Tak ingin otak beku, maka kami jadikan pena sebagai microwave. Kami, sekumpulan manusia pencinta cerita.
Mau bercerita bersama? Mudah saja. Tinggalkan alamat email-mu, kami punya tema baru tiap minggu.
Mari menulis!
Tampilkan postingan dengan label Dega. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dega. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2011

The Hangover

Anda sepasang muda mudi yang akan segera menikah? Jangan melewatkan pesta bujang sebelum Anda bersumpah di altar. Karena mungkin pesta gila bersama teman-teman seperjuangan bisa merubah hidup Anda dalam semalam.

Adalah Doug, calon pengantin pria yang menghabiskan hari bujang terakhirnya bersama Phil, Stu dan Alan. Las Vegas adalah tujuan mereka. Berbekal niat baik dan rencana bersenang-senang a la Vegas, tiba mereka di kota yang konon disebut surga. Surga yang dipenuhi kasino, narkoba dan wanita.

Roofie, sejenis obat-obatan yang biasa digunakan oleh pemerkosa untuk merangsang calon korban juga untuk menimbulkan efek amnesia hingga sang korban tak ingat sama sekali kejadian yang telah menimpanya, adalah awal petualangan empat sekawan ini. Setelah Alan mencampurkan roofie dalam minuman yang mereka tenggak di malam pertama, seketika keempatnya pun masuk dalam lubang cerita tak berjejak. Tak satu pun ingat kejadian yang mereka alami setelah menenggak minuman tadi.

Kesadaran mereka pulih perlahan keesokan harinya bersamaan dengan kenyataan hilangnya Doug. Bertiga mereka mencoba mengumpulkan jejak sang calon pengantin sambil menyibak kejadian-kejadian yang telah mereka lalui malam itu. Rangkaian cerita yang membantu Stu untuk mendengar kembali suara hatinya, menyibak sisi baik Alan si weirdo, menonjolkan sisi jantan Phil, mengasah ketajaman cinta Doug pada calon istrinya serta, yang terpenting, menyatukan mereka dalam persahabatan yang jujur.

Bersiaplah menikmati suguhan komedi a la pria yang membalut pesan sentimentil mengenai persahabatan yang sudah tentu a la pria berjiwa muda.

Oh, can’t wait to have mine, soon. A la wanita tentu saja.

And girls, let’s hangover!

Minggu, 14 Agustus 2011

Harmony – Nyanyian hati para napi

Alkisah seorang wanita narapidana bernama Heong Jeong-Hye, divonis hukuman 10 tahun penjara karena membunuh suaminya. Suami yang di saat terakhir hidupnya dilumuri emosi api cemburu hingga memukuli dan menendang istrinya yang sedang hamil besar. Dan tak ada pilihan bagi Joeong-Hye selain melahirkan di Rumah Sakit penjara, didampingi oleh sipir Kong, malaikat bagi para napi yang menjelma dalam balutan seragam dan pentungan sebagai pengganti tongkat ajaib.

Kedatangan baby Min Woo di penjara wanita seperti sumber air di tengah teriknya padang pasir. Para wanita yang notabene memiliki jiwa keibuan yang besar, mengisi kekosongan jiwanya dengan mencurahkan perhatian dan cinta pada si kecil Min Woo yang memang menggemaskan. Si kecil pun seperti memiliki tiga ibu selain ibu kandungnya; Yeon Si dan Hwaja, teman satu sel Jeong Hye dan Min Woo serta sipir Kong. Juga seorang nenek, Moon Ok, yang juga merupakan teman satu sel. Tak hanya para napi dan sipir, kepala penjara pun memerlakukannya seperti mawar di tengah rerumputan. Kecuali satu, sipir Bang yang berkarakter ketus dan selalu menjaga jarak dengan para napi, termasuk dengan Min Woo.

Heong Jeong-Hye suka sekali bernyanyi, walau tidak bisa dikategorikan bisa bernyanyi. Lucunya, setiap dia bernyanyi, baby Min Woo seketika akan menangis, pasti. Hal ini selalu membuat teman-temannya tertawa tetapi membuat Jeong-Hye sedih. Satu hari para narapidana kedatangan tamu, choir wanita yang bernyanyi di atas panggung dalam ruang serbaguna. Para napi berseragam pun terkesima mendengar indahnya alunan lagu yang bergetar melalui suara indah para penyanyinya. Apalagi Joeng-Hye, berkaca-kaca ia melihatnya, terhipnotis oleh bentuk nyata keindahan hasratnya, musik.

Terinspirasi oleh choir tersebut, Jeong-Hye lalu mengusulkan untuk membuat choir bagi para napi yang kemudian disetujui oleh kepala penjara. Dan pencarian bakat pun dimulai. Adalah Moon Ok, yang kemudian didapuk sebagai pemimpin choir sekaligus dirijen. Bukan hal sulit, mengingat Moon Ok dulu belajar musik dan ahli bermain piano. Piano lah yang memperkenalkannya dengan seorang wanita yang kemudian menjadi guru musiknya. Guru musik yang berhasil memikat suami yang dicintainya. Yang kemudian membuatnya gelap mata hingga mengakhiri hidup mereka berdua menjadi pilihan satu-satunya. Pilihan yang membawanya kini dalam seragam berwarna cokelat, terpidana hukuman mati. Tak banyak yang mengenakan seragam ini, bahkan dalam sel nya, Moon Ok satu-satunya cokelat di tengah biru.

Satu hari datang penghuni baru berseragam biru, Yumi, gadis muda yang dikirim ke penjara oleh kematian ayah tirinya yang bertahun-tahun memerkosanya. Kejadian ini membuatnya menjadi seorang yang pendiam dan tertekan. Anti sosial. Tak dinyana Yumi ternyata memiliki suara indah. Dengan perjuangan rumit, akhirnya choir berhasil mendapatkan Yumi sebagai soprano. Yumi juga lah yang kemudian melatih Jeong-Hye bernyanyi, setelah tersentuh oleh impiannya untuk meninabonokan baby Min Woo. Dan berlatih mereka semua, Harmony Choir, demi panggung pertama mereka di depan seluruh penghuni dan petugas penjara lainnya. Perjuangan panjang pun berbalas, sukses dan pengakuan diraih mereka.

Di tengah kebahagiaan yang mendera, Jeong-Hye harus menelan pil pahit. Sudah saatnya baby Min Woo keluar dari penjara, sesuai dengan peraturan Pemerintah Korea bahwa bayi yang dilahirkan dalam penjara harus keluar untuk kemudian dirawat oleh keluarga atau diadopsi pada usia tiga tahun. Dan si kecil pun diadopsi, oleh sepasang guru. Mawar layu, sumber air kering. Para ibu harus berjuang lebih keras untuk bertahan.

Tahun-tahun berlalu, kesuksesan Harmony Choir sudah terdengar lebih luas hingga mereka diundang dalam acara Woman’s Choir Competition, sebagai bintang tamu. Pada kesempatan ini lah para napi menunjukkan prestasi mereka pada keluarga dan handai taulan yang diperbolehkan untuk diundang. Di ujung penampilan mereka di depan hal layak ramai, ada kejutan dari choir anak-anak yang naik ke panggung untuk bernyanyi bersama. Setiap anak kemudian menggandeng satu penyanyi. Dan di sana lah, Jeong-Hye kembali bertemu baby Min Woo yang kini sudah besar dan tak mengenali ibunya lagi. Momen pertemuan kembali yang sungguh membasahi kekeringan jiwa Jeong-Hye bertahun-tahun ini.

Sepulangnya dari acara tersebut, penjara diliputi aura bahagia, mawar merekah di tiap sudut sel. Hingga satu siang sipir Kong dan Bang mendatangi sel berisi lima wanita yang sudah menjadi keluarga ini. Tidak, alih-alih membawa berita baik lainnya, para sipir ini datang untuk menjemput pemimpin choir mereka, Moon Ok. Nenek berseragam cokelat yang akhirnya dapat melepas seragamnya tersebut dan dapat keluar dari penjara, untuk selamanya.

