Tak ingin otak beku, maka kami jadikan pena sebagai microwave. Kami, sekumpulan manusia pencinta cerita.
Mau bercerita bersama? Mudah saja. Tinggalkan alamat email-mu, kami punya tema baru tiap minggu.
Mari menulis!

Senin, 05 September 2011

The Hangover


Bagaimana jika ketika kamu terbangun dan mendapati gigimu hilang satu? Apa yang akan kamu lakukan ketika di pagi hari kamu terbangun di dalam kamar mandi dan temani seekor harimau buas di dekatmu? Lalu apa yang akan kamu perbuat jika mengetahui sahabat terdekatmu hilang di hari pernikahannya?

Semua pertanyaan konyol diatas akan terjawab tuntas ketika kamu menonton film komedi satu ini, Hang over! Ya, sebuah film komedi yang akan menguras habis tenaga anda karena rahang anda akan dibuat sedikit kaku, mata anda berair dan perut anda terus dikocok ketika anda menertawai semua kejadian bodoh dalam film ini.

Film yang disutradarai oleh Todd Phillips (Road trip, Old school, Due date) menceritakan empat orang sahabat yang berencana melakukan pesta bujang. Tidak ada yang salah dengan pesta bujang yang mereka lakukan di Las Vegas, namun semua itu berubah ketika mereka terbangun di hotel mereka menginap dengan keadaan yang sangat hancur berantakan. Keadaan bertambah parah ketika tak ada satupun dari mereka yang mengingat apa yang mereka lakukan di malam pesta bujang tersebut. Tak hanya sampai disitu, malapetaka terjadi karena mereka baru terbangun dihari pernikahan dan calon pengantin pria tidak dapat ditemukan. Dengan waktu yang sangat terbatas, mereka berjuang sekuat tenaga untuk mencari mempelai lelaki demi membawanya menuju pelaminan. Dalam petualangan inilah berbagai kejadian seru, bodoh, konyol dan menggelitik tersajikan. Hampir sepanjang film anda akan terus dirayu untuk terus menyesali mengapa masa remaja anda begitu singkat.

Sebuah karakter yang perlu saya garis bawahi dengan spidol tebal adalah peran Alan Garner yang dimainkan begitu brilian oleh komedian baru bertalenta, Zach Galifianakis. Saya diingatkan akan sosok Jim Carey pada awal kemunculannya di film-film hollywood ber-genre komedi. Karena alasan ini pula saya merekomendasikan siapapun anda yang merasa memiliki jiwa muda yang terus melolong namun teredam oleh hingar kehidupan dewasa untuk segera menontonnya.

Picture

The Hangover

Ketika awal mula membeli film ini, saya beranggapan bahwa The Hangover adalah film yang tidak akan menimbulkan kesan mendalam. Film ini, saya perkirakan, berisikan sebagian besar eksploitasi seksual serta kekonyolan khas remaja Amerika. Barangkali hasil akhirnya akan seperti menyaksikan American Pie atau John Tucker Must Die yang sukses membuat ketawa ketiwi tapi sesudah itu nyaris tak berbekas.

The Hangover adalah film tahun 2009 karya sutradara Todd Philips. Ceritanya dimulai ketika empat pemuda pergi ke Las Vegas untuk merayakan pesta bujang salah satu diantara mereka. Doug (Justin Bartha) akan menikah dua hari kemudian, selain mengajak dua sahabatnya pesta, ia juga mengikutsertakan calon adik iparnya. Jadilah Doug, Phil (Bradley Cooper), Stu (Ed Helms), dan Alan (Zach Galifianakis) berkendara, berikrar untuk menjadikan kunjungan ini sebagai, “Malam yang tak terlupakan.”

Setelah keempatnya bersulang di atap hotel, adegan diloncat dan langsung masuk ke kondisi dimana mereka baru terjaga seolah habis mabuk berat. Di kamar hotel mereka, selain kondisi ruangan yang sangat berantakan, terdapat juga bayi menangis dalam kereta, seekor harimau, hingga gigi Stu yang copot satu. Hal yang paling buruk adalah, Doug sang calon mempelai tidak ada di antara mereka!

Petualangan dalam film ini pun dimulai. Dengan gaya flashback, penonton diajak mengikuti bagaimana asal muasal bayi, harimau, hilangnya Doug, hingga mobil mereka yang sekarang jadi mobil polisi. Perjalanan ini cukup seru karena diantara mereka tidak ada satupun yang ingat dengan kejadian semalam oleh sebab tingginya tingkat mabuk yang mereka alami. Pencarian itu membawa mereka ke urusan pernikahan gereja, situasi hampir dipenjara, bahkan berhadapan dengan mafia Asia.

Pada akhirnya film ini memang tidak jauh dengan apa yang saya perkirakan dari awal. Namun ada satu ajaran yang cukup penting yang ingin ditawarkan oleh film itu, bahwa menjadi tua dan dewasa tidak selamanya menyenangkan, manusia harus kembali ke masa mudanya (meski sesekali) untuk merasakan gelegak kehidupan. The Hangover juga hendak mengajarkan, bahwa jangan-jangan pada setiap orang dewasa yang bertindak kekanak-kanakan, mereka dicurigai mengalami masa muda yang kurang menyenangkan. Jadi puaskan masa mudamu, hingga bosan, hingga kehidupan tidak lagi membuat penasaran.

The Hangover

Anda sepasang muda mudi yang akan segera menikah? Jangan melewatkan pesta bujang sebelum Anda bersumpah di altar. Karena mungkin pesta gila bersama teman-teman seperjuangan bisa merubah hidup Anda dalam semalam.

Adalah Doug, calon pengantin pria yang menghabiskan hari bujang terakhirnya bersama Phil, Stu dan Alan. Las Vegas adalah tujuan mereka. Berbekal niat baik dan rencana bersenang-senang a la Vegas, tiba mereka di kota yang konon disebut surga. Surga yang dipenuhi kasino, narkoba dan wanita.

Roofie, sejenis obat-obatan yang biasa digunakan oleh pemerkosa untuk merangsang calon korban juga untuk menimbulkan efek amnesia hingga sang korban tak ingat sama sekali kejadian yang telah menimpanya, adalah awal petualangan empat sekawan ini. Setelah Alan mencampurkan roofie dalam minuman yang mereka tenggak di malam pertama, seketika keempatnya pun masuk dalam lubang cerita tak berjejak. Tak satu pun ingat kejadian yang mereka alami setelah menenggak minuman tadi.

Kesadaran mereka pulih perlahan keesokan harinya bersamaan dengan kenyataan hilangnya Doug. Bertiga mereka mencoba mengumpulkan jejak sang calon pengantin sambil menyibak kejadian-kejadian yang telah mereka lalui malam itu. Rangkaian cerita yang membantu Stu untuk mendengar kembali suara hatinya, menyibak sisi baik Alan si weirdo, menonjolkan sisi jantan Phil, mengasah ketajaman cinta Doug pada calon istrinya serta, yang terpenting, menyatukan mereka dalam persahabatan yang jujur.

Bersiaplah menikmati suguhan komedi a la pria yang membalut pesan sentimentil mengenai persahabatan yang sudah tentu a la pria berjiwa muda.

Oh, can’t wait to have mine, soon. A la wanita tentu saja.

And girls, let’s hangover!

T H E H A N G O V E R

“What happen in Vegas, stay in Vegas”

Ada peraturan tak tertulis yang hampir semua penikmat dunia gemerlap malam tahu: pastikan ada teman yang tidak ikutan teler untuk menjaga dan mengendalikan situasi. Apa yang akan terjadi jika dalam satu rombongan semuanya mabuk? The Hangover sedikit banyak menceritakan kerumitan yang terjadi setelahnya.

