlah 13 orang yang memilih tetap tinggal”, terang Mendagri sesingkat mungkin.

”Ini yang kamu bilang penting? Itu hanya 13 orang saja. Rakyat kita ada berapa? 200 juta! Heran saya, udah tua kok ya gak mau denger omongan orang. Ada lagi yang lebih penting untuk dibicarakan?”, tanya RI-1 tegas.

”Para wartawan ingin tahu kapan kiranya Bapak kembali ke Jakarta?”, jawab Mendagri takut-takut.

”Kehadiran saya di sini penting. Saya akan kembali begitu acara di sini selesai. Ya sekitar 4 sampai 5 hari lagi, itu juga kalau tidak ada agenda pertemuan tambahan”, ujarnya ketus.

***

Tergopoh-gopoh Sang Abdi Dalem menghampiri Sri Sultan untuk menyampaikan pesan yang ia terima dari Jakarta.

”Maaf Kanjeng, tadi ada telpon dari Jakarta. Bapak Menteri Dalam Negeri meminta bantuan Kanjeng untuk membujuk Mas Penewu ikut mengungsi”, Sang Abdi Dalem berbicara dengan suara sangat pelan seakan tengah berbisik dan mata menatap ke tanah.

“Iya, matur nuwun”, jawab Sri Sultan dan langsung memasuki ruangan kerjanya. Menutup pintu, memberikan waktu untuk menyendiri, merenungi kejadian yang tengah mengancam rakyatnya.

Mas Penewu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan, sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Ingin sekali menjemput dan memintanya mengungsi ke rumahnya di Yogyakarta. Tapi ia tahu, tak mungkin ia lakukan itu.

Pesan ayahnya di akhir-akhir hidupnya yang selalu terngiang di kepalanya jika aktivitas Merapi mulai di luar kendali: Pastikan juru kunci tetap berada di sana. Rakyat kita harus selalu merasa ada kekuatan di luar nalar pikiran mereka. Agar ada yang mereka takuti, sehingga mereka lebih mudah diatur, lebih halus dalam bertutur. Ritual harus tetap dijalankan seperti selama ini, seolah kita memohon kekuatan gaib, menjaga agar Merapi tidak bergolak. Jika rakyat merasa kekuasaan kita ditopang oleh gaib, mereka akan patuh. Keadaan akan selalu terkendali.

Lalu bagaimana jika juru kunci tiada?

Temukan lagi pengganti, yang lahir dan tumbuh di desa Kinahrejo dan meyakini mitos-mitos yang selama ini beredar adalah benar adanya, yang tidak lantas pergi ketika bahaya menyambangi, yang setia sampai mati.

***

Nietzsche

"Manusia ingin berkomunikasi dengan sesama, namun terpenjara bahasa" (Nietzsche)

Jerman, 20 Desember 2010

Desember kali ini lebih dingin bila dibandingkan dengan tahun lalu. Dinginnya sampai menusuk ke tulang. Jalanan berwarna putih semua tertutup salju. Jalan raya tidak disarankan pemerintah untuk digunakan karena licin sekali, bisa membuat roda mobil selip, berbahaya. Itu sebabnya stasiun kini dipenuhi oleh orang-orang yang ingin merayakan natal di luar kota.

Para penumpang pergi berpasangan, entah dengan kekasihnya atau dengan anggota keluarganya tapi tidak dengan perempuan yang duduk sendiri di bangku dekat iklan minuman beralkohol itu. Ia sendirian tapi tidak terlihat kesepian. Wajahnya memerah, bisa disebabkan dingin bisa disebabkan pesan singkat yang baru saja ia baca di telepon genggamnya. Ia mengencangkan syal yang terlilit anggun dilehernya. Ia terlihat manis dengan penutup telinganya yang bergambar kelinci. Bermata sipit, pasti berasal dari benua Asia, sepertinya China.

Tunggu sebentar, sepertinya ada pengagum lain yang diam-diam mengamati tingkahnya. Ku coba membaca pikirannya. Oh, dia tertarik dengan perempuan itu. Ditelitinya dengan seksama lalu semakin ia terkesima dengan penemuannya, kecantikan oriental. Ia berjalan menghampirinya, duduk di bangku tepat di depannya. Sesekali ia mencuri pandang. Berharap menciptakan momentum untuk menyapanya.

Perempuan itu sama sekali tidak mengacuhkan keberadaannya. Ku coba menyusupi alam pikirannya. ”Filipo! Aku sudah tiba di tempat Ka Atu. Kangen kamu”, kata itu yang pertama terlintas di benaknya.

Sudah memiliki kekasih rupanya. Tak usah tahu sang pengagum dengan kenyataan itu. Aku ingin mengamati kembali dari jauh, agar lebih jelas melihatnya.

Sang pengagum ragu-ragu untuk menyapanya, dari lahir hingga sebesar ini hanya bahasa Jerman yang ia kuasai, bahasa Inggris pun tidak lancar kalau tidak mau dibilang tidak bisa. Ia beranggapan Mandarin adalah bahasa ibu perempuan itu. Bagaimana mungkin ia menyapanya. Sekedar menanyakan namanya saja, ia tak tahu cara mengungkapkannya.

Tegur tidak tegur tidak. Bimbang.

Teringat akan perkataan ibunda, “Cupid, hanya mengamati tidak berpartisipasi!”. Maka di sini, ku terdiam menunggu.

Makanan Terenak Sedunianya Nasto

Keharuman yang berasal dari semangkok sajian di depanku, nyata-nyata membuat perutku semakin bergolak. Sampai terdengar ke seluruh penjuru ruangan 6x6m itu sepertinya. Ku tatap dengan cermat perwujudan kreasi indah tersebut. Dapat terlihat walaupun samar, warnanya yang putih. Segera terbayang ketika si mamang menyajikannya. Ia menuangkan beberapa centong ke dalam mangkok putih yang di bagian luarnya ada gambar ayam jago, mungkin itu mangkok hadiah beli kecap manis. Lalu ia mulai menaburkan daun seledri yang sudah dipotong tipis-tipis, kemudian bawang goreng ditaburkan setelahnya. Jika tidak suka bawang goreng ataupun alergi seledri, bisa request ke si mamang agar tidak usah dikasih. Habis itu, ditaburkan lagi cakwe goreng yang (kembali) telah terpotong tipis-tipis dan lanjut sehabis itu suwiran ayam. Tak lengkap sajiannya tanpa kerupuk goreng berwarna oranye.