Jangan sedih, jangan depresi. Itu yang saya katakan setiap habis menonton film ini. Meski di awal film sudah dituliskan bahwa tokoh dan kisah dalam film ini sebagian nyata dan sebagian fiksi, tapi tetap saja terasa begitu nyata dan masuk akal buat saya. Itu yang saya yakini hingga saat ini.

Ini bukan film cewek, bukan film cowok, ini film untuk semua. Film that really kills. Itu sebabnya mengapa saya memilih film ini untuk ditonton dan kemudian sama-sama dibuat resensinya.

Korea; artis, produser, latar, penulis naskah dan semua krunya. Biar banyak orang merubah mind set mereka dan tidak menjadikan film Korea sebagai film kelas dua. Watch first and comment after.

Tissu, itu yang wajib disediakan sebelum menonton film ini. Jangan seperti saya, yang akhirnya harus mengganti baju karena terpaksa digunakan untuk mengerikan cairan yang keluar dari mata dan hidung.

Pesan moral? Padat. Tontonlah, lalu rekomendasikan lah jika merasa perlu menyebar pesannya.

Saran terakhir, jika ada acara penting yang harus dihadiri esok atau setelah nonton film ini, baiknya dimatikan saja dulu, cari waktu lain. Daripada harus datang dengan mata seperti habis jadi korban kekerasan dalam rumah tangga?

Harmony, nyanyian hati para napi.

Jumat, 22 Juli 2011

Wish so hard for your coming

Ada tamu, yang rajin menyambangi para wanita setiap bulannya. Tamu yang mau tak mau mesti disambut karena kehadirannya sungguh tak mungkin tak dihiraukan. Kadang sebelum datang dikirimkannya tanda-tanda, hingga kami, wanita, bisa bersiap-siap. Persiapan macam apa?

Mental, itu yang utama. Karena si tamu, acapkali senang bermain dengan emosi dan suasana hati nyonya rumah. Tak jarang kehadirannya mampu membuat hati uring-uringan. Begini salah, begitu tambah salah. Seperti jatuh cinta, tanpa gelora. Apa lagi?

Jamuan, tak boleh kelupaan. Tak selayaknya tamu-tamu lain, tamu yang satu ini membutuhkan jamuan yang sama, itu-itu saja. Meski si tamu tetap membebaskan nyonya rumah untuk memilih jenis yang dia suka. Nyonya suka, si tamu tentu suka. Ada lagi?

Jamuan ekstra, berbeda dengan yang utama. Bagi sebagian wanita, si tamu dapat menimbulkan nyeri dan rasa sakit yang bukan kepalang. Tak jarang bahkan yang merasakan mual hingga seluruh isi perutnya berdemo dan memaksa keluar. Mengerikan, bukan?

Kalau begitu mengapa tetap dibiarkan datang? Sayangnya kehadirannya tak terhindarkan, sungguh. Dia akan tiba sesuai jadwal, bagi sebagian wanita si tamu bahkan bak kejutan yang bisa datang kapan saja, yang jelas dia tetap akan datang; mau tak mau, suka tak suka. Tapi, di pinggir pantai berpasir putih bahkan kadang ada pasir berwarna hitam, bukan? Tepat.

Adakalanya, sungguh tak biasa, si tamu tak akan kunjung tiba. Kadang sebulan, lebih dari sebulan, atau lebih lagi. Melegakan? Sugguh tidak. Karena tanpa keadaannya, ternyata, wanita dapat kehilangan keseimbangan baik ragawi maupun emotionally. Kok bisa? Bisa.

Sungguh gila si tamu ini, bukan? Datang menyiksa, tak datang siksanya luar biasa. Bak muntah yang tertahan di tenggorokan, kentut yang terikat di ujung lubang, pipis sulit yang membuat anyeng-anyengan, dan bak perjuangan membuat titik di akhir simbol-simbol yang kita buang di dalam jamban.

Maka datanglah hai tamu para wanita! Datanglah setiap bulannya. Jangan kau buat mereka semakin tersiksa, cukup datang saja.

Semangka

Jika saja ada yang bertanya dengan siapa kuhabiskan malamku, semangka jawabannya.

Bertahun-tahun tinggal sendiri baru kali ini kutahu rasanya sepi.

Tiba-tiba ingin tahu rasanya ada seseorang di atap yang sama.

Tetap sesepi ini kah? Entahlah.

Jika saja ada yang penasaran apa yang kulumat sedari tadi, semangka jawabannya.

Bagian terburuk dari tinggal sendiri adalah makan malam.

Tak ada wajah di depanmu, tak ada berbagi cerita, semua ditelan sendiri saja.

Kuputar kembali hariku sambil melumat ini saja, semangka.

Jika kau mau tahu mengapa tak berhenti ku memakannya, semangka.

Kusuka, jawabnya.

Beli satu, luar biasa kenyang ku dibuatnya.

Kembung sih lebih tepatnya.

Jika kau sudah bosan membaca tulisanku ini, aku apa namanya.

Bahkan menulis bisa jadi luar biasa membosankan ternyata.

Tanpa ada siapa-siapa untuk dibacakan sesudahnya.

Oh, semangka.

Cuma ada dia sekarang.

Baiklah, kubagi cerita ini denganmu saja.

Tak perlu kubacakan sepertinya kau bisa tahu ceritaku, duhai semangka.

Di gua mulutku kau berada, antara kepala dan tangan yang sedari tadi bercerita.

Hmm,,, pasti lah kau bisa mendengar kata-kata yang dari atas turun ke dada lalu kulempar melalui jari-jemari yang sedari tadi sibuk kesana kemari di atas papan laptop ini.

Tak perlu kau ikut berkomentar teman merahku, cukup dengarkan saja, jangan buatku tersedak dengan komentarmu.

Aku hanya butuh teman malam ini.

Itu saja.

Sampai di rumah, walau masih di terasnya saja.

Namanya Dian, Dyence biasa kupanggil. Kali pertama ke Saung Mang Udjo, ya Sabtu kemarin. Sudah lama inginku mengajaknya kesana, akhirnya tercapai juga. Sungguh tergila-gila katanya. Iya, aku tahu. Wajahmu tak kuasa menahan kagum sore itu. Wayang golek, gamelan, tari adik-adik cilik hingga para neng geulis yang bergoyang sensual dalam jaipong, angklung pemula, senior, hingga belajar bernyanyi, berangklung dan menari bersama. Oh, sungguh ramai kau rasa! Tak banyak bibirmu bercerita sesudahnya, cukup binar matamu saja kurasa. Dan statusmu hari itu, love saung mang udjo so much! Lebay? Ah, tidak!

Yang ini Dewi, bukan shopaholic. Sudah lama berpesan ingin membeli cardigan-cardigan yang sering kupakai. Di Bandung, kubilang. Iya, kapan-kapan yah, jawabnya. Dan disana lah dia, aku juga. Di Factory Outlet terkenal di jalan Riau, ada dua yang paling besar. Akhirnya terbeli juga, ujarnya senang. Iya, beli, setelah bimbang berkali-kali di tengah berbagai pilihan model dan harga yang ada. Oh Dewi, apakah kau bahagia? Iya, katanya. Satu hal yang kita tahu pria tak bisa pahami, bukan? This is what we call girl’s thing, baby!

Anastasia Khairunnisa, panggil saja Nasto atau Bananastasia. Kalau lihat posturnya, kau pasti lah tahu apa yang dia suka. Makan. Tenang Nasto, kita punya kesukaan yang sama sekarang! Berangkat dari teori bahwa anak Indonesia cerdas berkat MSG, giat sekali dia menjilat ramuan enak nan menghauskan itu dari jarinya. Kenapa makanan di Bandung enak semua ya, Gul? Katanya. Yang di restoran, jalanan, mahal, murah meriah, enak semua! Yang ini setuju saya. Jangan salahkan jika kami menggelembung di Bandung, omelin saja mang-mang yang terlalu serius berjualan makanan!

Satu lagi Karien, dia lah yang membuat kami semua terdampar di Bandung selama empat hari. Tak jelas mau apa, cuma mau jalan-jalan saja. Makan jajan? Oke! Hunting dress di FO? Oke! Bersuka ria di saung mang udjo? Dengan senang hati! Semuanya menyenangkan untuknya, tapi tak lebih menyenangkan dari berputar-putar di jalan saja. Kita muter-muter aja, gapapa. Asik begini, nyasar di jalan yang bener-bener gak dikenal. Sounds so easy, mengingat jalanan di Bandung yang banyak satu arah, Neng!

