Tak ingin otak beku, maka kami jadikan pena sebagai microwave. Kami, sekumpulan manusia pencinta cerita.
Mau bercerita bersama? Mudah saja. Tinggalkan alamat email-mu, kami punya tema baru tiap minggu.
Mari menulis!
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

Peternakan Pram

Peternakan itu milik Paman Pram dan Bibi Titi. Ukurannya cukup luas, sedikit lebih besar dari lapangan sepakbola. Bagi kebanyakan peternakan di Lembang, ukuran peternakan mereka termasuk yang paling besar. Isinya pun cukup beragam, ada kandang sapi, babi, kelinci, dan kuda. Sudah lebih dari tiga puluh tahun keduanya mengurus peternakan tersebut, peternakan Pram, demikian orang-orang menyebutnya. Setiap pagi, Paman Pram pergi ke kota, membeli makanan ternak. Pergi pukul enam, pulang pukul sepuluh. Sementara Bibi Titi memasak di rumah dan sesekali menengok ternak. Kebetulan mereka mempekerjakan empat pegawai, yang setiap hari datang jam enam, pulang pukul lima.

Malam hari, para binatang ternak sudah tahu, bahwa Paman Pram dan Bibi Titi pasti sudah tidur sejak pukul sembilan malam. Itulah saatnya, bagi para ternak untuk berkumpul di kandang yang paling besar, yakni kandang kuda. Alasan mereka berkumpul di kandang kuda juga, dikarenakan kuda, paling tidak mungkin keluar kandang. Kandang mereka dihalangi balok-balok yang amat besar, tapi tidak cukup besar bagi babi dan kelinci untuk menyelinap. Kambing? Mereka juga tidak bisa keluar. Tapi kandang mereka ada persis di samping kandang kuda, dan terdapat jendela yang cukup besar diantara kedua kandang. Sehingga mereka tetap bisa mengobrol. Begitupun juga para sapi, mereka tepat di samping kandang kuda. Jadi kandang kuda, ada diantara kandang sapi dan kambing.

Kuda di peternakan Pram sekarang tinggal dua, tadinya ada delapan. Namun dibawa pergi, katanya ada yang untuk disembelih, ada pun yang dibeli untuk ditunggangi. Kambing ada sepuluh, babi dua puluh, dan kelinci ada empat puluh, padahal pagi tadi masih enam puluh. Lalu naiklah ke podium, seorang yang dikenal sebagai pemimpin dari para babi, namanya Jess. Podium disini, adalah semacam balok kayu. “Wahai para binatang, besok para kambing dibawa pergi. Untuk sebuah kepentingan manusia di bulan depan. Malam dimana mendadak banyak orang menyanyi. Melantunkan suara berirama, memenuhi angkasa. Sepertinya menyanyikan lagu kematian bagi teman-teman kita, para kambing ini.” Salah satu kambing menyahut, “Jess, itu namanya malam takbiran, dan kami akan disembelih di hari kurban.” “Oke, terima kasih, saudara kambing. Wahai para binatang, bulan depan adalah malam takbiran, malam dimana orang-orang menyanyikan lagu kematian para kambing, yang akan disembelih esoknya, di hari kurban,” Jess berbicara kembali, sekarang lebih lantang. Para binatang terdiam, suasana mendadak muram. Sampai tiba akhirnya kelinci angkat bicara, salah seorang dari mereka, “Tapi, Jess, tidakkah itu biasa, kami pun diambil dan disembelih setiap minggunya.” “Betul, kelinci, kami pun, para kuda, begitu adanya, meski tak seberapa sering. Dan maaf, Jess, kalian pun, para babi, tidakkah begitu?”

