Tak ingin otak beku, maka kami jadikan pena sebagai microwave. Kami, sekumpulan manusia pencinta cerita.
Mau bercerita bersama? Mudah saja. Tinggalkan alamat email-mu, kami punya tema baru tiap minggu.
Mari menulis!
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bertiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bertiga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2011

NASTO INGIN MAWAR

Nasto, bagaimana aku mengingatnya? Ya, tanggal itu, 28 Desember 2008 jika saya tidak salah. Dega, teman saya waktu itu, menelpon: membicarakan rencananya datang ke Bandung untuk suatu urusan yakni liburan. Oke, Dega, berapa orang kalian itu? Kami berenam, bisa tolong carikan penginapan? Tak usah, bagaimana jika menginap saja di rumahku? Akhirnya ia setuju. Datanglah mereka di tanggal itu, 28 Desember. Menaiki travel Baraya, kujemput mereka. Rombongan yang saya tak sempat cek apakah enam atau bukan. Sebelum masuk mobil, mereka berdiskusi singkat soal siapa duduk dimana. Dan diputuskanlah: seseorang bernama Anast, duduk di depan, di samping saya.


Perasaan saya waktu itu, canggung sekali. Karena sebelum penjemputan, saya cuma kenal Dega. Dega yang diam-diam saya suka. Diam-diamkah? Yang lain baru dikenalkan waktu itu. Orang-orang yang sulit saya ingat namanya karena perkenalkan dilakukan ketika saya sedang menyetir di kegelapan malam. Yang saya ingat betul, adalah seseorang di samping saya, yang merupakan Anast: entah kenapa, sering jadi bahan bercandaan teman-temannya.
Mereka menginap semalam saja. Besok siangnya sudah pergi lagi, melihat-lihat Lembang dan Tangkuban Perahu-nya. Sampai saat itu, saya tidak banyak mengingat Anast. Tapi bolehlah dibilang itu awal perkenalan.


Semuanya berlalu, dan tak saya sangka kami akan kembali bertemu. Sudah lama sejak hari itu, kami berjumpa di dunia maya, tepatnya tanggal 15 Juli 2009. Ia datang, membantu saya yang kesulitan memahami Dega. Oia, saya dan Dega akhirnya berpacaran. Dan dalam waktu yang singkat saja, kami putus. Beberapa menit saja setelah berakhirnya hubungan, saya mengubah status in a relationship di Facebook, dan seketika itu juga hadirlah Anast mengomentari. Komentarnya singkat, cuma memberi semangat.


Esoknya ia menyapa saya di FB Chat. Dan akhirnya kami berinteraksi. Sungguh, buat saya ia masih orang asing. Seseorang yang saya temui lebih dari setengah tahun lalu dalam kondisi selewat saja. Tapi kualitas interaksinya, seperti saya ini korban bencana, yang dengan cepat tanggap ia datang membagikan berdus-dus indomie dan biskuit. Tanpa mesti kenal dekat, yang penting ia seolah tahu: orang ini mesti dibantu. Lalu kami berbincang lama, dan ia menawarkan untuk memediasi kami agar rujuk.


Rujuk pun berhasil, biarpun tidak langsung melalui Anast, melainkan beberapa usaha saya sendiri yang saya bilang sih, gigih dan keras. Setelah saya dan Dega kembali berpacaran, Anast tidak berhenti menganggap saya korban bencana. Atau setidaknya: sudah bukan korban, tapi tetap butuh restrukturisasi bangunan dan mental. Ia pun rajin mengirimkan e-mail. E-mail yang berisi berbagai tips soal bagaimana mengatasi Dega. E-mailnya sederhana, dan ada beberapa yang informasinya sudah saya ketahui, tapi ia tetap berguna, oleh karena dua hal: satu, kumpulan e-mail itu membuat saya dan Dega semakin akrab, karena tak berhenti tertawa kala membacanya. Dua, saya jadi tahu, bahwa ada, ya, ada, orang macam itu, yang berhati bersih, tulus, dan mau berkorban demi kebahagiaan sahabatnya. Apa enaknya memang, capek-capek mengirimi saya e-mail panjang lebar atau memediasi, jika belum terlalu kenal saya ini? Dan apa untungnya bagi ia, berdasarkan ukuran materiil, jika hubungan saya dan Dega menjadi baik dan harmonis?