Dengan mata berkaca-kaca sambil mengagumi karya seni di hadapanku dan terdorong rasa lapar yang sangat, ku ambil sendok dan membulatkan tekad untuk meluluhlantakan konfigurasi beraneka warna. Kusorongkan perlahan-lahan dan kubawa ke depan hidungku sebentar untuk meresapi aromanya. Kuhirup.. Hmmm.. Sedaaappp. Ku masukan ujung sendok ke mulutku dan dalam sekejap rasa panas, asin dan pedas bergelayut di lidahku. Tak perlu susah payah mengunyah. Ku pejamkan mataku ketika makanan tersebut menuju ke tenggorokan. Slruuuppp… Enak. Senyumku merekah seketika, seperti melihat hamparan bunga berwarna kuning di bawah langit yang biru dengan sinar mentari yang tak begitu terik dan angin berhembus sepoi-sepoi. Berlebihan? Seperti sinetron? Hahaha. Bukan, bukan sinetron melainkan adegan di drama-drama Korea. Hahahahaha

Sedikit demi sedikit ku tandaskan makanan di depanku. Rahangku tak perlu sakit karena tak perlu mengunyah, tidak seperti ketika kita memakan daging ataupun sayur kangkung yang harus dikunyah berkali-kali agar lunak sehingga kemudian bisa tertelan.

Bubur Ayam, mungkin hanya kau yang berkuasa memaksaku menyantapmu walau perutku sudah kenyang, walau ada pilihan lain selain dirimu; lontong sayur, nasi uduk, nasi bebek, mie pangsit, dan masih banyak lagi lainnya. Meski kedudukanmu sedikit tergantikan dengan oatmeal yang menjadi menu sarapanku belakangan ini, tapi hatiku tetap untukmu. Ku sudi menyantap oatmeal hanya karena ia lembek dan tak perlu dikunyah... sama sepertimu. Aku padamu....

Crash

JK: Suatu Kehilangan Besar Bagi Kolombia



Bangkai pesawat Kolombia yang jatuh (9/4) di Simeulue, Sumatera Barat.

BUKIT TINGGI, KAMIS – “Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan seperti bom. Keras betul suaranya”, demikian penuturan Noor (28) salah satu saksi mata kecelakaan pesawat dari maskapai penerbangan Kolombia. Kecelakaan terjadi sekitar pukul 15.20WIB. Pesawat kehilangan kendali dan langsung menukik menuju tajam menuju ke jalan raya setelah sebelumnya sempat menabrak mobil Ford berwarna hitam. Delapan puluh dua orang tewas dalam insiden tersebut dari total sembilan puluh penumpang termasuk awak pesawat. Delapan korban yang selamat namun masih dalam kondisi kritis saat ini berada di rumah sakit Raudahtul Jannah untuk mendapatkan perawatan intensif.

Sedianya pesawat naas tersebut menuju bandara Polonia dengan membawa rombongan anak sekolah menengah Kolombia yang akan mengikuti Olympiade Fisika di Resort Danau Toba selama 11 – 16 April 2020. “Kami selaku panitia turut berbelasungkawa atas kecelakaan tersebut. Sebagai bentuk belasungkawa, kami akan melakukan mengheningkan cipta di acara pembukaan Olympiade hari Sabtu ini” ujar Moh. Ridwan selaku ketua panitia.

Sementara Presiden RI, Bapak Jusuf Kalla (JK) yang dimintai komentarnya sesaat setelah usai konferensi PBB di Jenewa mengungkapkan kesedihannya. “Kecelakaan tersebut benar-benar tragis. Potensi besar telah hilang bersama kecelakaan tersebut. Suatu kehilangan besar bagi Kolombia”, ujar JK dengan mata berkaca.

Hingga berita ini dilansir masih dicari penyebab kandasnya pesawat tersebut. Masih banyak spekulasi seputar penyebab kecelakaan mulai dari human error hingga kelebihan quota bagasi. Kepastian penyebab baru bisa didapat setelah kotak hitam ditemukan yang keberadaannya masih dicari hingga kini. (DM/AA)

Tintin

Tintin… Tintin…

”Bentar Jay, ini gw lagi pake sepatu”, terdengar suara perempuan yang sudah lima bulan ini menjadi langgananku di pagi hari. Aku mengantar dia ke kantornya di daerah Senayan.

“Siap Boss”, jawabku segera. Tetap saja aku memanggilnya Boss, sebutan yang ku tahu ia tak senang mendengarnya, tapi tak mengapa karena Mbak yang satu ini baik sekali.

Terdengar suara pagar terbuka di belakangku. Mbak ku ternyata sudah datang dan segera menempati posisinya di jok belakang motor bututku ini. Dia melemparkan senyum lebarnya sampai-sampai tertarik itu mulutnya nyaris mencapai kupingnya dan menampakan giginya yang putih dan rapih.

“Jay, hari Sabtu pagi lo anterin gw ke melawai ya! Bisa?”, Tanya si Mbak dari belakang.

“Bisa Boss… Mau belanja?”, tanyaku mencari tahu.

“Gak. Mau ke Bandung naek Baraya. Mau pacaran euy. Hehehehe~”, jawab si Mbak.

Ku lirik ia dari spion ku. Memerah mukanya dan berantakan rambutnya tertiup angin.

“Siap Boss”, ledekku.

“Bisa gak sih lo gak panggil gw Boss? Panggil gw Ndoro! Gyahahaha~”, terdengar senang sekali dari suaranya. Maklum sajalah, lagi dimabuk cinta. Tahi kucing juga serasa coklat. Dunia serasa milik berdua sementara yang lainnya cuma ngontrak.

Sampai sudah kami di seberang gedung kantornya.