Jess terdiam sejenak, sedikit kaget dengan reaksi anggotanya. Tapi kemudian ia berbicara tenang, “Oke, maka itu, harus kita hentikan penyembelihan ini. Kita harus solider, merapatkan barisan. Bulan depan harus jadi momen terakhir penyembelihan manusia terhadap binatang. Di momen itu, adalah momen dimana manusia menjadi lemah, karena dalam kondisi berbahagia. Dan melihat para kambing dan sapi yang sudah terpancang jinak, mereka akan lengah. Disini saat kita menyerang, mengamuk, dan menunjukkan harkat martabat kita pada para manusia!” Semua masih terdiam. “Kenapa, kalian takut?” Jess menantang. “Tidak, Jess, kami cuma merasa, inilah kodrat kami. Kami memang selalu jadi objek para manusia.” Sapi menimpali pelan. “Tidak begitu! Kenapa manusia tidak mengobjekkan manusia lainnya saja? Jangan timpalkan pada kami, para binatang. Kita sudah diperas, diambil susu, telur, lalu mereka bunuhi sesuka hati. Tidakkah ada dalam diri kalian, wahai kawan-kawan, untuk keluar dari situasi ini?” “Kami setuju Jess, hidup para binatang!” kata babi-babi lainnya. Kambing-kambing, yang tadinya pasrah, mendadak setuju. “Betul, Jess, kami tidak mau mati!” Yang lain berangsur-angsur setuju. Kandang jadi berisik.

“Oke, bagaimana rencananya, Jess?” tanya para kambing. “Nanti, besok, ketika para kambing dibawa pergi, kita berontak, mengamuk, tendangi mereka, para manusia.” Jess menambahkan, “Itu tugas kalian para kuda, yang menendang.” “Lalu kami, Jess?” tanya para kelinci. “Kalian alihkan perhatian mereka, berduyun-duyun melintasi peternakan, agar mereka lengah.” “Babi,” lanjut Jess, “Kalian, para babi, tinggal di kandang bersama saya, memantau situasi.” Sapi, hendak bertanya, tapi Jess langsung menimpali, “Kalian ikut kuda, menendangi mereka, para manusia.” Demikian, rapat ditutup, dengan bunyi gaduh, pertanda para binatang sangat bersemangat. Hingga pagi mereka terjaga, karena khawatir kehilangan kesiagaan.

Hingga tiba fajar yang dinanti. Ketika sekumpulan manusia turun dari truk besar. Ada lima orang disana, bersiap membawa kambing-kambing pergi. Paman Pram dan Bibi Titi ikut menyaksikan, setelah berbincang dengan salah seorang dari mereka. Jess memandangi dengan tajam. Para binatang dari kandang menanti aba-aba. Sampai tiba waktu yang dirasa Jess tepat, ia berteriak lantang, “Kawan-kawan, seraaaang!” Suasana riuh, gaduh, tapi tak lama kemudian, sunyi sepi. “Kenapa kalian? Ayo!” Jess bertanya heran. Kuda menjawab, lirih dan pelan, “Terkunci, Jess.”