Kalau saya, Dega. Ke Bandung rasanya seperti pulang ke rumah saja. Tapi bukan berarti saya betah jika tinggal di rumah saja ya. Pasti membosankan itu rasanya. Saya suka duduk di mobil muter-muter di jalan raya, singgah jajan di tempat yang banyak makanan enaknya, kalau tak keberatan bolehlah traktir satu atau dua baju di FO langganan saya, isi batin saya dengan pagelaran musik yang mudah didapat di sini, belum lengkap jika belum masuk ke mutiara, toko peralatan rumah tangga. Oh, semuanya saya suka, dengan masing-masing porsinya. Sepertinya saya sudah sampai di rumah, walau masih di terasnya saja.

Temu kangen (akhirnya)

“Sayang, handukku yang putih ini ya?”

“Iya, iya.”

Kreeettt, pintu kaca kamar mandi terbuka. Seorang pria berdada bidang keluar. Sambil menggosok rambut basahnya, tatapan terhenti pada wanita di ranjang.

”Ow, baru ya?”

”Yup! Special for today,” jawab si wanita bermata besar sambil mengerling manja.

“Aaauuummm…”

Sang pria mengaum sambil menirukan macan kala siap menerkam.

“You too, baby?”

“Aha, for our special day,” ujar wanita lainnya yang sedari tadi duduk manis di jendela, menatap ke bawah sana; dikaguminya taman dengan bunga-bunga terawat indah yang membingkai air mancur.

“Hahahahahhahaaa… My girls!”

Tawa membahana, dua wanita, satu pria.

Kala itu sudah pagi, sekitar jam dua. Tirai putih bermotif ranting kering menari kedinginan oleh hembusan angin dan kaca-kaca pun mulai buram berembun. Di ranjang berukuran raja terbaringlah tiga insan yang sedang berbahagia setelah melepas rindu. Rindu serindu-rindunya setelah dua tahun berpisah. Dua tahun yang terasa sungguh menyiksa bagi ketiganya. Masa-masa yang kini dengan mudahnya mereka lupa.

”Hhhhmm...”

Sang pria terlihat terjaga, matanya membuka ditengah empat mata lainnya yang sudah menutup damai. Ditatapnya televisi yang menayangkan salah satu konser band asing favoritnya, Guns ’n Roses. That’s a rock star! Ujarnya dalam hati. Beringas dan ganas. Well that’s me. Pemandangan panggung besar dengan penonton jutaan membawanya kepada kenangan kala dirinya nyaris setiap hari berdiri dari satu panggung ke panggung lain. Betapa dia merindukannya. Segera, batinnya. Tiba-tiba saja perjalanan kenangan lompat ke hari saat dia mendapatkan kembali kebebasannya, “Tenang, semua sudah beres,” ujar ahli hukum yang membelanya selama dua tahun belakangan. Para ahli yang bayarannya sangat menguras tabungannya, juga kekasihnya. “Kok bisa, Bang?” tanyanya penasaran. “Si habib akhirnya mau terima amplop kita, massanya gak akan diturunkan lagi janjinya.” Alhamdulillah.. “Kok akhirnya mereka mau juga, Bang?” tanyanya pensaran. “Itu dia, setelah kita naikkan empat kali lipat baru mereka gubris. Memang sialan tuh pada!” Terserah lah bagaimana caranya, akhirnya aku bisa menghirup udara kebebasan lagi.

“Si om-mu bagaimana akhirnya, babe?” Perjalanan kenangannya terbang ke adegan beberapa jam lalu, di ranjang tempat dia berbaring sekarang.

“Iya, gimana tuh akhirnya? Kita beneran sudah aman?”

“Iya, kalian tenang aja. Suamiku sudah membungkamnya.”

”Kok bisa?”

”Iya, kok bisa?”

”Si mas menawarkannya proyek besar di Papua. Setelah teror-teror yang tak habis-habinyas kami terima, akhirnya dia mau menunjukkan batang hidungnya.”

”Kalian sudah ketemu lagi?”

”Iya, kami bertiga.”

”Lalu?”

”Ya dia tanya penawaran apa yang bisa kami kasih. Si mas paparkan semua, dia tertarik, perjanjian langsung dibuat saat itu juga.”

”Saat itu juga?”

”Iya.”

”And here I am. Thanks to my dear husband.”

“To your dear husband!” Si pria mengangkat gelas berkakinya.

“Ya, to your beloved husband!” Wanita bermata besar turut mengangkat gelasnya.

“To the best husband in the world!”

Dan tersenyum penuh makna, ketiganya.

“Does he, your husband, know that you are here, today?” Wanita yang masih berstatus single itu mengemukakan rasa penasarannya.

“That I’m in your house?”

“Yup!”

“Should he?” jawabnya nakal.

“Hahahahahaaa….”

Tawa bahagia ketiganya membahana, diselimuti kecupan manja si pria pada kedua wanitanya. Wanita-wanita yang telah membuktikan padanya apa arti setia.

Kamis, 21 Juli 2011

Tiba giliran kami, Merapi.

Baru kemarin titah sampai dari tetua; Bangun! Jangan terlena kalian bermalas-malasan. Sudah saatnya wajah bumi diperbaiki. Berpuluh tahun sudah kami beristirahat, meski sewindu terakhir saudara-saudara kami telah mulai bekerja kembali, memperbaiki wajah bumi, meminjam istilah si empunya. Renggang dirapatkan, rapat direnggangkan, daratan dilautkan, laut didaratkan, cekung diratakan, rata dicekungkan, subur ditanduskan, tandus disuburkan. Dan kini giliran kami, Merapi.

Ini malam hari, kusuka. Kupikir tak perlu lagi terik menyilaukan bara yang kami punya. Memperbaiki wajah tak mesti menarik perhatian dunia, kurasa. Biasa saja. Ibunda alam semesta selalu mengingatkan untuk tak mengejutkan mereka, manusia; kirimkan tanda-tanda pada mereka, jangan pernah lupa! Dan disinilah kami, bergerak bersama, terengah guna mengirim sedikit tanda pada mereka, sesama penghuni alam semesta, manusia. Salah satu adik kecil kami mulai bersendawa, guna mengirim tanda selanjutnya. Sepertinya mereka sibuk sekali, tak ada yang mengungsi, lapor si kecil. Coba sekali lagi, kali ini gerakkan jemarimu. Sejujurnya tanda adik kecil kami cukup mengguncang, entah mengapa mereka tak bereaksi banyak. Mungkin ini yang ibunda sebut tanda tak sampai.

Malam tiba, mentari tenggelam di pelupuk mata. Saatnya bekerja, kami seada-adanya di tepi Jogjakarta. Si kecil, si besar, si tepi, si inti, si kaki hingga si perut lahar. Bergoncang kami, ke kiri dan ke kanan. Mengaduk lambung berisi lahar yang sudah terlalu lama tergodok di perut bumi. Dimuntahkan, belum semua, cukuplah kami rasa asam-asam yang ada di permukaan saja. Berguncang kami, bersama malam.

Maafkan kami wahai sesama penghuni bumi, tak ada niat untuk menyakiti. Inilah kontribusi kami, Merapi, dalam memperbaiki wajah bumi. Layaknya kalian yang selalu mengeraskan tanah, meratakan pepohonan, menghirup sungai dan lautan hingga memanaskan permukaan. Ini, cara kami. Meluberkan lahar di atas karpet hijau kalian, mengabu-abukan jerami tempat kalian berlindung di malam hari. Tak beda dari yang sudah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kami.

Dari dulu hingga kini kami tetap Merapi, gunung tinggi yang bertugas memperbaiki wajah bumi kala titah sudah menyambangi. Dari dulu hingga kini kalian tetap manusia, penghuni alam semesta yang memiliki tugas yang sama juga. Dan kini, terimalah salam dari kami, Merapi.