“Makasih Jay. Sampai besok pagi ya”, kembali ia tersenyum padaku. Sepertinya si Mbak belum merasakan pahitnya dunia sehingga senyumnya bisa seikhlas itu.

Pergi ia membelakangiku menuju ke jembatan penyebrangan.

Rambutnya dulu pirang sekarang hitam, tapi tetap tergerai berantakan. Kiranya si Mbak segera meluruskan rambutnya sebelum keluar maklumat haram atas bonding.

***

“Udah balik Jay?”, Tanya Dodi, kawan mainku sedari kecil.

“Iya nih, mau nyarap dulu sebelum jemput Icha di TK sebrang”.

“Eh, itu cewek yang tiap pagi lo anter jemput, namanya siapa?”, selidik Dodi.

“Ngapain lo nanya-nanya? Dia udah punya pacar. Lo mah gak bakalan dilirik”.

“Yey…sapa juga yang naksir. Gw penasaran aja. Emangnya lo gak liat waktu dia marah-marah ama sopir taksi sabtu kemaren? Wuih, pak RT nyaris jadi amukan”,terang Dodi.

“Gak mungkin. Dia mah gak mungkin marah-marah”, tak terima aku si Mbak dijelek-jelekan.

“Yey, dikasih tau juga. Orang sekampung juga tau”.

“Udah ih, gw mau makan ini. Ngomongin yang lain kek”, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ntar gw nebeng ampe perempatan ya pas lo mau jemput Icha”.

“Siip. Nyarap yuk!”, ajakku.

“Makasih. Gw dah ngopi tadi”.

***

“Dod, jadi bareng gak?”

“Yuk”, jawab Dodi segera sembari duduk di belakangku tanpa helm karena perjalanannya dekat dan tak rawan polisi yang menjaga.

Tanpa sepengetahuan Jay, diam-diam Dodi menyelipkan KTPnya yang sudah nyaris habis masa berlakunya di jok bagian belakang. Ia berharap si Mbak yang kerap diantar Jay setiap pagi yang akan menemukannya. Peluang pun telah diciptakan, usaha telah dilakukan.

***

Tintin…tintin…

Keluar si Mbak sambil setengah berlari menghampiriku.

“Seneng bener Boss?”

“Kan mau ketemuan ama pacaarr”, jawab si Mbak sambil tersenyum.

Ia mengambil helm yang kuserahkan lalu duduk à la perempuan karena memakai terusan pendek putih.

“Eh, ada KTP!”, ujar si Mbak.

Sepanjang perjalanan menuju Melawai dibolak-baliknya itu KTP untuk mencari tahu siapa gerangan pemiliknya.

“Punya siapa nih? Wah, untung ada nomor telponnya”.

Dan si Mbak pun berencana menghubungi si pemilik KTP segera setelah ia sampai tujuan. Ia akan mengatakan pada si pemilik bahwa KTP sudah aman bersamanya dan dapat diambil kapan saja.



Lilin

Sudah dua hari ini aku tiba di tempat ini. Sesak. Penuh. Mana bau ini wangi sekali pula. Aku tak tahan. Aroma khas wanita. Gelap. Sekelilingku gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa, tak ada cahaya. Aku berdiri berjejer dengan setidaknya sebelas temanku yang lainnya. Kami semua ramping dan putih mulus, telah siap untuk diberdayagunakan. Kalau pagi hari, bisa kudengar aktivitas di luar. Suara teriakan Koh Akwet memanggil buruhnya untuk mengambil ini dan mengangkat itu.

Loh loh... mengapa tempat ku menapak jadi bergoyang-goyang seperti ini?
‘Pegangan!’, ujar temanku di bagian belakang.
‘Jangan sampai formasi kita yang kokoh ini rusak’, himbau temanku yang lain yang tepat berada di sebelahku.
Kami pun segera merapat dan memasang kuda-kuda sekuat yang kami bisa.
Goncangan kami usai beberapa saat kemudian.
Cahaya...aku melihat cahaya lampu walau redup.
Formasi yang kami buat rusak sudah karena satu dari kami yang dua belas ini terambil.
Ia pergi menggenapkan tugasnya.
Menilik dari redupnya ruangan ini, sepertinya waktuku juga tak lama lagi.

Kress...
Bunyi korek api dinyalakan.
Dimulai sudah petualangan temanku menerangi yang gelap.
Lalu kemudian kudengar suara lelaki,
’Aku berangkat dulu Bu. Kamu jagain lilinnya ya! Jangan sampai tertidur ya’.
’Baik cintaku. Kali ini usahakan bawa pesenanku’, ucap si perempuan.
Sang lelaki menghilang ke tengah malam, mencari sedikit rupiah dan segenggam berlian


Teman atau Sahabat?

Mereka itu temanku.
Mereka yang saat ini satu pekerjaan denganku.
Mereka yang dulu pernah satu kelas denganku.
Mereka yang terkadang menghubungiku dengan maksud tertentu.
Mereka yang pernah berada dekat denganku.
Mengapa kubilang mereka temanku?
Karena kami menghabiskan sedemikian banyak waktu berinteraksi.
Terkadang kami bertukar informasi pribadi ketika makan siang bersama.
Nonton film bersama selepas pulang bekerja.
Sholat dzuhur bersama sambil menunggu kelas berikutnya.
Dan hanya bisa terdiam atau berkeluh di belakang ketika pemikiran tak sejalan.
Tak begitu kehilangan jika terputus komunikasi karena memang tak begitu membekas di hati.

Kalau sahabatku, ya... mereka itu.
Mereka yang tak ragu menghubungiku hanya untuk menyapa tanpa alasan yang jelas.
Mereka yang berbagi kisahnya denganku tanpa suatu keharusan.
Mereka yang selalu menggangguku dengan celetukan-celetukan pedasnya.
Mereka yang mengkritik tingkahku yang tak sepatutnya.
Mereka yang akan membatalkan janji dengan orang lain bahkan kekasihnya jika memang aku membutuhkan kehadirannya.
Mereka yang menopang kelemahanku dan mendorong keluar potensiku.
Mereka yang bisa merasa tanpa perlu kulontarkan kata.
Mereka yang masih tetap berada di sisiku hingga saat ini.