Oh, sungguh, tidak mudah menjawab itu, jika kau bukan seseorang yang menghargai betapa berharganya sebuah persahabatan, jika kau orang yang menganggap hubungan antar manusia ini laksana memetik mahkota mawar. Ketahuilah bahwa mawar, mahkotanya, adalah bagian terindah dari mawar. Tapi ia tak jadi apapun jika kau ceraikan dari tangkainya. Tangkainya yang penuh duri itu. Anast, yang akhirnya saya ketahui dipanggil Nasto juga, ingin mawar sepenuhnya. Ia ambil keseluruhannya dari pangkal, tangkai dan mahkota. Darah mengucur di lengan, tapi ia bisa namai itu mawar sejati.

My Dear Sarap

Kau mau tahu tentang dia? My dear Sarap.

Ingat hotel Nikko, ingat dia. Ya, dia! Itu kali pertama dia menelpon ketika aku sedang menginap di hotel itu bersama para sahabat. Dapat nomor teleponku dari Johan katanya, sahabatku. Pembicaraan ringan tak berkesan. Paling ujung-ujungnya mau jadi pacar, batinku.

Ingat The Secret, ingat dia. Ya, dia! Karena pembicaraan di telepon bersamanya biasa saja hingga kuungkapkan padanya betapa aku tak bisa menikmati membaca buku jenis itu. Ternyata dia pun satu suara, entah memang benar atau dibuat-buat biar sama. Dari The Secret berlanjut ke diskusi-diskusi panjang tak berujung, isi bensin.

Ingat brownies Amanda oleh-oleh khas Bandung, ingat dia. Ya, dia! Sebelum datang ke Jakarta dalam rangka pertemuan pertama, dia berjanji akan membawakanku brownies Amanda, tetapi tebak apa yang dibawanya, hanya dirinya. Dirinya saja, tanpa janjinya. Tambah lagi pria jenis ini di hidupku, ujarku dalam hati. Janji ya janji. Hanya kata-kata tanpa makna. Kasihan sekali wanita yang memilih bersamanya, yang akan kenyang dengan kata.

Ingat La Tahzan, ingat dia. Ya, dia! Tertampar oleh reaksiku akan janjinya yang mentah dan sikapnya yang seolah mengistimewakanku setelah melihat bentukku; yang sepertinya dia suka, menggulat lah dia, seperti ulat disiram air panas. Lagi-lagi jenis pria pembuat keputusan berdasarkan fakta yang didapatnya dari mata, hanya mata, itu kesimpulanku. Mari pergi, pergi dari hidupnya, karena sepertinya kita tidak cocok, kawan! Aku bukan hanya tubuh dan wajahku, aku adalah aku, bisa kau pahami itu?
Lalu datang dia dari kota browniesnya demi memperbaiki semua, semua entah apa. Mungkin pemikiranku tentangnya, mungkin keputusanku yang tak mau lagi terlibat di kehidupannya, karena toh ini memang hanya cerita cinta, yang belum sempat ditulis tapi sudah kubuang tintanya. Datang dia membawakanku buku itu, La Tahzan, dilampiri dengan goresan penyesalan dan maaf. Kumaafkan, kawan.

Ingat Bandung, ingat dia. Ya, dia! Alih-alih menyewa kamar hotel ketika ku berlibur di kota itu, ku menginap di rumahnya, lantai satu yang membuatku merasa nyaman. Ruangan tanpa sekat, dipagari rak buku; impianku, televisi besar dengan saluran internasional, meja kecil tempat berkreasi, kumau punya satu yang seperti ini nanti, di rumahku.