Terinspirasi dari Animal Farm karya George Orwell

Gosip Cicak

“Hei, Mbakmu bagaimana kabarnya? Lagi jarang kelihatan,” tanya Cicak Tina.
“Iya, sudah pulang belum?” penasaran juga si Cicak Bety.
“Sudah, semalam. Mabuk lagi dia!” cerita Cicak Lisya.
“Oooooo…” beramai-ramai mereka.
“Eh, semalam dengar ada yang nangis?” itu Cicak Oneng.
“Iya, si Mbak Bety. Jam sebelas malam itu kan?” Cicak Dega sok tahu.
”Oh iya, aku dengar,” sahut Cicak Lisya.
”Biasa, berantem lagi sama yayangnya,” jelas Cicak Bety.
”Berantem terus,” protes Cicak Oneng.
”Kalau nyonyamu apa kabar?” tanya Cicak Bety.
”Ah, teleponan terus! Maklum, baru punya pacar,” itu Cicak Yasmin sambil tertawa.
”Haha! Sama saja, nyonyaku juga mulai mengerikan. Teleponan tiap malam sambil tertawa-tawa,” Cicak Dega mengiyakan.
”Hahahaha...” tertawa mereka semua.
”Biarlah, biar bahagia mereka semua,” timpal Cicak Lisya.
”Eh, tempatku sekarang jadi bagus lho! Kalian main-main dong!” itu Cicak Oneng menyombong.
“Oh ya?” Tanya Cicak Tina.
“Iya. Semarang sudah ada tv, lemari baru, teko, baju-baju baru juga ada”
“Ih, memangnya bajumu?” itu Cicak Bety.
“Bukan sih. Tapi sekarang aku sudah bisa nonton tv. Tahu gosip!” senangnya si Cicak Oneng.
”Yah, berarti tinggal aku yang belum bisa nonton tv,” keluh Cicak Dega.
”Hahahahahaha.. iya!” terkekeh semuanya.
”Ngomong-ngomong nyonyamu sedang sibuk ya?” tanya Cicak Yasmin ke Cicak Christine.
”Iya, sibuk sekali. Maklum, persiapan pernikahan”
”Manisnya...” kagum semua Cicak.
”Sibuk pernikahan, sibuk pekerjaan, tidurnya pagi terus nyonyaku itu,” tambah Cicak Christine.
”Nyonyaku juga tidur pagi terus,” imbuh Cicak Tina.
”Ye, nyonyamu kan memang insomnia,” ujar Cicak Yasmin.
”Kamu diam saja dari tadi,” celetuk Cicak Lisya.
”Ya, apa yang mau kuceritakan wong nyonyaku jarang pulang,” Cicak Rini sedih.
”Iya, jarang yah,” Cicak Oneng setuju.
”Tapi sekali pulang bawa banyak makanan,” timpal Cicak Dega.
”Hahaha, iya. Meja makan jadi penuh!” tambah Cicak Lisya.
”Eh, kemarin terima kasih ya browniesnya,” itu Cicak Christine bilang ke Cicak Dega.
”Iya, sama-sama. Si nyonya lagi sering dapat kiriman nih!” bocor Cicak Dega.
”Sering-sering saja ya...” canda Cicak Oneng.
”Iya, hahahaha...” bahagia semuanya.
”Eh, lihat! Itu nyonya-nyonya berkumpul,” seru Cicak Oneng seru.
”Iya, mau makan bareng-bareng sepertinya”
”Nyonyaku masak spaghetti,” Cicak Yasmin bercerita.
”Ooooo....” koor yang kompak.
”Haha! Kursinya kurang,” kekeh Cicak Tina.
“Iya, wong kursinya cuma ada lima”
“Itu nyonya kita berbagi kursi,” ujar Cicak Yasmin ke Cicak Dega.
“Nyonya kami juga,” celetuk Cicak Lisya mengatasnamakan Cicak Oneng juga.
“Eh, itu nyonyamu pulang!” seru Cicak Tina.
“Iya! Pasti bawa makanan,” jawab Cicak Rini.
”Hihi! Kenapa nyonyamu makannya berdiri ya?” tanya Cicak Lisya.
”Haha! Iya, seperti di kawinan saja,” aku Cicak Rini.

Lihatlah, delapan Cicak tertawa bersama di atas delapan wanita yang sedang makan bersama.


Si Anjing dan Si Ikan

Shinbei, seekor anjing rumah yang dipelihara oleh keluarga Ridwan. Anjing yang jarang bergaul dengan anjing lain di lingkungannya. Bukan karena ia tak mau, tapi ia dilarang untuk keluar rumah apalagi bercengkrama dengan anjing tetangga, takut terkena virus kata tuannya. Pernah suatu ketika birahi Shinbei begitu menggebu, kabur ia keluar rumah dan langsung mencari anjing jalanan, anjing apapun yang pertama ia temui. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindari. Sesaat setelah ke luar rumah, Iman, si penjaga rumah, berlari mengejarnya untuk kemudian menangkapnya dan melaporkan insiden tadi kepada tuannya yang juga adalah tuan Shinbei. Laporan yang didasari agar kasih sayang si tuan berkurang. Dasar manusia berkaki dua bisanya hanya menjilat saja, begitu kira-kira terjemahan salakan Shinbei. Si tuan yang ternyata begitu mencintai Shinbei, tak rela jika kemurnian ras peliharaannya harus terkotori. Oleh sebabnya ia membawa Shinbei ke dokter hewan langganan. Dengan tangkas dan tanpa sakit, si dokter mengeksekusi Shinbei, mengebirinya, membunuh naluri paling dasar dari seekor hewan.

Dalam ketidaksadarannya, Shinbei merasa seolah-olah ia tengah berjalan menyusuri jalanan yang kemudian mengantarnya masuk ke dalam hutan. Cahaya matahari menghangatkan bulu abu-abunya. Senang sekali merasakan kehangatan setelah sekian lama terkurung di rumah berpendingin. Ingin rasanya ia menyerap kehangatan itu sebanyak mungkin untuk digunakan kembali ketika dingin menyergapnya. Ia melihat di ujung jalan sana terbentang sungai. Berlari ia ke arahnya dan segera mencicipi jernih airnya. Di kaki kanan bagian depannya, ia melihat seekor ikan kecil berenang berputar-putar.