Merayakan malam-malam terakhir sebelum Doug menikah, dua sahabatnya Phil dan Stu mengatur liburan tak terlupakan ke Vegas. Tiga sahabat ini juga ditemani oleh Alan, calon kakak ipar Doug. Berempat mereka berkendara menuju Vegas, kota bergelimang dosa. Menginap di suite room dengan menggunakan credit card Stu yang nantinya akan dibagi rata setelah tagihan keluar. Mengenakan jas lengkap dan siap menikmati hiburan malam. Namun apa yang terjadi? Keesokan harinya mereka terbangun dalam kondisi hangover setelah mabuk berat. Tanpa teringat apa yang telah terjadi, mereka mendapati kamar yang sangat berantakan, gigi depan Stu hilang satu, macan di dalam kamar mandi. Dan yang terburuk, sang calon mempelai pria Doug menghilang entah kemana. Mereka hanya memiliki waktu terbatas untuk mencari tahu apa yang terjadi dan membawa Doug ke altar.

Saya melewatkan film ini di bioskop karena saya menyangka akan mendapati film konyol yang penuh adegan slapstick a la Hollywood yang tidak cocok dengan selera saya. Ternyata saya keliru, saya sangat menikmati setiap menit film ini. Persahabatan para pria yang dikemas manis. Phil yang blak-blakan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap calon istri Stu yang dinilai terlalu mengendalikan sahabatnya. Doug yang sangat berterimakasih atas rencana malam bujangnya walaupun akhirnya harus menderita karena kulitnya terbakar. Alan, pendatang baru di gank mereka membuat warna sendiri dengan kekonyolannya.

Jika saya tersenyum merona ketika menonton The Sisterhood of The Travelling Pants karena persahabatan perempuannya mengena sekali, maka saya terbahak-bahak ketika menonton film ini sembari berharap seandainya saya beruntung memiliki calon pasangan dengan paket persahabatan seperti di film. Siapa yang tidak mau memiliki suami seperti Phil yang walaupun terlihat bengal namun masih mau menggendong dan memeluk anaknya hingga tertidur di pangkuannya.

Satu lagi yang pasti, kali ini saya tidak akan melewatkan The Hangover II di bioskop kesayangan... bersama sahabat perempuan saya pastinya ^o^v

Kamis, 18 Agustus 2011

H A R M O N Y


One liter of tears? It’s definitely cry me a river!

Film Korea ini menceritakan segelintir kehidupan narapidana wanita di dalam penjara yang tergabung dalam kelompok paduan suara.

Salah satunya adalah Jeong Hye, ia melahirkan bayinya ketika ia dalam masa tahanan dan diberikan kesempatan untuk merawat anaknya sebelum si bayi diambil oleh negara untuk kemudian diadopsi. Ia harus menyerahkan hak terhadap bayinya setelah ia dihukum karena membunuh suami yang kerap menyiksanya. Ada lagi sosok Moon Ok, wanita setengah baya yang terkena hukuman mati namun tak kunjung dieksekusi setelah bertahun-tahun. Ia juga didakwa atas tindakan terencananya untuk membunuh suami beserta selingkuhannya. Sebagai pemimpin paduan suara yang berpengalaman sebagai guru musik, ia memilih para anggota dan melatih vokal mereka. Yu Mi merupakan anggota paduan suara yang paling terakhir bergabung. Perempuan muda ini dihukum setelah membunuh ayah tirinya yang telah berkali-kali melecehkan dirinya. Peristiwa itu membuatnya trauma dan menjadi orang yang tertutup dan tidak mudah membaur dengan lingkungan sekitarnya.

Seperti kado natal di bulan Juni, mereka diundang untuk mengisi acara di kompetisi paduan suara dengan iming-iming kesempatan untuk bertemu dengan anggota keluarga mereka. Jeong Hye berharap ia dapat melihat anaknya lagi setelah diadopsi. Moon Ok merindu kedua anaknya yang harus ia tinggalkan sejak mereka kecil karena harus menunaikan hukumannya. Hubungan ibu dan anak ini tidak berjalan harmonis. Sementara Yu Mi berkesempatan untuk bertemu dengan ibunya yang selalu ia tolak untuk bertemu sejak ia dipenjara.

Singkirkan jauh-jauh ekspektasi melihat ketampanan Lee Min Ho, kemisteriusan Won Bin apalagi senyum hangat Bae Yong Jun. Film ini hampir semuanya diisi dengan artis perempuan dengan wajah yang biasa saja tapi kemampuan akting yang luar biasa. Penikmat film Korea pasti sudah pernah menonton film ini lalu kemudian merekomendasikan kepada orang-orang di sekelilingnya. Bukan hanya karena film ini bagus, tapi juga karena tidak akan sanggup menahan kepiluan sesaat setelah menonton. Film ini dengan sukses membuat saya megap-megap kehabisan napas menyimak kehidupan para tokohnya. Bagaimana nelangsanya Jeong Hye ketika harus menyerahkan anaknya. Bagaimana getirnya Moon Ok ketika putusan eksekusi akhirnya menghampirinya dan kepanikan tanpa kata teman-teman satu selnya setelah mengetahui waktunya telah tiba. Bagaimana rasa malu menghampiri ketika rombongan paduan suara ini harus digeledah karena ada pengunjung yang kehilangan perhiasannya di toilet yang kebetulan sama-sama mereka pakai. Alur yang cepat membuat film ini tidak membosankan ketika disaksikan. Kita bagaikan menaiki wahana roller coaster di Dunia Fantasi, terasa seperti mau mati. Berlebihan? Mungkin saja. Tonton dulu baru rasakan sensasinya!

Picture

Minggu, 14 Agustus 2011

Resensi Harmony

Film Harmony ini berhasil membuka kedua mata saya lebar-lebar sekaligus mengusik hati, pikiran, dan energi saya, yang pada awalnya memandang film ini dengan sebelah mata. Sebelumnya saya berpendapat bahwa film yang akan saya tonton hanyalah sebuah film korea yang sedang digandrungi remaja tanggung jaman sekarang. Asumsi awal saya tersebut terpatahkan dengan unsur tema, jalan cerita dan akting yang kuat dalam film Harmony. Semua unsur tersebut berhasil diharmonisasikan dengan baik sehingga menghasilkan sebuah film yang layak ditonton.

Menceritakan keadaan penjara wanita di korea dengan berbagai kisah pilu yang dialami oleh para penghuninya. Mereka dipertemukan karena mereka telah melakukan tindakan yang dianggap kriminal. Tentunya dengan berbagai alasan mereka melakukan tindakan kejahatan yang sebenarnya tak ingin mereka perbuat. Label narapidana pun diberikan kepada mereka yang mencoreng status sosial mereka dalam masyarakat.

Lima orang narapidana wanita yang berbagi sel memiliki cerita dan konflik kehidupannya masing-masing. Berteman seorang sipir penjara, mereka berlima berusaha agar tetap memiliki kehidupan yang normal layaknya masyarakat pada umumnya. Memiliki kehidupan yang bahagia, dekat dengan keluarga yang mereka cintai, memiliki impian-impian yang akan terus mereka kejar. Mereka adalah Hong Jeong-hye seorang ibu yang terpaksa membesarkan anaknya di penjara, Kim Moon-ok seorang profesor musik yang dijatuhi hukuman mati, Gong Na-yeong korban pemerkosaan bapak tirinya beserta kedua teman mereka Kang Yoo-mi dan Kang Yeon-sil. Berlima bahu-membahu untuk tetap menjaga asa mereka dalam menikmati kehidupan yang layak.