Makanan Terenak Sedunia

Jangan kau minta aku menganalogikan dengan yang lain, belum, belum bisa. Kalau iklan bilang, tak ada tandingannya! Kering, garing, basah, berkuah. Manis, pedas, renyah, spicy! Oh, so Indonesiana!

Ingat punya ingat, hingga kini aku tak ingat kapan kali pertama mencobanya. Hmm... waktu SD sepertinya, atau mungkin sebelumnya? Mungkin saja. Yang jelas masih kuingat, jajanan favoritku ini dijual oleh pedagang pria (kalaupun ada yang wanita, belum pernah kujumpa) dengan menjinjing apa itu namanya ya? Gerobak kah? Anggap saja namanya gerobak tak beroda. Gerobak yang terbuat dari kayu ini terdiri dari dua bagian, yang dijinjing di kanan dan di kiri bapak penjual. Biasanya, yang di kiri terdapat kotak kayu dengan pintu geser. Kalau digeser ke atas, kita bisa lihat tahu-tahu kotak berwarna cokelat berhimpitan, bak anak pramuka di bak terbuka. Di depan kotak, ada space kecil berfungsi sebagai talenan dan tatakan. Gerobak bagian kanan ada botol-botol berisi cairan magic. Campuran gula merah dan cuka, sepertinya. Juga tumpukan piring-piring kecil, hitam, dingin karena terbuat dari batu, cantik sekali. Cabe rawit hijau, bawang merah, putih dan tusuk gigi.

Kau sudah tahu aku membicarakan apa? Yup! Tahu gejrot! Oh, menyebutnya saja membuatku sakaw. Entah kapan terakhir kali aku memakannya. Harus main ke rumah Dian lagi sepertinya.Hehe, Dian itu temanku, di rumahnya penjual tahu gejrot rutin lewat. Kalau di tempatku, sudah jadi barang langka. Mungkin di SD-SD masih ada ya? Kurang tahu juga. Kalau sudah di rumah Dian, telinga dan mataku siaga siang-siang, waktunya tahu gejrot datang. Sebetulnya, mata sih yang siap siaga, karena penjual tahu gejrot tak punya bel atau jingle seperti penjual es krim. Paling yah teriak saja, ”Tahu gejrot!” malah tak jarang tanpa suara, lewat saja.

Eh, kau pernah makan makanan yang berasal dari Cirebon ini belum? Don’t die before you try it! Hahaha.. Sini, ku kasih tahu rahasia! Kalau kau jajan ini, bilang, ”Yang pedes ya, Bang!” Ini salah satu tangga menuju surga. Si Bapak akan mengambil cabe rawit, sejumput bawang merah dan putih, sedikit garam, lalu diulek di atas piring batu. Tahu kecil-kecil berwarna cokelat tadi itu ternyata sudah digoreng sebelumnya, tapi bukan waktu kita pesan, tapi di rumah si bapak penjual. Tahu tadi akan dipotong kecil-kecil, arbitraire, lalu ditaruh di atas piring batu bersama bumbu ulekan. Kemudian si bapak akan menuangkan kuah gula merah di atasnya, sambil diaduk-aduk biar merata. Cabe rawit dan bawang akan terguling ke atas, hingga pemandangan menjadi cantik, hijau, merah, putih dan cokelat.

Tahu kering sudah bermandi kuah sekarang. Kini yang kau butuhkan cuma satu, tusuk gigi. Bukan untuk mendongkrak yang nyelip-nyelip di gigi, tapi ya itu, tusuk tahunya, lalu haaammm... lahaplah! Enak kan? Eits, eits! This is the best part, tempelkan bibir piring ke bibirmu, hirup kuah manis pedasnya, hhhhmmm…. Bagaimana? Magic kan? Sensasi dingin dari piring batu itu loh, bikin tambah semriwing saja. Dinginnya membawa kita ke sumber mata air Aqua! Hahaha…

Ah, menyiksa ini. Jadi sakaw lagi. Slllrruuppppp!!!!

Indonesia Oh Indonesia

Mengagumi wanitamu yang laris manis bagai kacang goreng di pasar internasional, perlulah kiranya melindungi mereka, pikirmu. Melapisi dengan keamanan finansial jikalau terjadi perceraian ataupun kekerasan yang sudah lumrah terjadi di tempatmu. Lima ratus juta, hanya lima ratus juta yang diperlukan untuk mengambil alih wanitamu, Indonesiaku. Nilai yang seharusnya cukup untuk menghapus luka batin dan luka tubuh mereka. Bukan begitu?

Lupakah kau, bahwa pria-pria di tempatmu lah yang sedang ramai mengasah hobi mereka dalam menunjukkan kejantanan. Masihkah tersimpan dalam ingatanmu kejadian dua minggu lalu tentang seorang anak yang dipasung ayahnya, atau istri yang mati terbunuh oleh suaminya, juga dua wanita yang sibuk meminta pertanggungjawaban pria yang menghamili mereka, oh ya, satu lagi, kisah para ibu yang tak kuasa mengambil anak-anak mereka dari suaminya pasca perceraian walau pengadilan telah memberi hak asuh pada mereka? Lupakah kau?

Sebegitu ringkih kah nasib para wanitamu yang menikah dengan pria asing sehingga kau merasa lebih perlu melindungi mereka dengan undang-undangmu dibandingkan dengan mereka yang menikah dengan pria-pria jantanmu? Indonesia oh Indonesia.

Menjunjung tinggi presidenmu yang gagah dan santun luar biasa, cermin kepribadian bangsa. Hingga tak perlu lagi membuka dua mata atas segala gerak geriknya, percaya saja. Indonesia, masih ingat kah pemandangan cucuran darah dari para korban pemboman di hotel Marriott yang kedua kalinya itu? Keluarkan jarimu, tunjukkan padaku, berapa banyak manusia yang menghembuskan nafas terakhirnya di tanahmu! Saat manusia di negerimu juga di belahan dunia lain berbelasungkawa atas tragedi yang itu-itu lagi, presidenmu sibuk meminta simpati, simpati dari negeri. Wahai negeri, tataplah diriku, jangan yang lain. Kalian tahu betapa tak amannya kehidupanku saat ini? Ada se pasukan oknum yang sibuk berlatih dan siap menjadikan saya sebagai target mereka. Misi mereka hanya satu, RI 1 harus mati. Ini bukan gosip, ini fakta.

Indonesia oh Indonesia, bisikkan lah pada presidenmu itu. Jangan bikin malu, berperikemanusiaan lah sedikit. Bukan itu yang kami perlu dari mulutmu. Ya, kau, Indonesia. Ingatkan lah dia. Karena sesungguhnya dia bertugas berbakti untukmu, begitu juga dirimu.

Sibuk memandangi gedung beratap keong di ibukota, hingga kau sibuk mengeringkan lumpur di sana. Apa yang kau amati, Indonesia? Para dewan yang terhormat? Oh, itu, yang bersafari dan berdasi, atau yang berbatik yang nyaris dicuri? Ada apa dengan mereka? Sibuk bekerja?

Indonesia oh Indonesia, setel televisimu, ganti salurannya, jangan sinetron atau acara cari jodoh saja! Kau lihat itu berita di layar kaca. Para dedasi kisruh, berebut bicara yang tak diindahkan pemegang kuasa. Berebut bicara yang entah apa dan untuk kepentingan siapa. Membingungkan. Mungkin itu yang membuat si pemegang kuasa memilih untuk mengetuk palu, selesai. Indonesia oh Indonesia, sungguh berdemokrasinya dirimu.

Mengaku sebagai negara berkembang hingga mewajarkan kemiskinan dan kesejahteraan yang tak merata. Ekonomi, kuncinya. Negara yang maju adalah negara yang dikelola oleh mereka, para ahli ekonomi. Hingga perlulah kau rasa menempatkan mereka di berbagai arena. Pendidikan, kesejahteraan sosial, pariwisata, kesehatan, hingga wakil presidenmu pun haruslah seorang ekonom.

Berhemat, kita harus berhemat, ujarmu. Berhenti meminjam uang dari luar negeri, mematikan listrik bergilir, menyubsidi kompor dan gas hingga membatasi pembelian bahan bakar. Pintar.