Ingat almarhumah dosenku, ingat dia. Ya, dia! Biasa kupanggil Madame, waktu itu beliau pernah menjawab pertanyaanku, ”bagaimana kita tahu kalau dialah pria yang harus kita nikahi, Madame?”. Sambil menatapku lembut beliau menjawab, ”Saat kita tak habis-habisnya berdiskusi dengannya, tentang apa saja. Karena cinta tidak abadi, berdiskusilah yang bisa kita lakukan hingga hari tua nanti, ma chèrie”.
Kuingat itu beberapa kali saat mendengarnya berbicara di telepon, percakapanku dengan Madame lah yang terlintas, entah mengapa, tak kuambil pusing saja. Madame, kaukah yang berbicara?

Ingat sampah, ingat dia. Ya, dia! Jika kuingat-ingat apa yang bisa membuatku akhirnya berkomitmen dengannya, tak ada yang bisa kuingat. Tapi kutahu bukan karena emosi sesaat atau keadaan yang menekan. Kujalani saja tanpa banyak tanya, tanpa gundah, hanya berjalan, menapak. Hingga sampai pada hari itu, saat kumerasa bahwa kehadirannya benar-benar mengganggu hidupku. Kupergi saja, tanpa pamit. Keputusan yang salah ternyata, semakin menjadi-jadi dia mengacaukan hidupku. Sadar bahwa pergi tak bisa menjadi solusi, kuhadapi dia, kuberteriak di telinganya, memakinya, melumurinya dengan racun, tak apa yang penting ku puas. Sampah menjadi kata pewakil yang menggema di kepalanya.

Ingat The Secret Life of Bees, ingat dia. Ya, dia! Buku itu, memantapkan keyakinanku akan tidak pentingnya sebuah pernikahan. Hal yang hanya akan membunuh diriku sendiri dan menggadaikan terlalu banyak yang sudah kuraih. Keyakinan yang entah sudah dimana kini, meluap, terhapus, terkikis atau terkubur. Keyakinan yang turut meremas keyakinannya untuk melanjutkan cerita kami.

Ingat Sabine, ingat dia. Ya, dia! Sabine itu sahabatku, teman kantorku, tetanggaku selama tiga bulan. Awal Sabine datang sekaligus menjadi awal cerita kami, aku dan dia, ya dia! Cerita indah dan tak indah kami rajut bersama. Kini Sabine sudah pergi, kembali ke rumahnya, tapi dia belum pergi, tidak pergi, jangan pergi.

Ingat rumah, ingat dia. Ya, dia! Andai kau tahu betapa istimewanya rumah di hatiku. Dan itu, dia bilang mau membangun rumahku, rumah kami. Tak apa orang berpikir ini transaksi jual beli, yang penting dia tahu, kami sama-sama tahu. Nantikan kami wahai rumahku, rumah kami. Lalu mari bercerita bersama!

Ingat Pak Tri, ingat dia. Ya, dia! Pak Tri, teman dan sahabat yang pernah kutanya, “Bagaimana kita tahu kalau dia adalah orang yang harus kita nikahi Pak?”. Sambil tersenyum menjawab ia, “Nanti kamu akan tahu, pasti kamu tahu dan cuma kamu yang akan tahu, terasa”. Jawaban absurd yang membingungkanku kala itu, kala itu. Terima kasih Pak, kini saya paham, saya tahu, terasa.

Satu Kupu

Ia kupu…
Hanya satu…
Kupu dari kupu-kupu, le papillon dalam bahasa Prancis, butterfly kalau dalam bahasa Inggris, entah apalah dalam bahasa lainnya.
Cobalah kau tangkap ia, kalau tak terbang ia ke angkasa.