Apa yang mereka lakukan agar tetap mampu mewujudkan semua itu dalam segala keterbatasan sebuah lembaga pemasyarakatan? Salah satunya adalah dengan membentuk paduan suara. Hong Jeong-hye berpendapat apabila mereka berhasil membentuk suatu kelompok vokal yang baik, mereka akan diberi kesempatan untuk melihat dunia luar. Tentu saja Hong Jeong-hye yakin karena Kim Moon-ok adalah seorang profesor musik yang handal.

Ternyata semua tidak semudah yang mereka bayangkan. Dengan berbagai konflik yang sangat menyayat hati, keinginan mereka untuk membuat paduan suara sangatlah diuji. Dimulai dari kepiluan Hong Jeong-hye sebagai seorang ibu yang harus merelakan anaknya diadopsi orang lain, trauma berat yang dialamai oleh Gong Na-yeong karena pemerkosaan yang ia alami, hingga Kim Moon-ok yang harus menghadapi hukuman mati.

Konflik-konflik inilah yang mewarnai film ini dengan warna biru kelabu. Berbagai kejadian yang menguras perasaan penontonnya. Merongrong langsung sisi kelembutan seorang manusia. Film korea ini mengajak kita untuk mencoba mensyukuri kehidupan yang telah kita miliki saat ini. Sesungguhnya masih banyak saudara-saudara kita yang harus melalui kehidupan dalam kegelapan, sementara kita selalu merasa kurang cerah akan kehidupan yang kita miliki. Berbahagialah kawan, jalani hidupmu dengan bersyukur.

Resensi Film Harmony

Menonton film drama Korea bukanlah sesuatu yang akrab bagi keseharian saya. Namun hal tersebut disebabkan semata-mata oleh kemalasan saja, sesungguhnya saya skeptik sebelum mencoba. Sampai tibalah saya disuguhi tontonan berjudul Harmony. Film ini membuyarkan bayangan saya tentang film Korea yang nirmakna dan hanya menyuguhkan letupan-letupan emosi sesaat, yang notabene sanggup dihasilkan oleh sinetron-sinetron di Indonesia. Harmony ternyata mempunyai kekuatan dari banyak aspek, mulai dari teknik pengambilan gambar, akting pemain, jalan cerita, hingga cara membuat ending yang sangat dramatik, heroik, sekaligus tragik.

Sentral dari film ini adalah seorang balita bernama Min Woo. Kehadiran balita ini menjadi menarik karena ia lahir di tengah-tengah suasana penjara. Sang ibu, Heong Jeong Hye, adalah narapidana dengan vonis hukuman sepuluh tahun akibat membunuh suaminya sendiri. Menarik bagaimana seorang balita menghangatkan suasana penjara yang dingin, atau sebaliknya, mendinginkan suasana penjara yang panas. Dalam penjara wanita tersebut, lumrah terjadi sesama napi baku hantam oleh sebab hal yang relatif sepele. Keberadaan Min Woo seringkali sukses membuat wanita-wanita tersebut “menemukan kembali sisi kewanitaannya”. Dengan menyaksikan balita dengan wajah lugu, sisi lembut wanita-wanita napi tersebut seolah muncul dan pada akhirnya mengakhiri pertengkaran diantara mereka.

Cerita film menjadi berkembang setelah penjara kedatangan kelompok paduan suara. Bagi Jeong Hye, paduan suara itu sangat menggugah hatinya. Ia mengajukan usul pada kepala penjara untuk mengadakan semacam pelatihan paduan suara di penjara tersebut, semata-mata agar para napi mempunyai kegiatan. Kepala penjara tidak keberatan dan meminta Jeong Hye untuk mengorganisasi kegiatan tersebut. Jeong Hye sesungguhnya hanya mempunyai semangat, ia sendiri tidak mempunyai modal musikal yang cukup. Untungnya, seorang terpidana mati bernama Moon Ok pernah mempunyai pengalaman bermusik. Ia menjadi konduktor dan membina dengan serius paduan suara itu. Katanya, “Aku ingin melakukan sesuatu yang berharga menjelang kematian.”

Konflik film ini terjadi ketika Min Woo mesti diserahkan pada orangtua asuh. Kebijakan negara setempat melarang anak balita untuk dibesarkan di penjara dan diharuskan untuk diadopsi oleh orangtua asuh. Kejadian ini mengundang kemuraman bagi Jeong Hye dan seisi penjara juga. Di sisi lain, paduan suara mereka sendiri ternyata berkembang pesat dan diundang ke sebuah festival di Seoul. Pada festival tersebut, status napi mereka mendapat sorotan, baik positif maupun negatif. Dalam satu peristiwa, pernah mereka diminta menelanjangi diri oleh sebab ada tamu yang kehilangan cincinnya.

Film Harmony menyuguhkan suatu cerita yang berjalan perlahan-lahan namun dengan konflik yang menggurita. Ia mengguncang emosi dalam tempo yang relatif lambat, bukan seperti menonton film laga yang mengocok adrenalin karena temponya yang tinggi. Kehebatan lainnya, Harmony tidak terpengaruh stereotip Hollywood yang menyuguhkan film dengan alur yang kurang lebih mirip: opening – konflik – happy ending. Harmony menunjukkan bahwa tidak perlu happy ending untuk menyisakan kesan di hati penonton. Justru ending yang memilukan sering membuat film lebih terngiang-ngiang. Saksikan sendiri filmnya, sangat direkomendasikan!

Harmony – Nyanyian hati para napi

Alkisah seorang wanita narapidana bernama Heong Jeong-Hye, divonis hukuman 10 tahun penjara karena membunuh suaminya. Suami yang di saat terakhir hidupnya dilumuri emosi api cemburu hingga memukuli dan menendang istrinya yang sedang hamil besar. Dan tak ada pilihan bagi Joeong-Hye selain melahirkan di Rumah Sakit penjara, didampingi oleh sipir Kong, malaikat bagi para napi yang menjelma dalam balutan seragam dan pentungan sebagai pengganti tongkat ajaib.

Kedatangan baby Min Woo di penjara wanita seperti sumber air di tengah teriknya padang pasir. Para wanita yang notabene memiliki jiwa keibuan yang besar, mengisi kekosongan jiwanya dengan mencurahkan perhatian dan cinta pada si kecil Min Woo yang memang menggemaskan. Si kecil pun seperti memiliki tiga ibu selain ibu kandungnya; Yeon Si dan Hwaja, teman satu sel Jeong Hye dan Min Woo serta sipir Kong. Juga seorang nenek, Moon Ok, yang juga merupakan teman satu sel. Tak hanya para napi dan sipir, kepala penjara pun memerlakukannya seperti mawar di tengah rerumputan. Kecuali satu, sipir Bang yang berkarakter ketus dan selalu menjaga jarak dengan para napi, termasuk dengan Min Woo.

Heong Jeong-Hye suka sekali bernyanyi, walau tidak bisa dikategorikan bisa bernyanyi. Lucunya, setiap dia bernyanyi, baby Min Woo seketika akan menangis, pasti. Hal ini selalu membuat teman-temannya tertawa tetapi membuat Jeong-Hye sedih. Satu hari para narapidana kedatangan tamu, choir wanita yang bernyanyi di atas panggung dalam ruang serbaguna. Para napi berseragam pun terkesima mendengar indahnya alunan lagu yang bergetar melalui suara indah para penyanyinya. Apalagi Joeng-Hye, berkaca-kaca ia melihatnya, terhipnotis oleh bentuk nyata keindahan hasratnya, musik.