Teman ataupun sahabat tak selamanya akan selalu ada.
Bukan hanya karena mereka makhluk fana, namun juga karena mereka makhluk berhati yang akan pergi jika kerap tersakiti.

Adieu

“Sudahlah, mari kita akhiri saja”, terngiang berkali-kali ucapan tersebut di dalam kepala Moun. Kalimat yang paling tidak ingin ia dengar setelah apa yang ia lalui. Tak masalah jika memang ia menjadi yang kedua, bukan pilihan utama, bukan prioritas. Tak kuasa ia membayangkan kehidupannya setelah pernyataan tersebut keluar dari pria yang selama tujuh tahun ini menjalin hubungan dengannya. Ia melongok keluar jendela, tinggi benar tempat tinggalku ini, pikirnya. Seharusnya dengan posisi yang setinggi itu ia bisa lebih mudah meraih bintang impiannya. Ternyata posisi tidak menentukan prestasinya dalam hal ini. Ia melangkahkan kakinya keluar jendela agar bisa lebih leluasa menikmati menikmati pemandangan kota di malam hari sembari berharap meringankan beban yang menggantung di hati. Berdiri ia di tepian jendala kamar tidurnya. Ia menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya sembari berdoa sesak di dada menghilang segera. Tak mampu lagi ia menangisi nasibnya, kering sudah airmatanya. Tak ada lagi teman yang menghiburnya saat ini. Bukan salah mereka, sikapku yang menyebabkan mereka menjauh dariku, gumamnya dalam hati.

Bunyi suara panggilan masuk dari telepon genggam yang terletak di meja makan membuyarkan pikirannya. Ia segera berbalik dari tempatnya berdiri. Mungkin karena dinginnya angin malam, membuat kakinya agak kaku sehingga tidak mampu menapak dengan benar. Tergantung ia kini di pinggir pijakan tempat ia berdiri tadi. Konyol sekali, ketika tadi ia berdiri meratapi kisah cintanya yang kandas, ia berharap ia mati saja. Tapi kini ketika ada peluang untuk menyudahinya, ia malah terperangkap rasa takut. Bukan takut mati karena jatuh dari apartemennya melainkan takut jika tidak mati juga meski sudah terjatuh dari lantai 18. Pikiran macam apa itu?

Tangan sudah mengirimkan sinyal-sinyal ke otaknya bahwa tak sanggup bertahan lagi tergantung di sana. Lepaskan saja dengan begitu tak kan terasa sakit lagi, lepaskan sekarang, bujuk egonya. Terlepas sudah tangannya, terhempas ia ke arah tanah.

Semua seakan berjalan lambat, ia melihat seorang perempuan yang tinggal di lantai 17 sedang menonton televisi kabel sembari mengelus kucing piaraannya yang tergeletak di pangkuannya. Perempuan tersebut baru saja mandi karena ia masih mengenakan handuk di kepalanya untuk menutupi rambutnya yang masih basah. Di sebelah kaki yang ditopangkan di atas meja terletak sebuah asbak dengan rokok yang masih menyala di dalamnya. Sekilas ia melihat tayangan yang tengah di tonton perempuan tersebut, film klasik Gone With The Wind.

Di lantai 16 ia mendapati sepasang suami istri yang tengah bertengkar. Sang istri melempari apa saja yang bisa diraihnya di dalam kamar ke arah suaminya. Sementara itu sang suami sibuk melindungi dirinya dengan menggunakan bantal sebagai tameng pertahanannya. Tidak, jangan hancurkan yang itu! Kalian terlihat bahagia sekali di foto itu. Foto ketika kalian pertama kali keluar dari gereja setelah mengikrarkan janji setia untuk sehidup semati, sang suami melindungi kepala istrinya dengan tangan agar rambutnya tidak tersangkut beras yang dilemparkan para tamu undangan. Praaaang… hancur sudah semuanya. Terlihat memar di pelipis sang suami akibat telat menghidar dari lemparan tersebut.

Di lantai 15, didapati ruangan masih gelap. Rupanya sang pemilik masih belum tiba di kediamannya.

Di lantai 14, terlihat seorang anak yang tengah tertidur pulas dengan jempol kanannya di dalam mulutnya. Menggemaskan sekali. Andai aku punya satu, khayalnya.

Di lantai 13, tidak ada aktivitas. Tak usahlah heran karena memang tak ada lantai 13, angka yang tidak bagus, tidak menguntungkan jadi tidak ada ruginya disingkirkan saja.

Di lantai 12, terlihat sepasang jompo yang tengah tidur di ranjang yang sama. Rambut mereka sama-sama putih, kulit mereka sama-sama keriput. Senang ketika melihatnya, ternyata memang ada cinta yang tak lekang waktu, meski bukan kisahku, batin Moun.

Lajunya semakin cepat merengkuh bumi. Terlintas di kepala kilasan hidupnya. Teman-teman yang dulu begitu menyayanginya dan selalu ada di sisinya ketika ia tengah dilanda kesulitan. Mereka sudah tak ada. Mereka pergi meninggalkannya sendiri. Tersakiti sangat yang mendorong mereka pergi. Orang tuanya yang sudah tak lagi ada di dunia yang pasti sama sekali tidak merasa bangga dengan perbuatannya kini. Kekasihnya, pria yang tak mungkin dimiiki seutuhnya. Teringat ia, bagaimana ia berusaha untuk menarik perhatiannya melalui beragam cara, mengalihkan pandangannya agar hanya tertuju padanya.

Ada kalanya ia berbangga hati ketika kekasihnya berada disampingnya dan mengacuhkan pasangannya. Tapi tidak kali ini, ia merasa kalah dan tersingkirkan. Ia tidak rela, ia tidak mau mati. Ia belum mau mati. Ia ingin hidup dan kembali merasakan sakit. Ia tidak mau mati. Tidak. Tidak saat ini. Belum. Jangan.

BRAAKK.

***

Ngiung ngiung ngiung ngiung…

Terdengar suara sirene dari mobil ambulans.