Seperti ember yang terus diisi tapi tak kunjung penuh karena ada lubang di dalamnya, bukan? Jangan menunduk begitu, Indonesiaku. Kau sibuk berhemat, tapi tak kuasa mencegah penjarahan. Bisakah disebut sebagai kejahatan keuangan terbesar di negerimu? Jangan pura-pura tidak tahu. Itu, yang masih ramai diusut hingga jadi kusut. Kasus Bank Century mu, Indonesia.

Sulit merasa kecurian kalau caranya santun begini, bukan? Dan apalah artinya enam koma tujuh trilyun jika semuanya tetap mengalir ke negerimu. Iya, negerimu. Walau tak merata, tapi kan tak kemana-mana larinya. Jadi, apakah kau merasa kecurian, Indonesia? Indonesia oh Indonesia.

Meyakini bahwa semua orang bisa berbakti pada negeri, kau izinkan semua warga turut serta. Bangun negeri, berpartisipasi sana sini, tanpa pilih-pilih. Dari Ayu Azhari, Maia Estianty, Rachel Maryam, Dede Yusuf, semua boleh ikut!

Dari, oleh dan untuk rakyat, teguhmu. Masihkah membuka lowongan, Indonesia? Saranku, ajak juga Pasha Ungu, Luna Maya, Charly ST12, Aura Kasih, Krisdayanti, Ahmad Dani, jangan lupa Raffi Ahmad! Hidup Indonesia!

Tersesat

“Sore Pak! Bisa lihat surat-suratnya?”

Lengkap.

“Bapak tahu kesalahan Bapak?”

Bosan juga dengan kalimat ini.

“Tadi masih merah, Pak.”

Pasti Bapak ini tidak melihatku tadi.

“Itu kan sudah ada penghitung mundurnya, Bapak seharusnya menunggu dulu. Ini surat tilangnya ya Pak, silahkan diurus langsung di pengadilan.”

Bikin susah saja surat tilang berkarbon warna-warni ini.

“Damai gimana?”

Kalau ditawarkan mah bukan salahku.

“Ya sudah, ini surat-suratnya. Jangan diulang lagi, Pak. Hati-hati.”

Mundur sedikit, memberi jalan.

“Iya, mari. Sore!”

Surat-surat yang dimaksud adalah STNK dan SIM. Iya, tadi memang masih merah lampunya, Bapak pengemudi pikir, “Ah, sepi ini! Bablas saja!” Tak tahu dia ada Pak Polisi yang sengaja bersembunyi di rerimbunan pepohonan. Mengapa sengaja? Karena ini tanggal tua, uang saku sudah habis, bukan lagi tipis.

Maraknya gerakan anti korupsi menyusahkan Pak Polisi. Apalagi polisi lalu lintas seperti dia, kalau tidak dari kesepakatan damai di jalan, darimana lagi bisa dapat uang jajan? Gaji yang segitunya saja tak bisa dibilang cukup untuk keluarga kecilnya. Motor dinas yang gagah tak daya mengangkut seluruh keluarganya bertamasya. Rumah mungil di komplek Brimob jelas-jelas membatasi ruang gerak tubuh besarnya. Belum lagi tuntutan Ibu Polisi yang sibuk di darmawanita untuk dibelikan baju bagus tiap bulannya, juga anak-anak yang malu pakai hp model lama.

“Makan, De!”

Mi rebus dengan sawi dan telor siang-siang memang enak.

“Udah dapet hari ini?”

Waduh! Mi nya yang luar biasa enak hari ini atau aku yang lapar sekali?

“Udah tadi, di Senopati. Dapet tiga.”

Lagian mana bisa dapet kalau di persimpangan besar begini.

“Sana, lu pergi ke ujung jalan sana. Jangan berdiri di tengah jalan gini, ngumpet dikit!”

Begini aja mesti diajarin.

“Jangan main tembak, lu kasih dulu itu surat tilang! Basa basi lah sedikit. Hahaha..”

Polos bener ini anak.

“Ya mesti begini lah, kalo nggak ntar anak gue jajan darimana?”

Gayanya udah kaya kebanyakan uang aja nih anak.

“Dedikasi?”

Gila! Hari gini masih ada aja yang kaya dia.

“Ini yang namanya dedikasi. Sama orang tua. Tahu sendiri kita habis berapa buat masuk akademi. Ibu Bapak gue ngabisin kontrakan sama sawah. Pasti keluarga lu juga kan? Masa terus abis lulus lu gak dapet apa-apa dengan modal segede itu! Ya lu harus cari akal gimana caranya biar bisa balik modal.”

Memangnya bisa bikin kenyang tuh dedikasi?

“Itu dia! Gue salah milih jurusan. Kenapa juga mau jadi polantas? Dulu memang basah di sini, gara-gara orang-orang yang sok-sokan anti korupsi aja tuh sekarang jadi kering begini!”

Jadi penasaran, memangnya orang-orang itu hidup dari mana ya?

Bapak polisi ini cita-citanya mau jadi pelukis, dari kecil suka gambar dia. Waktu SMA anggota klub mading; majalah dinding, gambarnya dipajang setiap minggu di lorong sekolah. Banyak yang memuji. Nah, waktu mau melanjutkan kuliah Pak polisi bilang ke bapak ibunya, “Pak, Bu, saya mau belajar seni rupa. Mau mendalami ilmu menggambar. Saya suka.” Waktu bilang itu si Pak polisi ketakutan setengah mati, karena sedari kecil bapaknya selalu bilang, “Nanti kalau besar jadi polisi ya mas. Itu impian bapak dulu, tapi apa daya, eyang gak ada biaya, jadi bapak ya cuma jadi pedagang gini saja.” Begitu. Terbukti, si bapak langsung menonjol urat-uratnya, “Mau jadi apa kamu belajar gambar, hah? Mau jadi pelukis?” Pak polisi memang belum tahu mau jadi apa nantinya, yang dia tahu adalah dia suka gambar dan mau serius belajar menggambar. ”Iya jadi pelukis juga gak papa, Pak.”

Kalian tahu rasanya saat mimpi besarmu ditertawakan? Pak polisi tahu. Karena bapaknya tertawa geli mendengar impiannya. ”Pelukis, mau makan apa kamu? Makan kuas? Mana ada perempuan yang mau kawin sama pelukis, hah?” Diam. Pak polisi cuma bisa diam. Diam tak melulu tanda setuju, bisa juga tanda tak tahu. ”Sudah, jangan banyak omong kamu. Bapak sudah urus biar kamu masuk akademi polisi. Kenalan bapak ada yang bisa bantu. Bapak sudah keluar biaya banyak, jangan kamu kacaukan. Diam saja, siap-siap kamu pergi ke asrama. Jadi polisi itu membanggakan keluarga.”

”Bu! Bapak pulang. Masak apa?”

Awas kalo nggak masak lagi. Memangnya apa sih kerjanya setiap hari?

”Yang benar saja sedikit, Bu! Sudah tiga hari ini nggak masak. Memangnya uang belanja dikemanain?”

Sibuk, sibuk. Gayanya sudah kaya wanita karir saja. Memangnya digaji itu sama darmawanita?

”Terus aku dan anak-anak makan apa? Beli padang lagi? Bisa mati over dosis kami!”

Padang lagi.. padang lagi…

“Mau kemana lagi, Bu? Suami baru pulang sudah mau kelayapan!”

Persetan dengan darmawanita!

”Memangnya digaji kamu sama mereka? Memangnya yang kasih uang belanja mereka, hah? Tugasmu itu ya di sini, di rumah. Melayani suami dan ngurus anak-anak. Bukannya sibuk kondean ngumpul kesana kemari!”

Alah! Mulai deh berdalih. Wanita!

”Terserah! Sudah, pergi sana. Terserah kamu saja.”

Lebih baik kalau dia tak ada di rumah, lebih tenang.