Terinspirasi oleh choir tersebut, Jeong-Hye lalu mengusulkan untuk membuat choir bagi para napi yang kemudian disetujui oleh kepala penjara. Dan pencarian bakat pun dimulai. Adalah Moon Ok, yang kemudian didapuk sebagai pemimpin choir sekaligus dirijen. Bukan hal sulit, mengingat Moon Ok dulu belajar musik dan ahli bermain piano. Piano lah yang memperkenalkannya dengan seorang wanita yang kemudian menjadi guru musiknya. Guru musik yang berhasil memikat suami yang dicintainya. Yang kemudian membuatnya gelap mata hingga mengakhiri hidup mereka berdua menjadi pilihan satu-satunya. Pilihan yang membawanya kini dalam seragam berwarna cokelat, terpidana hukuman mati. Tak banyak yang mengenakan seragam ini, bahkan dalam sel nya, Moon Ok satu-satunya cokelat di tengah biru.

Satu hari datang penghuni baru berseragam biru, Yumi, gadis muda yang dikirim ke penjara oleh kematian ayah tirinya yang bertahun-tahun memerkosanya. Kejadian ini membuatnya menjadi seorang yang pendiam dan tertekan. Anti sosial. Tak dinyana Yumi ternyata memiliki suara indah. Dengan perjuangan rumit, akhirnya choir berhasil mendapatkan Yumi sebagai soprano. Yumi juga lah yang kemudian melatih Jeong-Hye bernyanyi, setelah tersentuh oleh impiannya untuk meninabonokan baby Min Woo. Dan berlatih mereka semua, Harmony Choir, demi panggung pertama mereka di depan seluruh penghuni dan petugas penjara lainnya. Perjuangan panjang pun berbalas, sukses dan pengakuan diraih mereka.

Di tengah kebahagiaan yang mendera, Jeong-Hye harus menelan pil pahit. Sudah saatnya baby Min Woo keluar dari penjara, sesuai dengan peraturan Pemerintah Korea bahwa bayi yang dilahirkan dalam penjara harus keluar untuk kemudian dirawat oleh keluarga atau diadopsi pada usia tiga tahun. Dan si kecil pun diadopsi, oleh sepasang guru. Mawar layu, sumber air kering. Para ibu harus berjuang lebih keras untuk bertahan.

Tahun-tahun berlalu, kesuksesan Harmony Choir sudah terdengar lebih luas hingga mereka diundang dalam acara Woman’s Choir Competition, sebagai bintang tamu. Pada kesempatan ini lah para napi menunjukkan prestasi mereka pada keluarga dan handai taulan yang diperbolehkan untuk diundang. Di ujung penampilan mereka di depan hal layak ramai, ada kejutan dari choir anak-anak yang naik ke panggung untuk bernyanyi bersama. Setiap anak kemudian menggandeng satu penyanyi. Dan di sana lah, Jeong-Hye kembali bertemu baby Min Woo yang kini sudah besar dan tak mengenali ibunya lagi. Momen pertemuan kembali yang sungguh membasahi kekeringan jiwa Jeong-Hye bertahun-tahun ini.

Sepulangnya dari acara tersebut, penjara diliputi aura bahagia, mawar merekah di tiap sudut sel. Hingga satu siang sipir Kong dan Bang mendatangi sel berisi lima wanita yang sudah menjadi keluarga ini. Tidak, alih-alih membawa berita baik lainnya, para sipir ini datang untuk menjemput pemimpin choir mereka, Moon Ok. Nenek berseragam cokelat yang akhirnya dapat melepas seragamnya tersebut dan dapat keluar dari penjara, untuk selamanya.

Jangan sedih, jangan depresi. Itu yang saya katakan setiap habis menonton film ini. Meski di awal film sudah dituliskan bahwa tokoh dan kisah dalam film ini sebagian nyata dan sebagian fiksi, tapi tetap saja terasa begitu nyata dan masuk akal buat saya. Itu yang saya yakini hingga saat ini.

Ini bukan film cewek, bukan film cowok, ini film untuk semua. Film that really kills. Itu sebabnya mengapa saya memilih film ini untuk ditonton dan kemudian sama-sama dibuat resensinya.

Korea; artis, produser, latar, penulis naskah dan semua krunya. Biar banyak orang merubah mind set mereka dan tidak menjadikan film Korea sebagai film kelas dua. Watch first and comment after.

Tissu, itu yang wajib disediakan sebelum menonton film ini. Jangan seperti saya, yang akhirnya harus mengganti baju karena terpaksa digunakan untuk mengerikan cairan yang keluar dari mata dan hidung.

Pesan moral? Padat. Tontonlah, lalu rekomendasikan lah jika merasa perlu menyebar pesannya.

Saran terakhir, jika ada acara penting yang harus dihadiri esok atau setelah nonton film ini, baiknya dimatikan saja dulu, cari waktu lain. Daripada harus datang dengan mata seperti habis jadi korban kekerasan dalam rumah tangga?

Harmony, nyanyian hati para napi.

Jumat, 22 Juli 2011

Rindu Merindu

Aku rindu sebuah tempat dimana kala hujan mengguyur, bau tanah basah tercium tajam. Aku rindu sebuah tempat dimana matahari terbit disambut kokok ayam. Ini tempat tak lagi sama. Rumahku yang dulu, telah sirna sejak gajah-gajah besi itu menginjak bumi kami. Mereka menggerus tanah dengan kasar, lalu gerombolan orang bersepatu bot mengotori lengannya dengan adonan berwarna putih. Setiap hari mereka berisik, tak pagi, tak siang, tak malam. Hujan petir tak membuat mereka urung bekerja. Katanya ini proyek kilat, mesti jadi mal dengan segera.

Sejak lurah yang baru berkuasa, ia ogah menjaga kedamaian desa. Kedatangan orang-orang pemerintah meluluhkan hati dan pikirannya demi uang yang banyak. Katanya, “Biar, biar kita maju, biar kita punya uang. Mau sampai kapan kita hidup seperti ini sedangkan dunia sana sudah banyak kemajuan?” Aku, dan segenap penduduk menyatakan iya, karena memang Pak Lurah ada benarnya. Pak Lurah pintar, sudah haji, sekolahnya tinggi, pasti ngerti.

Sekarang mal itu sudah berjalan lima tahun lamanya. Dulu usiaku dua puluh ketika awal mula orang kota mengubah apa-apa yang hijau jadi putih beton. Sekarang semua menjadi gemerlap megah, mal itu menarik banyak mobil dan motor parkir di halamannya. Kami sekeluarga diberi kompensasi berupa uang dan pembetonan rumah, sehingga selaras sewarna dengan mal. Agar katanya, cantik dan tidak mengganggu pemandangan. Belakangan kutahu betapa pernyataan itu menyakiti perasaan.

Jika kami tak kuasa lagi mengubah keadaan, maka yang tersisa tinggal kerinduan. Sungguh kerinduan adalah semacam pertemuan. Raga terlempar seolah pada keadaan dimana segalanya masih hijau. Kala langit masih bisa kau tanyai tentang bagaimana cuaca hari ini? Sekarang aku yakin langit di atas masih langit yang sama seperti dulu. Tapi langit tak bisa lagi memandangku, karena terhalang tembok-tembok yang menjulang. Kami tak lagi saling percaya seperti dulu.