Garis polisi sudah terpasang di area kejadian perkara.

Tertutup oleh terpal biru sesosok tubuh perempuan.

Kaki jenjang yang dulu dibanggakan, kini sudah patah tak bisa digerakkan.

Wajah cantik yang dulu begitu dipuja kaum adam, kini hancur berantakan.

Tangan yang dulu dihiasi perhiasan indah, kini berlumur darah.

***

(Di lantai 18)

Dua panggilan tidak terjawab.

Satu pesan diterima;

“Answer my call, please. Sorry for what I said before. Love you”



Kisah SMA

Dari semua pelajaran sosial, ada satu pelajaran yang benar-benar tak kusuka; Tata Negara. Topiknya membosankan dan pengajarnya tidak berusaha menarik minat kami untuk menyukai mata pelajaran itu. Ketika sedang menerangkan di depan kelas, ia berbicara tidak menatap wajah kami sehingga mengesankan ia berbicara dari dan untuk dirinya sendiri. Suatu hari pelajaran tersebut berada pada dua jam terakhir, sekitar setengah jam kami menanti kehadiran pak guru namun ia tak kunjung datang. Maka entah siapa yang waktu itu memutuskan, beberapa di antara kami memutuskan untuk meninggalkan kelas dan langsung pulang.

Itu pertama kalinya bagiku. Cabut kalau memakai istilah jaman dulu. Hati terasa tak tenang namun aku memang tak senang dengan pelajaran itu jadilah aku membangkang dan memutuskan untuk pulang. Naasnya, tak semua anak yang pulang, ada beberapa yang tetap tinggal. Ternyata pak guru masuk tak lama setelah kami keluar kelas. Sial. Mendongkol ku dalam hati ketika ku mendengar berita itu esok harinya. Merasa harga dirinya terusik, pak guru menghukum kami yang tidak mengikuti pelajarannya kemarin. Padahal biasanya ia tak ambil pusing ketika kami berisik di pelajarannya.

Ia memanggil namaku sebagai terdakwa pertama yang harus menjalani hukuman. Aku, karena awalan namaku dimulai dari abjad A. Ia mempermalukanku di depan kelas. Benar-benar malu sampai merah wajahku. Saat itu aku merasa ia tidak tengah mendidik muridnya melainkan melampiaskan egonya. Tak perlulah ku jelaskan hukuman jenis apa yang ia terapkan padaku di depan kelas. Ku ingat sekilas seringai di wajahnya ketika aku menjalani hukuman yang dipilihkannya untukku. Setelah selesai melaluinya dengan hati tak ikhlas, aku langsung segera kembali ke bangkuku. Aku benar-benar merasa telah dilecehkan. Teman sebangkuku yang juga menjalani hukuman serupa, menepuk-nepuk pelan punggungku memberikan dukungan. Terseduku karenanya.

Memori selektifku tidak bekerja dengan baik untuk yang satu ini. Meski waktu telah lama berlalu, aku masih ingat insiden itu. Hukuman karena pak guru yang seharusnya bisa ku gugu dan ku tiru, terlambat datang ke kelas


Kesempatan

Jika suatu hari kau berpapasan denganku di jalan, kau mungkin tidak akan memperhatikan keberadaanku. Ataupun jika secara tidak sengaja matamu bertatapan dengan mataku, besar kemungkinan kau akan langsung memalingkan wajahmu lalu berpura-pura tidak pernah melihatku dan setelah itu rasa bersalah akan menghinggapimu karena telah melakukan hal itu.

Akan kuceritakan padamu sebuah kisah rahasia. Tentangku di masa lalu. Percaya kau akan kelahiran kembali? Aku juga tidak percaya andai aku tak mengalaminya sendiri. Eksistensiku yang pertama kali adalah dalam wujud tumbuhan. Lumut, kau tahu lumut? Tanaman kecil yang menempel di pohon-pohon besar di dalam hutan. Ya, aku pernah menjadi lumut. Entah untuk waktu berapa lama aku menjalani hidup dalam wujud tersebut. Masa itu berakhir ketika pohon tempat aku menumpang hidup ditebang oleh penebang liar untuk kemudian diselundupkan ke negeri tetangga.

Kesempatan kedua yang dihadiahkan padaku, aku mengalami kenaikan peringkat. Wujudku kala itu dalam bentuk burung, sejenis binatang yang dapat terbang. Mungkin karena ketakberdayaanku di kehidupan sebelumnya dalam menyelamatkan hidup dengan upaya sendiri, maka aku terberkahi dengan dua buah sayap yang dapat membawaku kemana aku ingin pergi. Hutan, tempat yang sebelumnya kutinggali terlihat jauh lebih indah dilihat dari atas sana. Aku suka menjelajahinya dengan mengepakan kedua sayap kecilku hingga suatu hari tanpa sengaja aku memasuki kawasan pembantaian. Sebuah daerah dimana para pemburu diberikan keleluasaan untuk menghabisi binatang yang mereka inginkan sebagai bukti atas supremasi mereka. Semakin besar ukuran binatang buruan yang ditaklukan, semakin tinggi gengsi yang mereka dapatkan. Nasib naas menghampiriku hari itu, meski ukuranku tidak besar namun karena berada di udara alias tidak menapaki tanah maka aku juga menjadi incaran mereka. Tertembak aku satu kali di bagian dada dan terhempasku ke tanah merah. Merah karena darahku.

Kali ketiga yakni sekarang, aku berkesempatan mencicipi rasanya jadi manusia. Seharusnya ingatanku di masa lalu tak melekat di kehidupanku selanjutnya namun entah bagaimana aku masih mengingatnya dengan jelas, sejelas beban yang kurasakan dipunggungku saat aku membawa karung kumal ini. Karung yang berisi benda yang kupungut di sepanjang jalan. Kau tahu, tidak sulit untuk menemukan botol plastik bekas air mineral, yang perlu dilakukan hanya sedikit penyusuran mata, itupun tanpa membutuhkan kejelian. Tidak perlu repot sampai mengorek-ngorek ke dalam tempat sampah karena mereka tergeletak begitu saja di jalanan. Jika sudah banyak terkumpul, aku akan membawa temuanku tersebut ke penadah plastik dan mereka akan menimbangnya dan memberiku sejumlah uang sebagai ganti penukaran. Hidup yang mudah bukan? Uang bisa kau temukan di jalanan. Hanya perlu jalan lebih jauh dibanding yang lainnya dengan membawa sedikit beban di pundak.