Pak polisi lalu mandi, membersihkan diri dari debu-debu jalanan yang diraupnya seharian. Niatnya mau menonton tv, kala tak sengaja melihat kain berwarna menyembul dari pintu gudang. Kain itu akrab sekali dengannya, dulu. Itu kain pembungkus kanvas-kanvas kosong. Ditariknya itu kain yang memeluk tiga kanvas putih, bersih. Di baliknya ada kaleng cat kosong berisi kuas-kuas yang rambutnya sudah kaku, mati suri. Terbersit kerinduan yang luar biasa untuk bermain dengan mereka. Luar biasa. Tiba-tiba terdengar suara masa lalu, tak akan lagi ku menggambar, melukis, apapun itu. Mati, sudah mati. Mimpiku sudah kukubur hidup-hidup. Sejak ku langkahkan kaki ke dalam akademi, aku tak lagi hidup bersama mimpi. Ku berjanji.

Pak polisi teringat kalau dia sedang sendiri. Tak akan ada yang tau kalau dia melukis lagi. Dikuncinya pintu rumah, dibawa teman-teman lamanya ke teras belakang, lalu terdengar itu, sayup-sayup, mimpi-mimpi, mimpiku, tolong datang lagi. Tak mau lagi hidup begini. Bingung, kacau, buram. Tolong beri aku pencerahan, terang.

Kekasih Gelap

Siapa bilang hidup di Jakarta susah? Ambu.

Siapa bilang bisa makan saja sudah untung? Neneng.

Siapa bilang harus siap mental dinyamukin? Asep.

Siapa bilang paling banter ngontrak di rumah triplek? Abah.

Payah. Semuanya payah.

Ambu, sok tahu. Ke Jakarta saja baru sekali, waktu Bi Omas ngawinin anaknya.

Neneng, kerja di salon dari pagi sampe malem cuma bisa beli kalung emas.

Asep, ah si Asep lagi! Jaga toko voucher pulang kampung gak bawa apa-apa.

Abah, katanya sih waktu muda sering ke Jakarta, tapi Blok M aja gak tahu!

Orang bilang Jakarta kota metropolitan, segala ada.

Benar, itu! Tinggal sebut, ada dia.

Orang bilang Jakarta tempatnya wanita bergaya.

Surga! Semua pakaian bisa dipakai, tanpa ada gunjingan tetangga.

Orang bilang di Jakarta semuanya gaul.

Tak mungkin punya teman kalau tidak gaul.

Orang bilang Jakarta gak pernah tidur.

Kalau tahan, melek saja dua puluh empat jam, pasti tak akan kesepian.

Ambu, andai Ambu tahu gampangnya hidup di sini.

Nanti Lilis ajarin, ya!

Neneng, ah ngapain kamu ngeramasin orang setiap hari?

Jangan-jangan kamu gak tahu rasanya dikeramasin!

Sep, Asep, jual voucher tapi kamu sendiri jarang punya pulsa.

Gimana itu ceritanya?

Abah, jangan-jangan Abah gak kenal apartemen, ya?

Lilis, memang gak bisa sampe sesukses Desi Ratnasari, apalagi Mayangsari.

Meski Lilis gak pernah nyanyi di tv, tapi Lilis nyanyinya lebih pinter dari Teh Desi.

Biar Lilis telat kenalan sama Om Bambang, tapi Lilis pernah ketemu di Sentul.

Teh Desi, Lilis nyanyi loh setiap hari, dulu tiap malem ke karaoke, sekarang Lilis udah punya mesin karaoke sendiri.

Mbak Mayang, Lilis juga punya Om kaya Mbak, tapi belum gol sampe ke KUA.

Neneng, Lilis ke salon loh tiap hari, dirawat sampe ujung kaki.

Asep, tahu gak kalo Lilis udah pake Blackberry?

Ambu, Lilis punya kartu kredit di dompet sekarang.

Ambu kapan-kapan Lilis belanjain ya!

Abah, Lilis gak sempet ngerasain triplek.

Abis dari kontrakan, Lilis pindah ke apartemen mewah.

Nanti Abah nginep di sini ya! Biar bisa liat Jakarta dari atas.

Tapi nanti ya!

Sabar dulu semuanya.

Lilis baru bisa ajak semuanya nanti, sebentar lagi.

Sebentar lagi, kata Om Henri.

Tunggu istrinya pulang dari Hongkong, baru semua bisa diselesain.

Mudah-mudahan istrinya gak langsung ke Singapura, kayak yang udah-udah.

Kadang abis dari Singapura suka langsung ke Bangkok.

Jadi tambah lama deh!

Tambah lama semuanya.

Tambah lama Lilis ke KUA.

Tambah lama juga Abah sama Ambu Lilis bawa.

Dodi Dambudi

”Thank you ya Jay!”

”Sip! Sip!”

Ya, kalian lihat itu dua pria yang sedang berbisik-bisik di rerimbunan beringin? Itu dia Dodi Dambudi, yang satunya lagi Jay, tetangga sekaligus teman nongkrongnya. Kenal pertama kali waktu si Dodi minta api sama Jay, api untuk rokoknya. Bukannya Dodi tak punya korek, hanya saja itu trik standar pria untuk berkenalan, terlibat dalam obrolan hingga terikat dalam suatu hubungan emosi, mereka. Hubungan yang katanya hanya para yang bisa paham, lewat obrolan sebatang rokok.

A Mild itu rokoknya, baru saja dibeli sore tadi di warung rokok depan kantor. Dulu Dodi suka sekali A Mild mentol, tapi sejak Ujang, teman satu kantornya bilang kalau mentol bisa bikin mandul, berhenti dia. Walau belum kepikiran menikah, tapi mana mau dia tak bisa punya anak? Enak saja, batinnya. Nanti tidak ada lagi penerusku, Dodi ”tampan” Dambudi. Ya, dia memang menyadari sejak lama asetnya yang satu itu, wajah tampan pria kebanyakan. Bukan tanpa alasan, sudah sedari kecil ibu-ibu seringkali gemas pada wajahnya, tak jarang dia dicubiti kala mengantar ibunya ke pasar Pasuruan, berbelanja sayur mayur sebelum menjadi lauk matang yang dikerubungi lalat di warteg Bahagia, usaha turun temurun keluarganya.

Belum lagi teman wanita di sekolah yang sering mengirimkan salam, pernah malah dua orang mengirimkan surat cinta yang ditulis di atas kertas merah jambu beraroma minyak wangi yang membuat mual. Tak sulit baginya mendapatkan kekasih, sudah lima kali dia menjalin kasih. Dua pacar pertama didapatnya di Pasuruan, teman SMP dan tetangganya. Tiga pacar di Surabaya, teman SMA dan teman dari teman SMAnya. Empat tahun Dodi tinggal di sana, menumpang Pak Le’nya. Sungguh masa-masa yang tak terlupakan, SMA dan satu tahun setelahnya kala dia masih bekerja di sebuah toko buku terbesar di Indonesia.

Sesungguhnya Dodi tak suka buku, itu yang membuatnya tak tahan untuk bekerja lebih lama di sana. Sejauh mata memandang, hanya buku yang bisa dilihatnya. Mana dia harus menguasai jenis dan letak buku-buku itu, lagi! Betapa menyiksa, keluhnya. Tapi selama itu juga dia harus berpura-pura kerasan, daripada dikirim kembali dia ke Pasuruan, meneruskan usaha keluarganya yang tak dia suka. Bangun lebih pagi dari ayam jago, berbelanja di keremangan sambil berbecek-becekan, mengangkut belanjaan untuk kemudian dibersihkan dan disiangkan, lalu menghabiskan berjam-jam untuk menjadikannya siap makan, menyusun piring-piring di lemari kaca juga di bawah meja, lalu sigap tiap saat melayani para pelanggan yang kelaparan, menghitung dengan cepat kala mereka membayar, membersihkan warung dan piring-piring di malam hari setelah semua terjual habis, menutup warung jam sebelas malam, lalu tidur dan bangun sebelum sang ayam, begitu seterusnya. Huh, membosankan!

Pucuk dicinta ulam pun tiba! Di ujung kesabaran berkutat dengan buku-buku, datang itu tawaran dari Parjo, temannya yang akan bekerja di Jakarta.

”Dod, kowe gelem ra kerjo ning Jakarta? Masku ono gawean.”

”Tenane? Gelem! Gelem!”

”Kowe siap-siap disik wae, Minggu ngarep bareng aku ning Jakarta. Numpak kereto.”