“Apa kau baru di sini?” tanya si ikan.
“Ya, Aku baru pertama kali ke sini. Siapa namamu?”, Shinbei pun bertanya.
“Namaku? Apa itu nama? Aku ikan. Tanpa nama”, terang si ikan.
”Aku punya nama. Shinbei namaku. Pemilikku yang sudah kuanggap orangtuaku yang menamaiku”, jelas Shinbei.
”Aku ikan. Aku ini milikku. Tak ada selainku yang mengakuiku sebagai miliknya. Aku utuh. Tunggu, kau bilang tadi manusia berkaki dua itu sudah kau anggap orangtuamu? Makhluk paling sempurna sehingga seringkali bertindak begitu egois kau akui sebagai bagian darimu? Makhluk yang sering kali mengatasnamakan cinta namun menghabisi kemampuanmu bercinta itu? Makhluk yang jika sudah memberi lantas merasa memiliki hak atas diri kita?”, cerca si ikan tanpa henti.
”Mengapa kau sepertinya tidak suka sekali dengan mereka? Apa salah mereka terhadapmu?”, selidik Shinbei mencari tahu.
”Mereka tidak melakukan apapun padaku. Namun aku mendengar mereka melakukan hal yang sangat kejam pada kelompok ikan di sebelah timur sana. Mereka menangkap hampir semuanya dan membawanya pergi. Ikan yang berhasil lolos dari tangkapan mereka, memberitahu si burung berita tersebut. Lalu burung bercerita pada si katak dan katak menyampaikannya padaku”, jelas si ikan.


”Jadi begitu ceritanya asal mula kebencianmu. Bagaimana kau tahu apa yang telah terjadi padaku?”, tanya Shinbei.
”Naluri kebinatanganku yang mengatakannya. Sudah kau tinggal saja di sini. Mereka takkan menyakitimu lagi. Kau bisa hidup semaumu di hutan yang luas ini”, bujuk si ikan pada Shinbei.
”Seumur hidupku aku tinggal di rumah itu. Aku menjalani hidupku dengan teratur. Tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan makanan. Tidak perlu berlindung di bawah pohon atau di dalam gua untuk menghindari hujan. Tidak perlu berjalan jauh untuk mencari air minum. Tidak perlu merasa terancam dengan bahaya pengintai. Aku aman”, racau Shinbei.

”Kau tahu, kau telah gagal menjadi seekor hewan. Dimana jiwa petualangmu? Kau sudah terbuai dengan kenyamananmu. Kau menjadi seperti mereka, si makhluk berkaki dua yang jika sudah berada di zona nyamannya, takut untuk keluar. Membenci perubahan dan tak mau beradaptasi terhadap hal baru di sekelilingmu. Persis seperti itulah kau”, si ikan berkata.
”Kau sudah menghabiskan seumur hidupmu bersama mereka. Apa yang kau dapat selain kenyamanan? Hah? Jawab aku? Kenyamanan, sesuatu yang tak kasat mata, yang hanya kau sendiri yang dapat merasakannya. Tapi apa yang sudah hilang darimu sejak kau bersamanya? Kita berdua sudah tahu jawabannya dan dengan jelas bisa dibuktikan kebenarannya. Bukan tidak mungkin karena rasa cintanya padamu, ketika suatu hari nanti kau mati, mereka akan mengeluarkan isi perutmu dan mengawetkan jasadmu sebagai bukti kenangan mereka terhadapmu. Itu yang kau mau?”, papar si ikan.

Terdiam Shinbei setelah mendengar si ikan berbicara. Tak tahu ia apa yang sudah hilang darinya, sejak pengalaman hidupnya hanya tinggal bersama si tuan. Bagaimana ia tahu artinya kebebasan jika selama ini yang ia tahu selalu keadaan hidup terkekang?
”Tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang ku mau saat ini. Untuk mencari tahu apa yang ku mau, aku akan tinggal sebentar di sini. Mengamati dan meniru cara hidup yang sama sekali baru bagiku. Dengan begitu aku mungkin akan menemukan jawaban atas apa yang ku mau”, berkata Shinbei pada si ikan.
Senang si ikan mendengar jawaban Shinbei.
Berkata ia, ”Mari, ikut aku! Akan ku kenalkan kau dengan penghuni lain di hutan ini”.
Pergi mereka lebih dalam ke arah hutan, menyusuri sepanjang sungai.
Dan petualangan pertama Shinbei pun dimulai.