Aku rindu sebuah tempat dimana kala hujan mengguyur, bau tanah basah tercium tajam. Aku rindu sebuah tempat dimana matahari terbit disambut kokok ayam. Aku rindu ketika gelap sunyi mendekatkan hati pada Ilahi.

Wish so hard for your coming

Ada tamu, yang rajin menyambangi para wanita setiap bulannya. Tamu yang mau tak mau mesti disambut karena kehadirannya sungguh tak mungkin tak dihiraukan. Kadang sebelum datang dikirimkannya tanda-tanda, hingga kami, wanita, bisa bersiap-siap. Persiapan macam apa?

Mental, itu yang utama. Karena si tamu, acapkali senang bermain dengan emosi dan suasana hati nyonya rumah. Tak jarang kehadirannya mampu membuat hati uring-uringan. Begini salah, begitu tambah salah. Seperti jatuh cinta, tanpa gelora. Apa lagi?

Jamuan, tak boleh kelupaan. Tak selayaknya tamu-tamu lain, tamu yang satu ini membutuhkan jamuan yang sama, itu-itu saja. Meski si tamu tetap membebaskan nyonya rumah untuk memilih jenis yang dia suka. Nyonya suka, si tamu tentu suka. Ada lagi?

Jamuan ekstra, berbeda dengan yang utama. Bagi sebagian wanita, si tamu dapat menimbulkan nyeri dan rasa sakit yang bukan kepalang. Tak jarang bahkan yang merasakan mual hingga seluruh isi perutnya berdemo dan memaksa keluar. Mengerikan, bukan?

Kalau begitu mengapa tetap dibiarkan datang? Sayangnya kehadirannya tak terhindarkan, sungguh. Dia akan tiba sesuai jadwal, bagi sebagian wanita si tamu bahkan bak kejutan yang bisa datang kapan saja, yang jelas dia tetap akan datang; mau tak mau, suka tak suka. Tapi, di pinggir pantai berpasir putih bahkan kadang ada pasir berwarna hitam, bukan? Tepat.

Adakalanya, sungguh tak biasa, si tamu tak akan kunjung tiba. Kadang sebulan, lebih dari sebulan, atau lebih lagi. Melegakan? Sugguh tidak. Karena tanpa keadaannya, ternyata, wanita dapat kehilangan keseimbangan baik ragawi maupun emotionally. Kok bisa? Bisa.

Sungguh gila si tamu ini, bukan? Datang menyiksa, tak datang siksanya luar biasa. Bak muntah yang tertahan di tenggorokan, kentut yang terikat di ujung lubang, pipis sulit yang membuat anyeng-anyengan, dan bak perjuangan membuat titik di akhir simbol-simbol yang kita buang di dalam jamban.

Maka datanglah hai tamu para wanita! Datanglah setiap bulannya. Jangan kau buat mereka semakin tersiksa, cukup datang saja.

Merindu

Pernah mendengar tentang bunker?

Betul, bangunan yang didesain sebagai tempat berlindung baik dari serangan bom ketika perang ataupun ketika terjadi bencana alam.

Saya ini sudah setahun lebih tinggal di dalam bunker. Bukan karena terpaksa, tapi murni pilihan sendiri. Bukan pula karena ada perang saudara atau bencana alam. Bukan, bukan itu.

Saya mengikuti tantangan lari dari kenyataan. Hidup di dalam bunker dengan sekitar tiga ratus orang lainnya dengan masa yang tidak dipastikan ketika tanda tangan kontrak.

Hidup kami terjamin, pasokan udara juga selalu ada. Bahan makanan jangan ditanya, berlimpah ruah.

Yang harus kami lakukan hanyalah melupakan kehidupan di atas sana.

Awalnya saya berpikir, bagus juga lah tak perlu bersusah payah kena kemacetan.

Apalagi di dalam kontrak, tidak ada larangan untuk menjalin kasih antar sesama penghuni bunker.

Alangkah indah hidup jadinya.

Sehari, seminggu, sebulan pun berlalu.

Masih terasa menyenangkan, pasokan listrik dan air bersih selalu tersedia.

Mengobrol ngalor-ngidul dengan teman baru tentang kehidupan mereka di atas sana.

Bulan berganti, rasa jenuh mulai menghantui.

Tembok seakan menghimpit tubuh ini. Terasa sesak. Susah bernapas, padahal tekanan udara masih normal sama seperti pertama kali kami tinggal di bunker ini.

Makanan serasa hambar di lidah, tidak menggugah selera.

Senyuman berganti dengan kernyitan.

Perbincangan berganti dengan kesunyian.

Seakan seluruh gairah hidup sudah terkuras habis.

Gairah untuk mencinta pun lenyap entah kemana.

Di kepala kami hanya terngiang-ngiang satu hal.

Menanti, menanti kapan kiranya pintu bunker terbuka kembali sehingga kami bisa merasakan silaunya matahari bukan hanya sekedar terangnya lampu neon seperti satu tahun belakangan ini.

Semangka

Suatu hari ketika aku terlelap, dan bermimpi tentang dunia. Dunia yang bukan bulat biru seperti biasanya. Tapi bulat hijau bergaris putih bak semangka. Lalu aku masuk ke dalam dunia yang merah warnanya. Kuinjak dataran yang lembek basah adanya. Mana yang lain? Dimana kehidupan? Lalu datang silih berganti para biji berwarna hitam. Mereka bisa bicara, “Paduka, manusia telah musnah. Mereka tak mampu hidup di dataran semangka.” Aku bingung, tapi harus berbicara, karena mereka satu-satunya yang bisa diajak bicara, “Mengapa mereka tinggal disini? Kemana dunia bernama bumi?”

Biji itu, hitam lonjong seperti biji semangka. Setiap mereka berbicara, ada katup kecil yang buka tutup seperti mulut. Mereka tak punya mata, “Semua ini terjadi dua ribu tahun lalu. Kala bumi sudah menjelang kehancuran karena ulah manusia yang serakah. Tuhan berbaik hati dengan memberi manusia dua pilihan. Satu, perbaiki bumi dengan kemampuan yang tersisa. Mulai dari yang sederhana: Tolong manusia, jangan buang sampah di sungai. Berhenti pakai plastik. Jangan lagi betoni tanah,” biji semangka itu tarik napas sejenak. Sekarang ganti temannya yang bicara, “Atau, pilihan kedua, pindahlah ke planet semangka. Terletak antara Venus dan Merkurius. Disana banyak air, manusia bisa mencoba.” “Lalu?” aku mulai penasaran. “Manusia, karena kemalasannya dan ambisi yang tak pernah selesai, penasaran dengan planet semangka. Mereka menciptakan kapal raksasa yang bermuatan milyaran orang. Dibangun lima puluh tahun lamanya.”

“Lantas hampir seluruh manusia di bumi melakukan eksodus besar-besaran. Hanya yang tua yang ditinggal, karena mereka enggan ikut. Mereka cinta bumi ini. Sedang yang muda naik kapal,” biji yang lain berbicara lagi, “Sampai di planet semangka, mereka mendarat selamat. Namun kala keluar dari kapal, semua hangus terbakar.” Suasana jadi mencekam. Aku bertanya, “Kenapa?” “Karena letak planet semangka tak jauh dari matahari, dan atmosfernya tak cukup tebal untuk melindungi diri dari radiasi. Manusia saking malasnya tinggal di bumi, tak memperhitungkan itu, bahkan para ahli sekalipun.” “Bumi makin tua makin melahirkan manusia yang enggan peduli alam semesta.” Biji yang lain melanjutkan kisah itu. Aku menghitung, mereka semua bersepuluh, “Lalu ada beberapa yang masih tinggal di pesawat, mereka ketakutan melihat rekannya terbakar di permukaan planet semangka. Mereka minta pilot untuk kembali ke bumi dan mereka semua janji untuk kembali memperbaiki bumi.” Aku menelan ludahku, “Lalu?” “Lalu mereka dengan terburu-buru kembali ke bumi, tapi bumi ternyata telah dikiamatkan Tuhan, bumi lenyap tanpa sisa dan terbang bersama debu angkasa.”