Dan tibalah mereka di Jakarta. Stasiun Gambir, saksinya. Lanjut naik bis kota dan dijemput di terminal Blok M. Ramai sekali, Jakarta! Semua orang sibuk, banyak yang berpakaian bagus, persis seperti di tv. Aku bakal betah, sepertinya.

Empat ratus ribu sebulan, uang sewa petakan kontrakan itu, tempat kakaknya Parjo tinggal. Yang kemudian jadi tempat tinggal Dodi dan Parjo juga. Benar, langsung bekerja mereka esoknya. Berkat kakaknya Parjo. Parjo bekerja di salah satu supermarket terbesar di Indonesia, berseragam dia. Bekerja dari jam tujuh pagi sampai sepuluh malam. Dodi, di toko buah lantai dasar sebuah apartemen. Toko buah kecil, tapi dipenuhi dengan buah-buahan impor, kesukaan para penghuni apartemen. Saat buah baru sampai, masih di dalam peti dan diturunkan dari truk, untuk kemudian dibuka dan disusun di toko, boleh itu Dodi mencicipi sedikit, ”asal tidak ketahuan Pak Manajer”, bisik temannya.

Plum, itu buah kesukaannya yang baru. Ungu nyaris hitam, seperti terong kecil yang biasa dilalap, tapi lembek. Rasanya tidak manis tak juga asam. Ya, pas dengan seleranya. Betah Dodi di sana, tak lagi dikelilingi buku, tapi buah dan bukan buah-buahan biasa. Delapan bulan Dodi di sana, kerasan, hingga satu hari di Musholla bercakap-cakap dia dengan Iman. Iman tak bisa dikatakan teman, tidak juga lawan. Sering bertemu mereka di Musholla, basement apartemen, setiap waktu sholat; zuhur, ashar, magrib, isya.

”Mas, sudah berapa lama kerja di sini?”

”Delapan bulan,” jawab Dodi.

”Oh, baru ya.”

”Lumayan. Kenapa Mas?”

”Oh, nggak. Ini ada lowongan di tempatku. Mau gak?”

”Eh? Serius?”

”Iya, serius. Ada yang keluar, pengumumannya belum ditempel sih, paling besok. Kalau kamu mau, aku bilang ke bosku.”

”Mau! Mau! Kerjanya apa, Mas?”

”Gampang kok! Marketing. Cari-cari member aja.”

”Cari orang yang mau fitnes, maksudnya?”

”Iya. Gampang kok. Kita sudah disediain databasenya. Tinggal telpon aja, bikin janji ketemuan, kita jelasin paket-paketnya, promosi, gitu.”

”Oh, terus-terus?”

”Ya nanti setiap kita dapet member, kita dapet bonus, Mas. Di luar gaji bulanan kita.”

”Wah, asik donk. Berapa Mas bulanannya?”

”Waduh! Kalo itu Mas tanya langsung aja sama bosku. Kalo mas mau, nanti saya bilang ke bosku, nanti saya kabarin lagi ya!”

”Iya, saya mau. Makasih ya, Mas!”

”Ok! Besok paling kita ketemu lagi kan? Besok saya kabarin yah!”

”Iya! Iya! Makasih banyak ya, Mas. Makasih.”

Wah, keren sekali! Seragamnya saja keren begitu. Yang fitnes banyak orang-orang kaya, muda-muda. Aku pasti bisa bergaul dengan mereka, jadi anak Jakarta! Akhirnya, aku bisa mewujudkan impianku, jadi orang sukses di Jakarta! Emak pasti bangga. Kerja di mana si Dodi? Di tempat fitnes di apartemen. Widih! Gak sabar besok.

Tak sulit jalan Dodi untuk berpindah kerja. Setelah meminta Parjo menggantikannya, Parjo yang tersiksa bekerja di supermarket besar setuju dengan serta merta. Itu dia, Dodi berbalut seragam ungu, kemeja pas di badan dan celana panjang pas di bokong. Harus begitu, ukurannya, sudah standar tempat kerja mereka.

Dengan mudahnya Dodi beradaptasi dengan ritme dan suasana di tempat baru ini. Sudah terbiasa juga dia melihat wanita berpakaian seksi lalu lalang, juga pria kekar mengejan memanggil ototnya keluar. Rambut Dodi kini dipangkas rapi, cepak, tapi tetap di beri jel setiap hari. Gaji pertama dibelikannya jam tangan besar, yang sedang model, kata teman-temannya. Gaji kedua dibelikannya sepatu kets warna ungu, senada dengan seragamnya.

”Dod! Kenapa belakangan ini loe pulang malem terus, sih? Betah amat di kantor!”

”Haha! Iya nih, abis bingung di kontrakan mau ngapain.”

Kini Dodi sudah tinggal bersama Parjo, pindah dari kontrakan kakak Parjo. Mengontrak mereka berdua di dekat apartemen, tempat kerja mereka.

”Memangnya belum punya temen loe di sana?”

”Belum.”
”Gaul donk makanya! Hahahaha...”

Itu Iman, yang tidak tahu alasan utama Dodi. Dodi Dambudi, teman kita yang satu ini, sedang jatuh cinta, kawan-kawan. Pada seorang wanita cantik jelita, member fitnes tempat dia bekerja. Dodi seharusnya selesai bekerja jam tujuh malam, tapi sejak dia melihat Linda di sebuah malam, jam delapan tepatnya, yang sedang berkucuran keringat, terkesima dia.

Tak biasa. Ini bukan gadis biasa, batinnya. Aku harus kenal dia, Linda. Jadilah semenjak saat itu hari-hari Dodi dibayang-bayangi sosok Linda; tinggi, semampai, langsing, tubuh padat, kencang dan berotot, putih, rambut ikal panjang kemerahan, bibir lebar menawan, serta alis indah bak ulat bulu. Oh Tuhan!

Linda, ternyata anak kost. Satu daerah mereka. Pernah satu pagi Dodi melihat Linda dijemput di depan kostnya. Dijemput oleh sepeda motor, maksudnya oleh seorang pria yang mengendarai sepeda motor. Aku tahu pria itu! Yang suka nongkrong di dekat kontrakan, tukang ojek. Oh, dia langganan si Linda, pujaan hatiku.

Maka malam itu, keluarlah Dodi dari kontrakan, nongkrong dia bersama tetangganya. Ada Jay juga, tentu saja. Semua tetangga ramah, ternyata, terutama Jay, tentu saja. Asik diajak ngobrol juga, apalagi Jay, tentu saja.

Jadi, Linda memang sudah cukup lama berlangganan dengannya. Bekerja di daerah Sudirman, katanya. Linda memang suka berolahraga, selain fitnes, sering juga diantar ke kolam renang. Alih-alih mendekatinya di kantor, Dodi lebih memilih Jay sebagai jembatan penghubungnya. Karena di kantor, terlalu banyak yang berbicara, bahkan tembok pun ikut serta. Dodi tak mau itu semua merusak karirnya, juga kegiatan Linda di sana.

Dan, tersusunlah skenario besar. Ini ide keren sekali! Terlalu alami, pasti tak mencurigakan.

”Gini Jay, pas loe jemput Linda, loe taro ini KTP gw di jok loe, ya!”

”Buat apa?”

”Loe dengerin dulu.”

”Tar kan dia yang nemuin. Kalo dia tanya, bilang aja, oh iya tadi ada anak yang kerja di tempat fitnes yang naek, ketinggalan kali nih.”

”Terus?”

”Terus kalo dia kasih tuh KTP sama loe, jangan terima. Bilang gini, Mbak Linda kan suka fitnes di sana, tolong kasihin aja, ya! Saya takut gak ketemu lagi.”
”Wahahaha... iya.. iya..”

”Gitu! Oke, Jay!”

”Oke! Sip, sip. Terus kalo Mbak Linda ternyata gak ngembaliin KTP loe gimana?”

”Tenang! Jangan panggil gw Dodi kalo gitu aja pusing!”

”Ini KTP baru aja angus! Kebakar! Gw udah ada yang baru, nih dia!”

”Hahahaha.. Iya! Keren banget lo, Dod! Sip lah! Kata gw sih pasti berhasil nih!”

”Hahaha.. Amin.. Amin...” Amin Ya Allah.