Maka seandainya lain waktu kau melihatku lagi, janganlah kau mengasihani aku karena merasa beban yang ku bawa begitu berat, baju yang ku pakai begitu lusuh, sepatu yang kupakai sudah usang dan tak lagi layak pakai juga kulitku yang legam terbakar matahari. Jangan kau palingkan wajahmu ketika kau menjumpaiku hanya karena rasa bersalah sejak hidupmu lebih nyaman ketimbang milikku. Tersenyumlah padaku dan aku kan membalas senyummu atas hidup yang indah. Mensyukuri sebuah kesempatan dari sekian kesempatan yang mungkin masih tersisa.


Di Sela Waktu Senggang

Jam menunjukan pukul lima sore lewat enam menit. Suasana sepi hanya suara Mbah Surip sayup mendendangkan lagu mengenai aktivitasnya yang sehabis bangun lalu tidur lagi terdengar dari speaker di lorong depan. Kondisi meja berantakan dengan kertas-kertas data yang memerlukan perhatian lebih, penghapus yang baru dipakai beberapa kali, kalender yang terhalang botol minuman yang masih setengah terisi, handphone yang selalu online menghubungkan dengan orang-orang terkasih, stabillo biru persis di sebelah keyboard, dan buku to do list di sebelah kanan dengan pensil mekanik hijau andalan sedari jaman kuliah dulu, berada di atasnya. Ada juga kertas satu rim yang sudah terbuka dan telah diminta beberapa oleh teman yang membutuhkan. Telepon terletak miring karena tidak dikembalikan ke posisi awal sebelum dipinjam. Biar saja tetap berada dalam posisi tersebut, walau sebal setiap melihatnya.

Kali ini lagu sudah berganti dengan lagu bertema putus cinta, entah siapa penyanyinya. Sementara benak ini malah tak menentu, bukan karena kompleksitas percintaan melainkan memikirkan kapan waktu yang tepat ke dokter gigi apakah di hari kerja atau malah di akhir pekan saja. Selain itu juga terbiaskan dengan pikiran jangan sampai kali ini telat kirim tulisan lagi, malu hati disinggung si galau untuk dua kali keterlambatan.




Kiamat Sudah Dekat

Dua minggu terakhir ini, bioskop di Jakarta penuh disesaki orang banyak mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka berbondong-bondong ingin menyaksikan film 2012 yang katanya memaparkan simulasi hari akhir. Saya pun menonton film tersebut, bukan karena penasaran melihat kemegahan film itu semata, tetapi lebih karena aktor utamanya John Cusack, serendipity saya.

Sensasi saya setelah menonton tidak jauh berbeda ketika saya menonton The Day After Tomorrow atau Titanic. Makanya saya terheran-heran ketika konon katanya MUI berniat mengeluarkan fatwa larangan untuk menonton film tersebut entah karena alasan apa saya tidak tahu dan tak berniat mencari tahu. Saya lantas lebih heran lagi ketika menyaksikan semacam tayangan di televisi yang menghubung-hubungkan antara adegan di 2012 dengan peristiwa akhir jaman yang akan terjadi nanti, disertai dengan pendapat dari beberapa paranormal dan artis! Bukan saya merendahkan atau tidak menganggap title mereka sebagai seorang artis, tetapi lebih bijaksana lagi bagi mereka jika mereka lebih berkonsentrasi mengembangkan karir mereka ke tingkat internasional daripada malah sibuk menggiring masyarakat untuk memikirkan mengenai kiamat. Sesuatu yang pasti terjadi entah kapan pastinya sejak segala yang bermula pasti berakhir.

Daripada pusing memikirkan kehancuran dunia, lebih baik sedari sekarang tanyakan pada diri sendiri seberapa peduli dirimu akan lingkungan sekitarmu. Masihkah kau membuang sampah tidak pada tempatnya? Masihkan kau merokok di tempat umum sehingga merugikan kesehatan orang lain? Masihkah kau boros dalam penggunaan kertas? Masihkah kau menggunakan toilet tissue? Masihkah kau menyalakan banyak lampu si siang hari? Jika jawaban pertanyaan semua di atas adalah iya, tak usahlah kau kuatirkan kiamat besar yang entah kapan datangnya. Karena alam sudah kehilangan nilainya karena ulahmu. Hal yang menurutmu sepele namun jika diakumulasikan tampak jelas dampaknya.

Kau merasa marah dan kesal ketika hujan datang maka jalanan di Jakarta menjadi tergenang air (alih-alih mengatakn banjir) dan waktu tempuh ke rumahmu menjadi dua kali lebih lama dari waktu normal pulangmu. Kau merasa sebal ketika berada di toilet dan kau kehabisan tissue toiletnya, lalu kau mencari petugas toiletnya untuk menanyakan keberadaan tissue.

Jika memang kau mencintai bumi dan belum berpikir untuk bermigrasi ke planet lain, mulailah luapkan rasa cintamu dalam bentuk tindakan nyata, bukan hanya sekedar menjadi simpatisan organisasi penyelamat bumi ataupun memakai kaos yang bertuliskan Save Our Earth saja. Seperti kata Da’i kondang (yang kini tak lagi kondang hanya karena ia memutuskan berpoligami), mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah dari sekarang.


Sudut Pandang

Sama seperti akhir pekan yang biasanya, aku memulai ritual sholat maghrib lebih awal dan meniadakan ritual zikir karena aku harus menonton tayangan di televisi. Tayangan favoritku yang dipandu oleh MC tampan pujaanku, Choky Sihotang. Acara menemukan pasangan jiwa dari sekitar dua puluh orang kandidat. Kenapa baru sekarang ada acara semacam ini ketika kulitku sudah kendur dan keriput, tak lagi segar dan kenyal seperti dulu. Yah sudahlah terima saja.