“Manusia dalam kapal semua mati dalam sepuluh tahun karena kehabisan makanan dan udara. Dengan demikian habislah manusia.” Aku terdiam sekaligus gelisah, “Jadi, jadi, aku kah manusia bumi yang tersisa? Apakah aku harus tinggal disini?” “Ya, paduka, tinggalah disini selamanya. Sebentar lagi Tuhan akan menurunkan hawa dari kaum mu, dan berkembangbiaklah di planet semangka. Atmosfer akan dibuatkan segera untuk mencegah radiasi.” “Tidak, tidak, aku tidak mau. Aku mau kembali ke bumi. Aku janji memperbaikinya seorang diri!” “Tak mungkin, paduka, planet bumi telah tiada.”

Aku menjerit sekencang-kencangnya. Mendapati diri di tempat tidur dengan keringat berpeluh. Fyuh, cuma mimpi. Aku turun ke dapur, membuka kulkas, dan berteriak terkejut melihat semangka.

Semangka

Jika saja ada yang bertanya dengan siapa kuhabiskan malamku, semangka jawabannya.

Bertahun-tahun tinggal sendiri baru kali ini kutahu rasanya sepi.

Tiba-tiba ingin tahu rasanya ada seseorang di atap yang sama.

Tetap sesepi ini kah? Entahlah.

Jika saja ada yang penasaran apa yang kulumat sedari tadi, semangka jawabannya.

Bagian terburuk dari tinggal sendiri adalah makan malam.

Tak ada wajah di depanmu, tak ada berbagi cerita, semua ditelan sendiri saja.

Kuputar kembali hariku sambil melumat ini saja, semangka.

Jika kau mau tahu mengapa tak berhenti ku memakannya, semangka.

Kusuka, jawabnya.

Beli satu, luar biasa kenyang ku dibuatnya.

Kembung sih lebih tepatnya.

Jika kau sudah bosan membaca tulisanku ini, aku apa namanya.

Bahkan menulis bisa jadi luar biasa membosankan ternyata.

Tanpa ada siapa-siapa untuk dibacakan sesudahnya.

Oh, semangka.

Cuma ada dia sekarang.

Baiklah, kubagi cerita ini denganmu saja.

Tak perlu kubacakan sepertinya kau bisa tahu ceritaku, duhai semangka.

Di gua mulutku kau berada, antara kepala dan tangan yang sedari tadi bercerita.

Hmm,,, pasti lah kau bisa mendengar kata-kata yang dari atas turun ke dada lalu kulempar melalui jari-jemari yang sedari tadi sibuk kesana kemari di atas papan laptop ini.

Tak perlu kau ikut berkomentar teman merahku, cukup dengarkan saja, jangan buatku tersedak dengan komentarmu.

Aku hanya butuh teman malam ini.

Itu saja.

Putri Semangka, Nona Nanas dan Dewi Melon

“Sammy, kau terlihat menawan sekali malam ini dengan tema merah menyala. Aw silau,” Nona Nanas yang memang bertabiat ceria menyemarakan suasana.

“dan tanpa bercak hitam. Luar biasa”.

“Ya dong Nancy. Mau pesta gitu loh. Biar gak kalah eksis sama kamu,” jawab Putri Semangka dengan menggamit tangan Nona Nanas agar lebih merapat ke dirinya.

“Ngapain nempel-nempel sih?” Nona Nanas merasa terganggu dengan kelakuan Putri Semangka.

“Kalau aku deket-deket yang standar, kayak kamu, aku kan jadi lebih terlihat menonjol,” jawab Putri Semangka polos dan senyum pun mengembang di wajahnya.

“Sialan lo. Biar standar begini, di tiap pesta pasti ngundang gw. Kalo gak ada gw, gk bakalan rame tuh pesta,” sanggah Nona Nanas tak mau kalah.

“Kita merapat ke tengah yuk!” ajak Putri Semangka.

Dan mereka berdua berjalan perlahan-lahan dengan mengangkat ujung gaun yang mereka pakai agar tidak terpeleset lantai kaca. Mengarah langsung ke tengah, siap untuk menjadi pusat perhatian. Tersenyum penuh percaya diri sambil melihat ke sekitar, menerka-nerka berapa harga sepatu yang dikenakan si ini, lipstik merek apa yang dipakai si anu, tas tangan manik-manik keluaran desainer siapa yang dipakai si itu.

Sampai juga akhirnya mereka ke tempat yang mereka inginkan. Disana ia berjumpa dengan Dewi Melon yang tak kalah jelita dengan kesegarannya.

”Melly! Sudah dari tadi datang? Kok baru keliatan?” Nona Nanas memulai perannya untuk mencairkan suasana.

“Saya sudah dari tadi. Seperti biasa, saya langsung menuju posisi tengah, tidak terbiasa di daerah pinggiran soalnya,” jawab Dewi Melon sombong. Sedari dulu ia memang selalu angkuh karena terlahir di California.

Putri Semangka dan Nona Nanas tersenyum masam mendengar jawaban itu, namun karena sudah kenal betul dengan watak teman mereka yang satu ini, ketiga sahabat itu larut dalam percakapan dari yang tidak penting samapai ke percakapan yang sama sekali tidak penting.

Sementara mereka sibuk berbincang, dari atas terdengar suara-suara merdu.

“Nasto, ambil pudingnya yang banyak ya! Semua warna! Gw doyan”.

“Oke oke. Lo ambil buahnya gak usah banyak-banyak. Gw udah kekenyangan. Abis kita makan ini, kita pamit ke Boiq ya bow. Udah malem ini”.

”Oki doki”.

Bandung

Bandung, kau belum kunjung penuh. Kertasmu masih selalu punya putih untuk ditulisi. Adakah sudut kota Bandung yang belum dikunjungi? Hampir saja kubilang tidak, sebelum kemarin ada lima orang datang menunjukkan sudut gelap yang belum sempat kuterangi. Mereka itu, Dega, Anast, Dian, Dewi, dan Karin. Datang dari Jakarta, mereka hadir untuk berlibur melepas penat ibukota. Namun baiknya mereka, tak cuma penat dirinya yang dibuang, ia ajak aku untuk menyegarkan diri juga. Pertama-tama adalah Ciater, sebuah tempat pemandian yang ah, biasa-biasa saja. Air hangat, belerang, pegunungan, hal yang tak terlalu aneh dan aku pernah mengalaminya beberapa kali meski sudah lama. Namun ada yang baru, menakjubkan, dan sudah lama kusadari bagian ini begitu gelap sebelum mereka terangi. Yaitu, jalan-jalan, tanjakan, dan jalur menuju tempat itu sendiri. Tadinya aku tak paham, tak jelas, dan tak punya pengetahuan apa-apa tentang apa saja yang mampu dilihat sepanjang perjalanan kesana.