”Ya udah, gw jalan dulu ya!”

”Thank you ya Jay!”

”Sip! Sip!”

Dan berangkat lah si Jay menjemput Linda, dilepas lambaian tangan Dodi, sahabat barunya.


Lilin Ade

“Mama, Mama di mana? Kenapa jadi gelap begini, Ma?”
“Mama di sini, Sayang! Ade di mana?”
“Ade di pintu kamar, Ma.”
“Ade tunggu di situ ya! Biar Mama yang datang jemput Ade.”
Ade diam dalam gelap sambil berpegang pada kusen pintu. Ade mengerjapkan matanya berkali-kali, heran mengapa tambah lama pandangannya tambah kelam. Disapunya pandangan ke seluruh ruangan, tak nampak lagi seperti ruangan. Gelap. Sempat kaget sekali tadi, tapi kini walau jantungnya masih berdegup kencang, Ade sudah lumayan tenang. Tenang karena tahu mama akan datang.

“Mama, di mana?”
”Sebentar lagi, Sayang!” jawab mama menenangkan. Suara mama terdengar jauh lebih dekat sekarang. Berkurang degup jantung Ade.
Kaget Ade merasakan kehangatan menangkap pundaknya, tangan mama.
“Sini, Sayang! Ikut Mama,” ajak mama sambil menggandeng tangan Ade.
“Ade tadi takut, Ma! Kenapa jadi gelap begini?”
“Mati lampu, Sayang! Sepertinya semuanya. Rumah di depan juga gelap. Mungkin ada masalah dari PLNnya.”
“Kenapa Ma, PLNnya?”
“Entah. Bisa jadi ada kabel yang putus atau gardu yang terbakar.”
“Bahaya donk Ma! Terus sampai kapan kita gelap-gelapan begini?”
“Tidak tahu. Biasanya sampai beberapa jam.”
“Terus kita bagaimana, Ma?”
“Ya tidak bagaimana-bagaimana. Kita cari cara lain mendatangkan cahaya.”
“Kita pasang lilin ya, Ma?’
“Iya, Mama taruh di mana ya?”
“Ade gak tahu, Ma. Kita cari saja.”
“Mama taruh di laci, tapi lupa laci yang mana.”
“Kita cari sama-sama saja. Kalau tidak mati lampu begini, kita lupa sama lilin ya, Ma!”
”Hehe.. Iya. Kita terlalu asyik sama lampu-lampu ya, De!”
“Iya, Terakhir Ade bertemu lilin waktu praktek kimia di sekolah.”
“Mama kapan ya? Oh, waktu menempel plastik bungkus kacang goreng untuk jualan.”
“Waduh! Sudah lama sekali itu. Sebelum kita punya alat pengelem tu donk ya?”
“Hehe.. Iya.”
“Berarti kita harus berterima kasih sama PLN, Ma. Karena kalau listrik kita tidak dimatikan, kita tidak ingat lagi sama lilin.”
“Hehe.. Iya juga ya, De!”
“Si Mama ketawa terus. Beneran ini.”
”Iya, Sayang! Mama juga berpikir begitu. Kalau listriknya tidak mati, kita tidak mencari-cari lilin, tidak berjalan bersama sambil berpegangan tangan di dalam gelap seperti tadi.”
“Hihi.. Rasanya seru juga ya, Ma! Seperti di hutan atau di gua.”
“Iya! Ade juga tidak akan tahu kalau gelap itu bisa menakutkan.”
“Iya, tadi Ade kaget dan takut. Semuanya gelap. Ade coba keluar kamar, tapi jadi susah tanpa cahaya. Untung Mama mau datang jemput Ade, jadi Ade tenang, gak takut lagi.”
“Iya, Sayang. Pasti Mama jemput lah. Masa anak Mama dibiarkan ketakutan, dibiarkan sendiri di dalam gelap.”
“Iya, Mama jadi lilin Ade ya, tadi?”
“Ini dia, ketemu! Hai lilin, apa kabar?”
“Hihi.. Halo lilin! Sudah lama ya kita tak berjumpa. Ini Ade dan Mama. Masih ingat?”
“Ingat donk ya, Lilin?”
“Kita masih ingat kamu, kok. Maaf ya sudah sempat lupa.”
”Sini, De! Kita ke dapur sekarang.”
”Cari korek, Ma?”
”Mama gak simpan korek, pakai api dari kompor saja.”
”Sebentar ya lilin, sebentar lagi kamu akan bercahaya.”

Mama memutar pedal kompor ke kanan, api lalu menyala. Ade menunggingkan satu lilin, mendekatkan sumbunya ke api, dan terbakarlah sang sumbu. Menyala. Mama mengoper piring kecil ke Ade yang kemudian menunggingkan lilin di atasnya agar lelehan minyak menetes dan ditaruh lah segera lilin, sebelum lelehan membeku. Mama dan Ade menyalakan tiga buah lilin; satu ditaruh di ruang tamu, satu di ruang keluarga dan satu lagi di kamar mandi. Mama dan Ade kemudian duduk berdampingan di karpet ruang keluarga, menghadap sang lilin.

”Lucu deh, Ma. Apinya goyang-goyang!”
”Iya, tertiup angin.”
”Angin, jangan besar-besar ya, nanti lilinku mati.”
”Tenang, lilin jagoan kok, De! Kalau anginnya tak sebesar hembusan kamu, dia masih bisa nyala. Masih bisa menerangi kita.”
”Sini, Ma. Duduk dekat lilin, biar wajah Mama terlihat jelas.”
Mama pun begeser mendekati lilin dan anaknya.
”Untung ada lilin ya, Ma. Kita jadi tidak kegelapan. Coba kalau kita tidak simpan lilin, pasti kita masih kegelapan sekarang.”
”Gelap juga tak apa, Sayang.”
”Iya ya, kan ada Mama.”
”Kalau tak ada Mama, Ade juga harus tak apa-apa. Gak boleh takut, ya?”
”Kalau gak ada Mama, kayaknya Ade tetep takut deh, Ma!”
”Eh, gak boleh takut. Kan ada lilin...”
”Kan tadi ceritanya lilin kita gak ada, terus gak ada Mama juga, ya Ade takut, donk.”
”Sayang, sini!”

Mama menarik Ade bersandar di dadanya. Dipeluknya erat sambil diusap-usap kepalanya.
”Ade sayang, siapa ayo tadi yang bilang kalau Mama itu lilinnya Ade?”
”Ade yang bilang.”
”Nah, kalau Mama itu lilin, berarti Mama yang menerangi Ade, kan?”
”Iya, makanya Mama harus ada, gak boleh ke mana-mana.”
”Mama gak kemana-mana, Mama kan selalu ada di sini,” ujar Mama sambil menunjuk ke dada Ade.
”Iya kan? Mama selalu ada di sini kan, Sayang?”
Ade terdiam, merenungi perkataan Mamanya.
”Iya, Mama ada terus di sini, donk!” ujar Ade sambil tersenyum dan merengkuh tangan Mama ke dadanya.
”Jadi, Ade bawa lilin kemana-mana, kan?”
”Hihihi.. Iya juga ya! Ade, si empunya lilin di hatinya.”
”Hahaha.. Iya, keren juga!”
”Jadi, biar gelap, kelam, sepi, Ade gak boleh takut lagi, oke?”
”Oke!”
”Karena apa?”
”Karena ada Mama, lilinnya Ade.”
”Pinter, anak Mama!” ujar Mama bangga sambil memeluk erat pujaan hatinya. Disebarkannya hangat lewat kecupan di kening Ade.
”Anak Mama, anak Mama sayang. Anak Mama, anak Mama sayang. Anak Mama, anak Mama sayang..”

”Mama! Mama! Mama!” panggil Ade berteriak. Terbangun ia. Gelap. Kelam. Mati lampu rupanya. Mati lampu.
”Gak boleh takut, Ade! Gak boleh. Ayo, mana lilinnya. Tenang, gak boleh takut.”
”Gak boleh takut.. gak boleh takut.. gak boleh takut..” Ade mengucapkannya berulang-ulang sambil memeluk lututnya, erat. Menangis dia. Menangis merindukan lilinnya.