Biasanya aku menikmati tayangan ini seorang diri tapi terkadang cucuku ikut menemani dan mengomentari. Aku berharap semoga cucuku mau mengikuti acara ini agar ia menemukan jodohnya dan aku bisa segera menimang cicit. Tapi sepertinya hal itu sulit, bagaimana mungkin mau turut partisipasi acara perjodohan ini, jika sepanjang acara ia malah sibuk mengomentari dan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku peserta. Aku akan mencari cara lain, peluang lainnya untuk cucuku.


***


Nenek suka sekali menonton tayangan di televisi tapi bukan sinetron melainkan reality show atau kuis. Belakangan ini, nenek menasbihkan dirinya sebagai penggemar acara kuis yang menjodohkan para kontestan. Ketika menonton tayangan tersebut, muka nenek bersemu merah tak lupa senyum merekah menghiasi wajahnya. Menurutnya, pria tampan harus mendapatkan pasangan wanita yang cantik, para duda menemukan janda dan wanita gemuk bersanding dengan pria tambun. Itulah yang namanya jodoh, pasangan yang setara dan seimbang. Maka dunia akan menjadi lebih indah di matanya.

Sendirian seringkali ia menonton tayangan favoritnya karena anaknya sibuk bersosialisasi dengan para tetangga sementara cucunya hampir selalu ada acara tiap akhir pekan. Namun kali ini, si cucu menemani neneknya menonton. Ketika si nenek tengah menghayati proses perjodohan, si cucu yang kurang ajar mencekoki neneknya bahwa acara tersebut hanyalah bualan semata dan sudah ada skenarionya tanpa mempertimbangkan perasaan si nenek yang merupakan penggemar berat acara itu. Begitulah perbedaan dua orang wanita dari era yang berbeda. Nenek percaya bahwa tayangan televisi benar adanya sementara Cucu memandangnya sebagai acara pembodohan massal semata.


***

Hari ini hari Sabtu dan kau pasti tahu benar bahwa pukul enam sore ini tayangan perjodohan di salah satu televisi nasional. Kau tinggalkan sejenak aktivitas sehingga bisa konsentrasi menikmati acara ini. Kau lihat itu Choky Sihotang yang memandu acara, ia tampan bukan? Lihat giginya, begitu rapi dan putih bersinar. Ia terlihat begitu mempesona dan mengalahkan aura para kontestan yang berniat mencari jodoh di acara tersebut. Bisa sama-sama kita rasakan ketegangan para kontestan ketika kandidat pertama keluar dari belakang panggung. Kau pun mulai menilai sama dan menimbang siapa kiranya yang akan terpilih menjadi pendampingnya dengan mempertimbangkan perawakan dan sifat mereka.

Kau menyaksikan tayangan ini dengan cucumu yang duduk persis di sampingmu. Ketika kau terlarut dalam proses perjodohan, cucumu malah meracau tidak jelas bahwa acara tersebut tidak sealami kelihatannya. Kesal kau dibuatnya, karena cucumu merusak kesakralan acara dan mengalihkan konsentrasimu mengikuti tahapan-tahapannya. Kau melirik ke arahnya dan mengamatinya kemudian berangan-angan bagaimana jika suatu hari cucumu turut serta di acara tersebut dan ternyata ia menemukan jodohnya di sana.


Abangku

Ia lebih tua dariku tiga tahun. Dulu ada ketika ia begitu menyayangiku saat aku masih bayi, simpulku setelah mendengar cerita dari ibu dan nenek kami. Suatu hari ia memutuskan untuk menginap di rumah nenek kami lantaran tidak tahan mendengar tangisku setiap saat. Malam pun datang, ia menonton TVRI dan melihat tayangan tentang bayi-bayi. Begitu melihatnya, ia langsung minta pulang dan mengurungkan niatnya untuk menginap. Beruntung ada salah satu tetangga kami yang sedang singgah di rumah nenek, maka pulanglah ia dengan menumpang di motor tetangga kami itu. Setelah sampai rumah, ia langsung saja berbaring di sampingku walaupun tangisku tetap memekakan telinganya.

Teman bermain kami berbeda namun adakalanya kami bermain bersama-sama. Setelah menonton film silat di televisi, aku mengajak abangku untuk bermain berantem-beranteman. Aku bilang padanya, ”Bang, bagaimana kalu kita pakai pisau mama?”. Untung salah satu di antara kami masih waras, ia tidak mengamini niatku. Jadilah kami masih hidup hingga saat ini. Dari dulu ia sudah mendominasiku, ketika orangtua kami menanyakan apakah kami ingin punya adik, dengan pelan ia berbisik padaku, ”De, kalau kita punya adik lagi, telur yang biasanya dibagi untuk berdua akan dibagi jadi untuk bertiga. Ade’ mau?”. Tentu saja aku menolak mentah-mentah wacana memiliki adik tersebut.

Seiring berjalannya waktu, rasa sayangnya memuai ke dalam bentuk yang lain. Ia menyuruhku melakukan apa yang menurutnya benar. Ia juga terkadang melarangku untuk melakukan ini itu. Ia seringkali mempertanyakan keputusan yang telah ku buat yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Ia melakukan itu semata-mata karena ia tidak ingin merasakan sakit dan kecewa yang pernah ia rasa, harus kurasakan juga. Kukatakan padanya, ”Bang, kau telah menjalani sesi pelajaran hidupmu sendiri. Kali ini biarkan aku menjalani pelajaran hidupku dengan caraku sendiri. Karena sungguh, kau adalah apapun yang bukanlah diriku dan aku bukanlah apapun yang bukan dirimu”. Satu-satunya kesamaan kami adalah kami pernah mendiami rahim yang sama dan aku bersyukur karenanya. Ia abangku dan akan selalu begitu.