Hari kedua adalah sebuah tempat kebudayaan di Bandung Timur. Namanya Saung Mang Udjo. Ini tempat yang, terakhir aku kesini waktu SD. Sudah lama dan tidak ingat apa-apa saja yang terjadi. Yang aku tahu cuma tempat itu banyak angklung. Lalu aku datang lagi, merasakan kembali dan menerangi wewangian bambu yang amat kuat menusuk hidung. Duduk di salah satu sudut ruang pertunjukkan, segalanya kembali terang, lagi-lagi oleh senter yang kelima orang itu bawa. Pertunjukkan pertama itu wayang yang membuatku menitikkan air mata. Betapa manusia diciptakan sedemikian kayanya, sehingga mampu terepresentasikan pada sekian banyak tokoh wayang. Masing-masing tokoh mewakili sifat manusia yang amat subtil dan esensial. Lalu sesi angklung, gamelan, arumba, melemparkanku pada kelampauan. Pada masa ketika semuanya masih luhur, manusia ini masih sejati adanya. Alam adalah sahabat, cuaca adalah kawan curhat. Sesungguhnya manusia dan alam pernah berkawan baik, sebelum traktor memutus silaturahminya. Dan menjadikan manusia dan alam menjadi canggung untuk tegur sapa sekalipun.

Sampai di rumah, walau masih di terasnya saja.

Namanya Dian, Dyence biasa kupanggil. Kali pertama ke Saung Mang Udjo, ya Sabtu kemarin. Sudah lama inginku mengajaknya kesana, akhirnya tercapai juga. Sungguh tergila-gila katanya. Iya, aku tahu. Wajahmu tak kuasa menahan kagum sore itu. Wayang golek, gamelan, tari adik-adik cilik hingga para neng geulis yang bergoyang sensual dalam jaipong, angklung pemula, senior, hingga belajar bernyanyi, berangklung dan menari bersama. Oh, sungguh ramai kau rasa! Tak banyak bibirmu bercerita sesudahnya, cukup binar matamu saja kurasa. Dan statusmu hari itu, love saung mang udjo so much! Lebay? Ah, tidak!

Yang ini Dewi, bukan shopaholic. Sudah lama berpesan ingin membeli cardigan-cardigan yang sering kupakai. Di Bandung, kubilang. Iya, kapan-kapan yah, jawabnya. Dan disana lah dia, aku juga. Di Factory Outlet terkenal di jalan Riau, ada dua yang paling besar. Akhirnya terbeli juga, ujarnya senang. Iya, beli, setelah bimbang berkali-kali di tengah berbagai pilihan model dan harga yang ada. Oh Dewi, apakah kau bahagia? Iya, katanya. Satu hal yang kita tahu pria tak bisa pahami, bukan? This is what we call girl’s thing, baby!

Anastasia Khairunnisa, panggil saja Nasto atau Bananastasia. Kalau lihat posturnya, kau pasti lah tahu apa yang dia suka. Makan. Tenang Nasto, kita punya kesukaan yang sama sekarang! Berangkat dari teori bahwa anak Indonesia cerdas berkat MSG, giat sekali dia menjilat ramuan enak nan menghauskan itu dari jarinya. Kenapa makanan di Bandung enak semua ya, Gul? Katanya. Yang di restoran, jalanan, mahal, murah meriah, enak semua! Yang ini setuju saya. Jangan salahkan jika kami menggelembung di Bandung, omelin saja mang-mang yang terlalu serius berjualan makanan!

Satu lagi Karien, dia lah yang membuat kami semua terdampar di Bandung selama empat hari. Tak jelas mau apa, cuma mau jalan-jalan saja. Makan jajan? Oke! Hunting dress di FO? Oke! Bersuka ria di saung mang udjo? Dengan senang hati! Semuanya menyenangkan untuknya, tapi tak lebih menyenangkan dari berputar-putar di jalan saja. Kita muter-muter aja, gapapa. Asik begini, nyasar di jalan yang bener-bener gak dikenal. Sounds so easy, mengingat jalanan di Bandung yang banyak satu arah, Neng!

Kalau saya, Dega. Ke Bandung rasanya seperti pulang ke rumah saja. Tapi bukan berarti saya betah jika tinggal di rumah saja ya. Pasti membosankan itu rasanya. Saya suka duduk di mobil muter-muter di jalan raya, singgah jajan di tempat yang banyak makanan enaknya, kalau tak keberatan bolehlah traktir satu atau dua baju di FO langganan saya, isi batin saya dengan pagelaran musik yang mudah didapat di sini, belum lengkap jika belum masuk ke mutiara, toko peralatan rumah tangga. Oh, semuanya saya suka, dengan masing-masing porsinya. Sepertinya saya sudah sampai di rumah, walau masih di terasnya saja.

Bandung, I’m in love

“Gw akan tinggal di Bandung setelah gw nikah,” itu pernyataan Dega, kawan saya.

Hah! Bagaimana bisa lo tinggalin semua yang di Jakarta dan pindah ke sana?

Itu yang ada di kepala saya ketika dia bilang begitu.

Kali lain dia bilang dengan ekspresi seakan lebih baik mati saja,

“Gw sudah tidak tahan tinggal di Jakarta”.

Terheran-heran lah saya, bagaimana bisa itu terjadi pada seorang Dega.?

Dia yang selalu yakin menapak di kedua kakinya sendiri, kini memohon untuk segera hengkang ke Bandung.

Pasti ini karena Syarif, si jejaka asal Bandung, kekasih Dega.

Dicuci otak dengan detergen merk apa sampai Dega menjadi seperti ini?

Liburan akhir pekan lalu di Bandung, saya mencoba mencari tahu apa istimewanya kota ini hingga membuat kawan saya jatuh hati.

Mengesampingkan berbagai prasangka, melihat dengan lebih seksama.

Pengamatan dimulai dari yang kasat mata: lalu lintas. Kalau di Jakarta dibuat pusing karena kemacetan, di Bandung dibuat pusing karena jalan satu arahnya. Hampir tidak mendengar klakson berbunyi, kalaupun ada ketika dilihat ternyata kendaraan ber-plat B. Kami juga bisa jalan dengan santai di trotoar, meski tanpa bergandengan tangan dengan kekasih. Hehehe

Berbelanja di pasar kaget yang dipenuhi orang pun tak perlu merasa was-was akan adanya copet. Bukannya tidak ada, tapi sepertinya pencopet pun akan permisi sebelum mengambil dompet kita atau malah memintanya dengan tersenyum ramah. Terdengar konyol? Tapi memang begitu yang terasa ketika menyusuri jalan di Bandung.

Makanan? Jangan ditanya. Semua enak, enak semua. Brownies, klapertart, risol, batagor, siomay, nasi goreng, keripik. Bertambah berat badan pun tak mengapa.

Hal lain yang mengusik saya, sepertinya orang Bandung tahu persis apa yang mereka lakukan, bukan sekedar ikut-ikutan, bukan seperti berenang-renang di tepian, melainkan mereka menyelam ke dasar lautan. Kenapa banyak musisi Indonesia dari Bandung? Karena Bandung menghargai karya seni, tak seperti Jakarta yang hanya menjadikannya industri. Anak alay pun berani berekspresi, lihat saja itu Shinta dan Jojo yang kini dijadikan produk industri. Video syur pertama yang menghebohkan pun asalnya ya dari Bandung, baru kemudian daerah lain sibuk membuat video tandingannya, maklum mereka tidak kreatif jadi hanya bisa meniru.

Soal gaya hidup? Tante, biasa kami panggil Ibunda Syarif, memilih memanggil pelatih yoga ke rumah untuk olahraga yoga. Kalau di Jakarta, para ibu berbondong ke fitnes center dengan tak lupa memakai pakaian senam model terbaru. Peduli amat beneran ikutan olahraga atau hanya sekedar cuci mata. Peduli amat beneran ikutan olahraga atau hanya sekedar cuci mata.