Terlihat dari jauh warna-warni rambut keritingnya (meski banyak yang meragukan keasliannya).
Terlihat putih kulitnya walau tanpa perawatan apa-apa (jika Autan-lotion anti nyamuk tidak termasuk dalam hitungan).
Terlihat mancung hidungnya yang konon bukan hasil dari suntikan (apalagi operasi –duit dari mana?)
Terlihat rapi gigi depannya meski tak ada yang tahu kondisi gigi bagian dalamnya.
Itulah bentuk kupu yang hanya ada satu.
Dapat dinikmati oleh mata, dirasakan oleh kulit… bukankah itu yang terpenting?
Bukan…bukan untukku, bukan pula untuk kupu.

Mari kita lihat ke bagian dalam kupu.
Bagian yang tak semua orang tahu, hanya orang-orang dari lingkaran terdalamnya yang diberi kesempatan untuk melongok ke dalamnya dan mungkin berkesempatan untuk menyelaminya.
Orang yang tak tahu pasti akan menganggap ia perempuan kebanyakan...
Maklum saja, mereka tak tahu kalau kupu hanya satu.

Ia tak perlu harta melimpah, cukuplah baginya jika ia bisa mendanai rencana-rencana liburannya, menghadiahi orang-orang terkasih dengan apa yang mereka suka, memliki rumah yang dimiliki atas nama dirinya sendiri, kendaraan pribadi yang bisa mengantarnya kesana-kemari (jika ia sudah bosan berojek ria), bertumpuk-tumpuk buku bermutu yang siap untuk dinikmati, beberapa puluh pasang sepatu dengan berbagai jenis dan warna, bermacam makanan untuk disantap bersama-sama setiap malamnya. Cukuplah kiranya itu saja.

Ia tak perlu pria tampan nan rupawan sekelas Brad Pitt. Cukuplah baginya pria yang bisa mengimbangi diskusinya, memaklumi betapa egois dirinya, mengasihinya dengan tulus tanpa iming-iming imbalan tertentu, bersedia memberinya tempat bersandar kala lelah menghampirinya, mendengarkan mimpi-mimpinya, mendukung sekaligus menentang keputusannya, menciumnya ketika ia ingin kecupan, memeluknya ketika ia butuh pelukan.
Hanya itu saja sepertinya.

Ia tak perlu teman yang selalu menemani setiap waktu. Cukup baginya teman yang bisa membuatnya tertawa dan menangis bersama, berjalan menyusuri malam sambil bercerita, makan sepiring bersama-sama, luluran di salon favorit di akhir pekan, berenang di kompleks perumahan teman, berlibur menjelajahi daerah baru, karaoke lagu-lagu favorit hingga tengah malam, menonton film oriental dan mengharu biru karenanya, meneleponnya hanya untuk berkata hai, menyapanya di gmail hanya dengan coucou, mendengarkan ceritanya, memberikan tanggapan atas masalahnya, mengoreksinya jika ia sudah bertingkah berlebihan. Cuma itu kiranya.

Ia takkan marah jika kau minta ia menegur orang yang kasar padamu,
Ia takkan malu untuk tetap berada di sampingmu ketika orang yang kau suka menolak cintamu.
Ia takkan ragu mengatakan apa yang ia mau sepahit apapun kedengarannya.
Ia takkan rela jika kau tak bercerita kepadanya apa yang tengah kau rasa.
Ia takkan mau mengalah terlebih dari kawan terdekatnya.
Ia takkan terpuruk sedemikian dalamnya karena dikhianati kekasihnya.
Ia takkan menghitung berapa banyak kasih dan perhatian yang sudah diberikan padamu.

Begitulah kupu..
Dari dulu kupu memang hanya satu.
Bukan kupunya, bukan pula punyamu.

Dulu pernah ada yang berkata padamu persis sama seperti ini,
Kali ini kembali kuucapkan khusus untukmu:
Selamat Ulang Tahun Kupu!!!!!
Terima kasih sudah hadir di hidupku.