Si Anjing dan Si Ikan

Shinbei, seekor anjing rumah yang dipelihara oleh keluarga Ridwan. Anjing yang jarang bergaul dengan anjing lain di lingkungannya. Bukan karena ia tak mau, tapi ia dilarang untuk keluar rumah apalagi bercengkrama dengan anjing tetangga, takut terkena virus kata tuannya. Pernah suatu ketika birahi Shinbei begitu menggebu, kabur ia keluar rumah dan langsung mencari anjing jalanan, anjing apapun yang pertama ia temui. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindari. Sesaat setelah ke luar rumah, Iman, si penjaga rumah, berlari mengejarnya untuk kemudian menangkapnya dan melaporkan insiden tadi kepada tuannya yang juga adalah tuan Shinbei. Laporan yang didasari agar kasih sayang si tuan berkurang. Dasar manusia berkaki dua bisanya hanya menjilat saja, begitu kira-kira terjemahan salakan Shinbei. Si tuan yang ternyata begitu mencintai Shinbei, tak rela jika kemurnian ras peliharaannya harus terkotori. Oleh sebabnya ia membawa Shinbei ke dokter hewan langganan. Dengan tangkas dan tanpa sakit, si dokter mengeksekusi Shinbei, mengebirinya, membunuh naluri paling dasar dari seekor hewan.

Dalam ketidaksadarannya, Shinbei merasa seolah-olah ia tengah berjalan menyusuri jalanan yang kemudian mengantarnya masuk ke dalam hutan. Cahaya matahari menghangatkan bulu abu-abunya. Senang sekali merasakan kehangatan setelah sekian lama terkurung di rumah berpendingin. Ingin rasanya ia menyerap kehangatan itu sebanyak mungkin untuk digunakan kembali ketika dingin menyergapnya. Ia melihat di ujung jalan sana terbentang sungai. Berlari ia ke arahnya dan segera mencicipi jernih airnya. Di kaki kanan bagian depannya, ia melihat seekor ikan kecil berenang berputar-putar.

“Apa kau baru di sini?” tanya si ikan.
“Ya, Aku baru pertama kali ke sini. Siapa namamu?”, Shinbei pun bertanya.
“Namaku? Apa itu nama? Aku ikan. Tanpa nama”, terang si ikan.
”Aku punya nama. Shinbei namaku. Pemilikku yang sudah kuanggap orangtuaku yang menamaiku”, jelas Shinbei.
”Aku ikan. Aku ini milikku. Tak ada selainku yang mengakuiku sebagai miliknya. Aku utuh. Tunggu, kau bilang tadi manusia berkaki dua itu sudah kau anggap orangtuamu? Makhluk paling sempurna sehingga seringkali bertindak begitu egois kau akui sebagai bagian darimu? Makhluk yang sering kali mengatasnamakan cinta namun menghabisi kemampuanmu bercinta itu? Makhluk yang jika sudah memberi lantas merasa memiliki hak atas diri kita?”, cerca si ikan tanpa henti.
”Mengapa kau sepertinya tidak suka sekali dengan mereka? Apa salah mereka terhadapmu?”, selidik Shinbei mencari tahu.
”Mereka tidak melakukan apapun padaku. Namun aku mendengar mereka melakukan hal yang sangat kejam pada kelompok ikan di sebelah timur sana. Mereka menangkap hampir semuanya dan membawanya pergi. Ikan yang berhasil lolos dari tangkapan mereka, memberitahu si burung berita tersebut. Lalu burung bercerita pada si katak dan katak menyampaikannya padaku”, jelas si ikan.


”Jadi begitu ceritanya asal mula kebencianmu. Bagaimana kau tahu apa yang telah terjadi padaku?”, tanya Shinbei.
”Naluri kebinatanganku yang mengatakannya. Sudah kau tinggal saja di sini. Mereka takkan menyakitimu lagi. Kau bisa hidup semaumu di hutan yang luas ini”, bujuk si ikan pada Shinbei.
”Seumur hidupku aku tinggal di rumah itu. Aku menjalani hidupku dengan teratur. Tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan makanan. Tidak perlu berlindung di bawah pohon atau di dalam gua untuk menghindari hujan. Tidak perlu berjalan jauh untuk mencari air minum. Tidak perlu merasa terancam dengan bahaya pengintai. Aku aman”, racau Shinbei.

”Kau tahu, kau telah gagal menjadi seekor hewan. Dimana jiwa petualangmu? Kau sudah terbuai dengan kenyamananmu. Kau menjadi seperti mereka, si makhluk berkaki dua yang jika sudah berada di zona nyamannya, takut untuk keluar. Membenci perubahan dan tak mau beradaptasi terhadap hal baru di sekelilingmu. Persis seperti itulah kau”, si ikan berkata.
”Kau sudah menghabiskan seumur hidupmu bersama mereka. Apa yang kau dapat selain kenyamanan? Hah? Jawab aku? Kenyamanan, sesuatu yang tak kasat mata, yang hanya kau sendiri yang dapat merasakannya. Tapi apa yang sudah hilang darimu sejak kau bersamanya? Kita berdua sudah tahu jawabannya dan dengan jelas bisa dibuktikan kebenarannya. Bukan tidak mungkin karena rasa cintanya padamu, ketika suatu hari nanti kau mati, mereka akan mengeluarkan isi perutmu dan mengawetkan jasadmu sebagai bukti kenangan mereka terhadapmu. Itu yang kau mau?”, papar si ikan.

Terdiam Shinbei setelah mendengar si ikan berbicara. Tak tahu ia apa yang sudah hilang darinya, sejak pengalaman hidupnya hanya tinggal bersama si tuan. Bagaimana ia tahu artinya kebebasan jika selama ini yang ia tahu selalu keadaan hidup terkekang?
”Tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang ku mau saat ini. Untuk mencari tahu apa yang ku mau, aku akan tinggal sebentar di sini. Mengamati dan meniru cara hidup yang sama sekali baru bagiku. Dengan begitu aku mungkin akan menemukan jawaban atas apa yang ku mau”, berkata Shinbei pada si ikan.
Senang si ikan mendengar jawaban Shinbei.
Berkata ia, ”Mari, ikut aku! Akan ku kenalkan kau dengan penghuni lain di hutan ini”.
Pergi mereka lebih dalam ke arah hutan, menyusuri sepanjang sungai.
Dan petualangan pertama Shinbei pun dimulai.