Alih-alih menyewa tempat di mal, rumah pun disulap menjadi tempat nongkrong. Suasananya lebih menyenangkan dan tidak bising dengan musik yang bersahut-sahutan. Semoga Walikota Bandung terketuk hatinya untuk berhenti membangun gedung-gedung tinggi. Tak perlu seperti Jakarta. Cukup seperti itu saja, Bandung orisinil bukan Bandung KW super.

Wahdega,

jika memang kehidupan seperti itu yang sanggup ditawarkan Bandung padamu,

saya juga rela...

Ariel

“Vonis telah diputuskan. Nazriel Irham dihukum seumur hidup.” Demikianlah kata hakim, kata media, kata polisi, dan kata para pengguna twitter. Jagat dunia maya maupun nyata heboh semua. Katanya, “Kok bisa, sampai seumur hidup gitu hukumannya?” Namun memang demikian kenyataannya. Setahun setelah Ariel Peterpan terungkap video pornonya bersama Luna Maya dan Cut Tari, vonis hakim akhirnya memutuskan ia dihukum seumur hidup. Konferensi pers tidak pernah digubris olehnya, pengacaranya sering bilang, “Memang mekanisme hukum seperti itu, semoga ia bisa mendapat grasi nantinya jika berkelakuan baik.”

Ariel, sedang muram ia. Kelihatannya. Namun siapa yang tahu apa yang dibalik benaknya? Sesungguhnya ia lumayan merasa getir, namun jua lega. Dengan vonis ini, sesungguhnya nyawanya selamat, dari penjara sesungguhnya di luar sana. Penjara yang mungkin membunuhnya. Di penjara yang akan diami nanti, cuma gembok dan terali saja yang ia khawatirkan. Untuk bebas melenggang sesekali, ia bisa suap sipir penjaga beberapa ratus ribu rupiah saja.

Iya, ada seorang mafia gila, begitu pengakuan Ariel secara pribadi dalam hatinya. Mafia itu, adalah pemilik Cut Tari sesungguhnya. Sungguh bodoh suami Cut Tari, ia mau tetap bersama wanita yang mau bercinta denganku, juga menjadi simpanan bagi psikopat kaya. Mafia gila itu, mengancam berulang-ulang, akan membunuhku pelan-pelan. Dia tersinggung, Cut Tari aku cumbui barang sekali dua kali. Demikian mengapa aku begitu betah berada di penjara, yang begitu nyaman ketimbang teror di sana yang siap menghabisiku kapan saja. Aku membayar mahal untuk penjara, bukan untuk kebebasan. Di penjara, aku dilindungi polisi tanpa usah bayar sebanyak jika aku dilindungi polisi kala bebas melenggang.

Demikian Ariel menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Keluar di hari tertentu, satu kali setiap minggunya untuk bertemu kekasih yang tinggal satu-satunya, yaitu Luna Maya. Ia keluar dikawal, menggunakan wig dan kacamata agar tak dikenal. Sesekali ia gunakan jua untuk bercengkrama bersama keluarga. Dan kemudian sebelum matahari terbit ia pasti telah berada di balik terali tempat ia terbebas dari ancaman para mafia yang gatal lagi brutal. Di balik terali penjara, tersimpan tubuh Ariel yang terbelenggu. Di balik terali tubuh Ariel yang terbelenggu, terdapat jiwa yang bebas.

Temu kangen (akhirnya)

“Sayang, handukku yang putih ini ya?”

“Iya, iya.”

Kreeettt, pintu kaca kamar mandi terbuka. Seorang pria berdada bidang keluar. Sambil menggosok rambut basahnya, tatapan terhenti pada wanita di ranjang.

”Ow, baru ya?”

”Yup! Special for today,” jawab si wanita bermata besar sambil mengerling manja.

“Aaauuummm…”

Sang pria mengaum sambil menirukan macan kala siap menerkam.

“You too, baby?”

“Aha, for our special day,” ujar wanita lainnya yang sedari tadi duduk manis di jendela, menatap ke bawah sana; dikaguminya taman dengan bunga-bunga terawat indah yang membingkai air mancur.

“Hahahahahhahaaa… My girls!”

Tawa membahana, dua wanita, satu pria.

Kala itu sudah pagi, sekitar jam dua. Tirai putih bermotif ranting kering menari kedinginan oleh hembusan angin dan kaca-kaca pun mulai buram berembun. Di ranjang berukuran raja terbaringlah tiga insan yang sedang berbahagia setelah melepas rindu. Rindu serindu-rindunya setelah dua tahun berpisah. Dua tahun yang terasa sungguh menyiksa bagi ketiganya. Masa-masa yang kini dengan mudahnya mereka lupa.

”Hhhhmm...”

Sang pria terlihat terjaga, matanya membuka ditengah empat mata lainnya yang sudah menutup damai. Ditatapnya televisi yang menayangkan salah satu konser band asing favoritnya, Guns ’n Roses. That’s a rock star! Ujarnya dalam hati. Beringas dan ganas. Well that’s me. Pemandangan panggung besar dengan penonton jutaan membawanya kepada kenangan kala dirinya nyaris setiap hari berdiri dari satu panggung ke panggung lain. Betapa dia merindukannya. Segera, batinnya. Tiba-tiba saja perjalanan kenangan lompat ke hari saat dia mendapatkan kembali kebebasannya, “Tenang, semua sudah beres,” ujar ahli hukum yang membelanya selama dua tahun belakangan. Para ahli yang bayarannya sangat menguras tabungannya, juga kekasihnya. “Kok bisa, Bang?” tanyanya penasaran. “Si habib akhirnya mau terima amplop kita, massanya gak akan diturunkan lagi janjinya.” Alhamdulillah.. “Kok akhirnya mereka mau juga, Bang?” tanyanya pensaran. “Itu dia, setelah kita naikkan empat kali lipat baru mereka gubris. Memang sialan tuh pada!” Terserah lah bagaimana caranya, akhirnya aku bisa menghirup udara kebebasan lagi.

“Si om-mu bagaimana akhirnya, babe?” Perjalanan kenangannya terbang ke adegan beberapa jam lalu, di ranjang tempat dia berbaring sekarang.

“Iya, gimana tuh akhirnya? Kita beneran sudah aman?”

“Iya, kalian tenang aja. Suamiku sudah membungkamnya.”

”Kok bisa?”

”Iya, kok bisa?”

”Si mas menawarkannya proyek besar di Papua. Setelah teror-teror yang tak habis-habinyas kami terima, akhirnya dia mau menunjukkan batang hidungnya.”

”Kalian sudah ketemu lagi?”

”Iya, kami bertiga.”

”Lalu?”

”Ya dia tanya penawaran apa yang bisa kami kasih. Si mas paparkan semua, dia tertarik, perjanjian langsung dibuat saat itu juga.”

”Saat itu juga?”

”Iya.”

”And here I am. Thanks to my dear husband.”

“To your dear husband!” Si pria mengangkat gelas berkakinya.

“Ya, to your beloved husband!” Wanita bermata besar turut mengangkat gelasnya.

“To the best husband in the world!”

Dan tersenyum penuh makna, ketiganya.

“Does he, your husband, know that you are here, today?” Wanita yang masih berstatus single itu mengemukakan rasa penasarannya.

“That I’m in your house?”

“Yup!”

“Should he?” jawabnya nakal.

“Hahahahahaaa….”

Tawa bahagia ketiganya membahana, diselimuti kecupan manja si pria pada kedua wanitanya. Wanita-wanita yang telah membuktikan padanya apa arti setia.